BERITABUANA.CO, JOMBANG — Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur mengapresiasi karya intelektual Dr. KH. Muhammad Nur Hayid (Gus Hayid) yang dituangkan dalam buku tiga jilid berjudul “NU Abad Kedua”. Buku tersebut dinilai sebagai karya serius, komprehensif, dan layak menjadi salah satu referensi akademik dalam mengkaji perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad kedua.
Apresiasi itu disampaikan Dr. H. Yusuf Amrozi, Pengurus Wilayah ISNU Jawa Timur sekaligus dosen UIN Sunan Ampel Surabaya. Ia menilai buku karya Gus Hayid memiliki bobot akademik yang kuat, mulai dari narasi, struktur pembahasan hingga daftar pustaka.
“Ini produk intelektual yang luar biasa. Produk intelektual yang saya kira sangat serius,” ujar Yusuf Amrozi usai Bedah Buku NU Abad Kedua disela-sela Acara Muktamar Ke-35 Jombang 2026.
Menurut Yusuf, setelah melihat isi, struktur, dan referensi yang digunakan, buku tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi rujukan dalam pengembangan kajian akademik NU ke depan.
“Tadi saya melihat narasi isinya, strukturnya, sampai daftar pustakanya. Saya kira juga layak untuk menjadi referensi akademik NU ke depan,” tuturnya.
Yusuf menyebut, sesuai dengan judulnya, NU Abad Kedua memberikan gambaran yang lengkap dan komprehensif mengenai berbagai persoalan dan agenda strategis NU dalam menghadapi perjalanan abad kedua.
Ia juga menilai buku tersebut memiliki standar akademik yang cukup tinggi. Namun demikian, gaya bahasa yang digunakan tetap relatif mudah dipahami sehingga tidak hanya ditujukan kepada kalangan akademisi.
“Buku ini menurut saya cukup akademik, standarnya standar dosen, standar akademisi. Walaupun para peminat atau publik secara umum juga dapat memahami isi buku ini, karena saya lihat kalimatnya juga bukan kalimat yang terlalu sulit,” jelasnya.
Menurut Yusuf, kekuatan buku tersebut terletak pada kemampuannya menggabungkan struktur ilmiah dengan bahasa yang tetap komunikatif. Dengan demikian, buku tersebut dapat menjadi bahan bacaan bagi akademisi sekaligus masyarakat Nahdliyin yang ingin memahami arah NU di abad kedua.
Yusuf juga menyoroti cakupan pembahasan buku yang menurutnya sangat luas. Karya tersebut disusun dalam tiga jilid yang memuat 12 bab, dengan pembahasan yang mendalam pada setiap bab. “Bab-babnya juga sangat lengkap, menyeluruh. Dari 12 bab, dia cetak menjadi tiga buku, tiga buku, 12 bab, atau tiga jilid,’ ungkapnya.
Ketebalan masing-masing buku juga menunjukkan keseriusan penulis dalam menguraikan gagasan. Menurut Yusuf, satu jilid memiliki ratusan halaman, dengan pembahasan setiap bab yang cukup panjang dan mendalam.
Ia mencontohkan salah satu pembahasan mengenai pendidikan yang ditempatkan sebagai bagian penting dalam agenda kemajuan NU. “Misalnya di bab tiga, judulnya ‘Pendidikan sebagai Proses Kemajuan’, membahas tantangan pendidikan, peran stakeholder internal dan sebagainya. Sehingga nanti bagaimana membangun SDM ke depan,” katanya.
Bagi Yusuf, pembahasan tersebut menunjukkan bahwa buku Gus Hayid tidak berhenti pada pemotretan kondisi NU, tetapi juga mencoba menawarkan gagasan mengenai arah pengembangan organisasi, pendidikan, sumber daya manusia, dan berbagai agenda strategis lainnya.
Keluasan pembahasan itulah yang membuat Yusuf menilai karya tersebut memiliki posisi penting dalam perkembangan kajian NU.
Dijuluki ‘Profesor NU Baru’
Lebih jauh, Yusuf memberikan apresiasi khusus terhadap Gus Hayid atas karya intelektual tersebut. Ia bahkan memberikan julukan ‘profesor NU yang baru’ karena menilai Gus Hayid telah menghasilkan karya yang dapat menjadi bagian dari kajian serius mengenai NU atau NU Studies.
“Secara keseluruhan saya, Yusuf Amrozi, menjuluki Gus Hayid itu profesor baru, profesor NU yang baru,” ujarnya.
Menurut dia, julukan tersebut diberikan bukan dalam pengertian gelar akademik formal, melainkan sebagai bentuk penghargaan terhadap kontribusi pemikiran Gus Hayid melalui karya yang membahas NU secara luas dan mendalam.
“Karena beliau membuat buku yang sebagai NU Studies abad ke-2,” tutupnya. (Tim)







