Nanjing, Ibu Kota Jiangsu yang Belajar dari Sejarah dan Menjaga Keamanan dengan Cara Modern

by
Polisi berjaga di Kota Nanjing. (Ilustrasi/Foto: VOA Indonesia)

NANJING adalah ibu kota Provinsi Jiangsu yang terletak di tepi Sungai Yangtze. Kota ini dihuni hampir 10 juta orang dan dikenal sebagai kota kampus, kota riset, sekaligus kota yang menyimpan ingatan panjang China.

Jika ditarik ke belakang, Nanjing adalah kota yang sudah berkali-kali menjadi pusat kekuasaan. Dalam catatan sejarah ia pernah tujuh kali menjadi ibu kota kerajaan di zaman dinasti, kemudian menjadi pusat pemerintahan Republik China pada tahun 1912 ketika Dr. Sun Yat-sen memproklamasikan pemerintahan sementara, dan kembali menjadi ibu kota nasional pada periode 1928 sampai 1937. Kota ini juga pernah melewati masa paling kelam saat peristiwa 1937-1938.

Setelah Republik Rakyat China berdiri, Nanjing sempat berstatus kota yang langsung di bawah pemerintah pusat, lalu sejak tahun 1952 ditetapkan secara resmi sebagai ibu kota Provinsi Jiangsu.

Jejak itu masih terlihat sampai sekarang melalui Istana Kepresidenan, kawasan kota tua di tepi tembok Ming, dan kompleks makam yang menjadi tujuan wisata sejarah.

Tingkat Kriminalitas

Dengan latar belakang seperti itu, wajar jika banyak orang bertanya bagaimana kondisi keamanannya hari ini. Jawabannya, Nanjing termasuk kota yang sangat aman untuk ukuran kota besar.

Dalam pemeringkatan internasional, tingkat kejahatannya berada di angka yang sangat rendah, sekitar 12 dari skala 100, sementara indeks rasa amannya mencapai lebih dari 87, yang masuk kategori sangat tinggi. Artinya warga merasa nyaman berjalan sendiri baik siang maupun malam di kawasan utama seperti Gulou, Xuanwu, atau Qinhuai.

Secara nasional, tren ini juga sejalan dengan data kepolisian China yang mencatat penurunan jumlah kasus kriminal sebesar 12,8 persen pada tahun 2025 dan terus menurun lagi sekitar 16,5 persen pada paruh pertama 2026, dengan penurunan terbesar pada kasus pencurian, perampokan, dan penipuan yang turun hampir 39 persen.

Tentu bukan berarti Nanjing tanpa masalah. Bentuk kejahatan di kota modern seperti Nanjing sudah bergeser. Jika dulu kekhawatiran terbesar adalah kejahatan jalanan, sekarang yang paling sering ditemui adalah penipuan melalui telepon dan internet, seperti tawaran investasi palsu, pinjaman online fiktif, atau penipuan asmara. Pencurian ringan di tempat keramaian masih ada, tapi kasus kekerasan berat sangat jarang terjadi dan angkanya berada pada titik terendah dalam sejarah pencatatan.

Untuk menghadapi tantangan itu, polisi Nanjing melakukan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan penangkapan, tetapi juga pencegahan. Mereka membangun pusat komputasi awan kepolisian yang menghubungkan komando, pengaturan lalu lintas cerdas, pengawasan kamera, sistem anti-penipuan, dan pencarian informasi dalam satu jaringan.

Di lapangan, patroli dengan kendaraan dan drone ditingkatkan, terutama saat ada acara besar, dan pusat komando lalu lintas memantau situasi secara real-time agar kemacetan dan gangguan bisa segera diatasi.

Yang menarik, setiap awal tahun mereka membuka diri kepada publik melalui pekan terbuka kepolisian selama beberapa hari di pusat pameran kota. Di sana anak-anak hingga orang dewasa bisa melihat dari dekat peralatan penyelam, perahu patroli, hingga demonstrasi keterampilan berkendara polisi lalu lintas. Acara seperti ini dibuat agar warga tidak merasa jauh dari polisi.

Kondisi Nanjing saat ini adalah perpaduan antara kota yang menghormati masa lalunya dan kota yang mengelola masa kini dengan cara yang tertib. Kehidupan kampus, kawasan bisnis Xinjiekou, dan wisata malam di tepi Sungai Qinhuai berjalan normal.

Keamanan yang dirasakan warga bukan datang tiba-tiba, melainkan hasil dari sistem yang terus diperbaiki, teknologi yang dipakai untuk mencegah, dan komunikasi yang dibangun antara polisi dan masyarakat.

Nanjing menunjukkan bahwa memahami sebuah kota tidak cukup dengan melihat satu kasus yang viral, tetapi dengan melihat data, sejarah, dan upaya sehari-hari yang menjaga kota tetap aman.

*Dadang Sugandi* – (Redaksi www.beritabuana.co/Bahan diambil dari berbagai sumber)