Fahri Hamzah Dapat Kabar dari Utusan SF, Kalau Rutan Pondok Bambu Dilanda Corona

by
Waketum DPN Partai Gelora, Fahri Hamzah. (Foto: Istimewa)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Wakil Ketua Umum DPN Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah baru saja mendapat kabar kalau rumah tahanan (Rutan) Pondok Bambu, Jakarta Timur, dilanda wabah virus corona atau Covid-19. Bahkan, banyak warga binaan yang terjangkit virus asal Kota Wuhan, Tiongkok tersebut.

“Kabar ini saya dapat dari utusan Ibu Siti Fadila Supari (mantan Menkes),” tulis Fahri yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019 melalui akun twitternya @Fahrihamzah, Senin (18/5/2020).

Bahkan dari kabar tersebut, lanjut Fahri, ada sekitar 50-an orang warga binaan yang terinfeksi corona yang sebagian besar dirujuk ke Wisma Atlet. Penghuni yang lebih dari 60 tahun di rumahkan, tapi Siti Fadila yang berusia 71 tahun tidak dirumahkan.

#harike25
Kabar dr utusan Ibu:
Di rutan dilanda corona , banyak sekali napi yg terkena. Mngkin ada 50 org sebagian besar di rujuk ke wisma atlet. Penghuni napi yg lebih dari 60 th di rumah kan tapi ibu SF umur 71 th tdk di rumahkan. Diskriminasi apa ini? #BebaskanSitiFadilah.

Masih segar dalam ingatan kita bersama, pada 2005 dunia kesehatan Indonesia gempar, karena muncul penyakit baru, Flu Burung namanya. Sedangkan Dokter Siti Fadilah Supari, baru sekitar setahun menjabat Menteri Kesehatan, tentu saja merasa terpukul.

Namun jiwa hasrat dan passion-nya yang sejatinya merupakan seorang peneliti, rasa penasaran untuk mengungkap apa yang sesungguhnya terjadi di balik penyebaran Flu Burung, jauh lebih kuat daripada rasa gusarnya. Apalagi sebelumnya pada 2004, Flu Burung juga menerjang Vietnam, Thailand dan Cina.

Namun bagi Supari, munculnya Flu Burung, telah menyadarkan dirinya, ada sesuatu yang tidak beres dalam tata kelola kesehatan yang ditangani oleh WHO.

Bermula di saat Supari galau bagaimana mengatasi penyebaran virus Flu Burung yang begitu cepat, tiba-tiba berdatanganlah para pedagang farmasi menawarkan apa yang dinamakan rapid diagnostic test yang sumbernya berdasarkan virus strain Vietnam. Dan ini yang kemudian memancing kecurigaan Supari, para pedagang tersebut juga menawarkan vaksin untuk menyembuhkan Flu Burung. Yang tentunya sumbernya juga berasal dari virus strain Vietnam.

Buat Supari ini hanya berarti satu hal: Adanya ketidakadilan dalam penanganan masalah kesehatan di dunia internasional, dan biang keroknya adalah World Health Organization alias WHO. Betapa tidak. WHO selama hampir 50 tahun, memberlakukan ketentuan apabila ada penduduk yang menderita penyakit Influenza , lalu kemudian meninggal, maka virus dari penderita tersebut sampelnya diambil dan dikirim ke WHO CC (WHO Collaborating Center), untuk dibuat seed virus. Dari seed virus inilah kemudian digunakan untuk membuat vaksin.

Dan ironisnya, pembuat vaksin adalah perusahaan yang ada di negara-negara industri maju, negara-negara kaya yang tidak punya kasu Flu Burung pada manusia. Tragisnya lagi, vaksin itu kemudian dijual ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Maka melalui tragedi Flu Burung ini, kesadaran baru muncul pada benak Supari.

Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Kesehatan, Supari mulai mengambil kebijakan melarang pengiriman virus Influenza kepada WHO. Karena Supari menaruh kecurigaan terhadap skema GISN(Global Influenza Surveilance Network) yang dijadikan dalih WHO untuk memaksa semua negara anggota WHO untuk mengirim viru influenza kepada organisasi kesehatan dunia tersebut.

Masak iya, 110 negara di dunia yang mempunyai kasus influenza biasa (seasonal flu) harus mengirimkan specimen virus secara sukarela, tanpa protes sama sekali. Betapa tidak. Virus yang diterima GISN sebagai wild virus menjadi milik GISN. Dan kemudian diproses untuk risk assessment dan riset para pakar. Disamping itu juga diproses menjadi seed virus. Dan dari seed virus dapat dibuat suatu vaksin, di mana setelah menjadi vaksin, didistribusikan ke seluruh dunia secara komersial. Alangkah tidak adilnya, begitu menurut yang ada di benak pikiran wanita kelahiran Solo, Jawa Tengah tersebut. (Kds)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *