Cikini Studi Minta Pelaku Usaha Berpikir Rasional Ditengah Penyebaran Covid-19

by
Direktur Eksekutif Cikini Studi, Teddy Mihelde Yamin.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Direktur Eksekutif Cikini Studi, Teddy Mihelde Yamin meminta pelaku usaha untuk tetap tenang dan berpikir rasional dalam menyikapi kondisi pasar yang suram saat ini, di tengah penyebaran virus corona atau Covid-19 yang semakin mendunia.

“Pelaku usaha harus berpikir rasional, dengan tidak panik atas kondisi yang tengah terjadi belakangan ini,” pinta Teddy melalui pesan singkat yang diterima media, Selasa (10/3/2020) menanggapi kondisi saat ini.

Teddy menyebutkan bahwa usaha yang praktis terganggu bahkan berhenti saat ini, seperti pariwisata, penerbangan, dan transportasi lainnya, disamping manufakturing dalam berbagai skala besar maupun kecil yang berorientasi ekspor dan mengandalkan bahan baku impor.

“Mengapa? Hal ini karena banyak manufaktur di negeri ini yang masih tergantung bahan baku impor dari China,” ujarnya sambil meminta kepada pemerintah untuk jangan gaduh terus, dan tidak membuat pernyataan yang justru bisa meresahkan para pelaku usaha.

Tetapi, saran Teddy ke Pemerintah, harus segera tanggap pada dunia usaha yang berantakkan, salah satunya dengan memperjelas arahan agar dunia usaha yang benar-benar terdampak –jika mempunyai pinjaman dapat direkstrukturisasi pinjamannya– misalkan discheduling.

“Begitu juga berbagai industri dan jasa yang terdampak langsung, agar disegerakan paket insentif sebelum keburu usahanya mati. Kuncinya pemerintah jangan merasa segalanya juga. Mata dan telinga rakyat ada dimana-mana,” ujar Teddy mengingatkan.

Selanjutnya, menurut Teddy, lihat perkembangan beberapa waktu ke depan, jika memang kondisi tak berubah banyak, barangkali jangan malu jika pemerintah Jokowi meniru cara yang dilakukan oleh pemerintahan SBY sebelumnya, yakni buat masyarakat kecil berikan tunjangan langsung atau bantuan langsung tunai (BLT).

“Karena nggak ada waktu lagi untuk proses menumbuhkan daya juang kecuali kebutuhan hidup sehari- hari, yaitu membeli bahan pangan. Kebutuhan makan,” ujarnya seraya juga berharap dengan beberapa stimulus tersebut masyarakat kecil terbantu hidupnya, dan untuk dunia usaha juga pelan-pelan bangkit.

Sebaliknya, lanjut Teddy, dari rakyat harus menerapkan pola hidup ‘ikat pinggang’, yakni meninggalkan kebiasaan hidup berfoya-foya. Sebab di sekeliling banyak masyarakat yang terdampak dan hidup prihatin.

“Kedepan kita akan lihat banyak bermunculan usaha dagang sederhana, warung warung makanan tumbuh menjamur sekedar untuk menyambung hidup saja,” pungkasnya. (Kds)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *