BERITABUANA.CO, JAKARTA – Wakil Ketua Komisi VII Evita Nursanty mengingatkan agar Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus berupaya meningkatkan laju pengembangan sektor pariwisata di Indonesia.
Pasalnya, pengembangan sektor pariwisata nasional masih kalah, dibandingkan dengan negara tetangga di kawasan asia.
“Dari paparan (Menteri Pariwisata, .red) juga adanya peningkatan kinerja pariwisata 2025. Walaupun, laju perkembangan dari pariwisata kita itu masih kalah dengan negara tetangga kita, yaitu Thailand, Vietnam, dan Malaysia,” kata Evita dalam rapat kerja (raker) dengan Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana di kompleks parlemen, senayan, Senin (17/11/2025).
Menurut Evita, peningkatan pengembangan pariwisata memiliki tantangan nyata. Ia mengambil contoh dari negara tetangga, seperti di Thailand yang sudah menuntaskan digitalisasi di sektor pariwisata dengan dashboard real-time mengenai dampak ekonomi yang dirasakan.
“Semuanya itu real-time. Dia punya platform yang kita harus miliki. Real-time jumlah wisatawan yang datang. Real-time waktu tinggal dari wisatawan itu. Real-time spender-nya itu berapa. Kita juga mesti punya itu,” bebernya.
Platform dashboard itu, sambungnya, dapat mengemukakan data yang otomatis diperbarui. Evita juga menjelaskan bahwa perangkat tersebut dapat menjadi sarana transparansi dan bisa memperkirakan kontribusi perekonomian melalui pariwisata yang berdampak langsung terhadap UMKM dan ekonomi kreatif.
“Nah itu transparan. Bapak bisa buka dashboard-nya Thailand, saya udah buka. Dashboard-nya Thailand, dashboard-nya Vietnam, itu kita bisa lihat semua,” ucapnya.
“Sampai kontribusinya terhadap perekonomian itu berapa besar, bisa terlihat. Kita bisa lihat juga kontribusi dari pengembangan pariwisata ini terhadap UMKM dan ekonomi kreatif itu berapa besar,” tambah politikus dari Fraksi PDI Perjuangan ini.
Evita juga menyoroti perkembangan 4.000 desa wisata yang harus mengedepankan kualitas daripada kuantitas yang saat ini digalakkan.
Menurutnya, kualitas itu bersandar kepada community-based development yang kaya akan perkembangan desa menjadi tempat menarik untuk dikunjungi, diantaranya, para pelancong bisa menanyakan sejarah, dan beraktivitas lebih kreatif, dan fasilitas penunjang di desa.
“Sekarang ini, saya justru mau tanya, apa yang dilakukan oleh Kemenpar untuk meningkatkan kualitas daripada desa-desa wisata yang ada,” tanyanya.
Sementara itu, dari posisi UMKM, kata Evita, Kemenpar dapat mendorong pelatihan membuat produk fesyen, terutama menyulam batik.
“Pelatihan-pelatihan itu dapat menunjang daya jual desa wisata, dan memperkenalkan budaya batik kepada wisatawan asing,” pungkasnya. (Jal)







