BERITABUANA.CO, JAKARTA – Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah mengaku sangat menyayangkan beredarnya video/konten yang memuat narasi tidak benar dan mendiskreditkan institusi TNI, terkait prajurit TNI bersenjata laras panjang membubarkan iring-iringan massa yang hendak mengantar bantuan ke Aceh Tamiang di Lhokseumawe lantaran mengibarkan bendera bulan bintang.
“Informasi tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan dan berpotensi menyesatkan publik,” ujar Freddy dalam keterangannya, Jumat (26/12).
Freddy menjelaskan bahwa peristiwa itu bermula pada 25 Desember 2025 pagi, berlanjut hingga 26 Desember dini hari di Kota Lhokseumawe.
Mulanya, cerita Freddy, ada sekelompok masyarakat berkumpul, konvoi dan melaksanakan aksi demo, dan sebagian mengibarkan bendera bulan bintang yang identik dengan simbol GAM, disertai teriakan yang berpotensi memancing reaksi publik serta mengganggu ketertiban umum, khususnya di tengah upaya pemulihan Aceh pascabencana.
Freddy menyebut pelarangan pengibaran bendera bulan bintang lantaran simbol itu diidentikkan dengan gerakan separatis, sebagaimana diatur dalam Pasal 106 dan 107 KUHP, Pasal 24 huruf a, UU No. 24 Tahun 2009, serta PP No. 77 Tahun 2007.
Setelahnya, Danrem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Ali Imran pun menerima laporan dan segera berkoordinasi dengan Polres Lhokseumawe dan bersama personel Korem 011/LW serta Kodim 0103/Aceh Utara mendatangi lokasi.
Freddy menyebut dalam tindakannya itu, aparat TNI-Polri mengutamakan langkah persuasif dengan mengimbau agar aksi dihentikan dan bendera diserahkan.
Namun, imbauan itu tidak diindahkan, aparat pun melakukan pembubaran dengan mengamankan bendera guna mencegah eskalasi situasi.
“Dalam proses tersebut terjadi adu mulut, dan saat pemeriksaan terhadap salah satu orang dalam kelompok ditemukan 1 pucuk senjata api jenis Colt M1911 beserta amunisi, magazen, dan senjata tajam,” ujarnya.
Freddy menyebut setelahnya, orang itu pun diserahkan kepada pihak Kepolisian untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.
“Korlap aksi demo menyatakan bahwa kejadian tersebut hanya selisih paham dan sepakat berdamai dengan aparat. TNI menghimbau agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya,” ucap dia. (Ram)







