Rahmad Gobel: Tingkatkan Koordinasi dan Siapkan Antisipasi Penyebaran COVID-19

by
Wakil Ketua DPR RI (Korinbang), Rahmad Gobel)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Wakil Ketua DPR RI Koordinator bidang Industri dan Perdagangan (Korinbang), Rachmat Gobel menyatakan keprihatinannya atas perkembangan jumlah penderita positif terinfeksi virus corona atau COVID-19, yang terus meningkat. Bahkan, berdasarkan laporan Jubir Penanganan Bencana COVID-19, Juri Achmad Yurianto, sampai Selasa siang (17/3/2020) kemarin, jumlah masyarakat yang positif terinfeksi virus ini sudah mencapai 172 kasus.

“Ini berarti dalam dua hari terakhir terjadi lonjakan 55 kasus, karena Minggu Siang (15/7/2020) Yurianto mengumumkan jumlah masyarakat yang positif mengidap virus corona baru mencapai 117 kasus,” kata Rahmad Gobel melalui siaran persnya, Rabu (18/3/2020).

Berdasarkan laporan tersebut, jumlah korban meninggal masih tetap sama yaitu 5 orang, dan 9 orang telah dinyatakan sembuh. Sementara itu, dari update di seluruh dunia, sampai Selasa (17/3/2020) pukul 10.10 WIB, angka infeksi COVID-19 sudah mencapai 182.605 orang di 162 negara.

Menurut Gobel, apa yang dilakukan pemerintah saat ini maksimal, sangat serius dan berusaha terus memperbaiki sistem, komunikasi, dan proses penanganan medis oleh tim medis yang luar biasa.

“Saya melihat upaya yang dilakukan Peresiden Joko Widodo (Jokowi) menekan penyebaran virus juga terus diperbaiki,” kata politisi Partai NasDem itu sambil menambahkan bahwa pihaknya memberikan beberapa catatan buat pemerintah untuk dijadikan pelajaran di masa mendatang, jika kembali terulang adanya pandemi.

Jujur harus diakui, dirinya melihat kalau penanganan yang sekarang memang terlihat agak gagap, karena kalah cepat dengan kemunculan penderita positif COVID-19 itu sendiri. Bahkan, pemerintah kurang cepat mempersiapkan mitigasi bencana penanganan penyebaran virus corona.

Ia melihat, langkah mitigasi juga belum maksimal ketika Presiden Jokowi mengumumkan, begitu mulai terjadi proses penularan dua warga, Senin (2/3/2020). Penyebaran itu terasa cepat hingga pihak Istana Negara mengumumkan, Sabtu 14 Maret, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dinyatakan positif corona.

“Seharusnya, sejak awal ada penularan virus korona di China pada Desember 2019, dan menyebar ke beberapa negara secara cepat, Indonesia sudah mempersiapkan langkah-langkah antisipasi. Pemerintah seharusnya melakukan dan mempelajari proses mitigasi yang dilakukan oleh negara seperti China, Jepang, Korsel, Singapura, dan beberapa negara Eropa,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Gobel, apakah pemerintah perlu segera melakukan pembicaraan dengan parlemen untuk proses alokasi dana talangan. Ataukah ada pos dana darurat yang sudah dialokasikan dalam APBN untuk segera dicairkan begitu terjadi pandemi seperti sekarang ini.

“Semua itu harus dilakukan secara sistem. Tidak bisa ad hoc atau parsial. Sebab hasilnya akan sia-sia begitu kasus pandemi ini selesai. Begitu muncul pandemi baru, kita kembali gagap lalu kalang kabut,” katanya.

Hal yang juga tidak kalah pening untuk dipehatikan menurut Gobel adalah, bagaimana persiapan rumah sakit rujukan yang benar-benar taat standar operasi prosedur (SOP). Bagaimana sumber daya medisnya memadai dan cukup atau tidak, termasuk persiapan obat, alat pelindung medis, serta logistik ke rumah sakit, baik pangan hingga farmasi bisa berjalan dengan baik atau tidak.

“Namun yang paling penting adalah penanganan atau perintah penanganan kasus berada dalam komando satu tangan. Hal Ini penting untuk menetukan jalan atau tidak proses penanganan dan penekanan penyabaran virus corona, hingga minimal dan berhenti,” pungkasnya. (Rls)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *