Ditopang Sentimen Domestik dan Global, IHSG BEI Ditutup Menguat

by
Bursa Efek Indonesia. Foto. Bisnis.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Perdagangan saham mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore, 8 Januari 2026, ditutup menguat. Penguatan ini ditopang oleh sentimen dari domestik maupun global. IHSG ditutup menguat 11,28 atau 0,13 persen ke posisi 8.936,75.

Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 0,40 poin atau 0,05 persen ke posisi 868,02.

“Sentimen eksternal dan internal menopang laju IHSG,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Bank Indonesia melaporkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2025 berada di level 123,5, yang menunjukkan optimisme pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi domestik dan indikasi positif peran kebijakan fiskal pemerintah dalam mendukung ekonomi domestik.

Data bursa menunjukkan, dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Indeks Sektoral IDX-IC mencatat, sembilan sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang konsumen non primer yang naik sebesar 3,30 persen, diikuti oleh sektor barang baku dan sektor properti yang naik masing-masing sebesar 2,38 persen dan 2,18 persen.

Untuk dua sektor melemah yaitu sektor infrastruktur turun paling dalam sebesar 1,40 persen, diikuti oleh sektor keuangan yang turun sebesar 1,07 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu KOCI, HILL, APLN, PPRE dan MINA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni OPMS, CRSN, SMLE, ISMKM dan MBSS.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3,468.511 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 57,02 miliar lembar saham senilai Rp27,45 triliun. Sebanyak 359 saham naik, 318 saham menurun, dan 137 tidak bergerak nilainya.

Bursa regional kawasan Asia bergerak menguat yang dilatarbelakangi oleh respon pelaku pasar terkait sentimen membaiknya pengeluaran rumah tangga Jepang yang secara tidak terduga meningkat pada November 2025.

Biro Statistik China merilis inflasi bulan Desember 2025 secara tahunan di level 0,8 persen dan secara bulanan level 0,2 persen, atau berbalik arah dari penurunan 0,1 persen pada bulan sebelumnya. Ini menunjukkan adanya perbaikan daya beli masyarakat seiring dengan pemulihan permintaan domestik. (Osc)