PERISTIWA hilangnya speedboat yang membawa 5 jurnalis dan 3 kru di Selat Sunda bukan sekadar berita kecelakaan laut biasa. Ini adalah pertemuan antara tiga risiko besar sekaligus: laut yang ganas, gunung api aktif, dan lemahnya infrastruktur keselamatan peliputan lapangan.
Kronologi resmi yang kita tahu sejauh ini: rombongan 8 orang — 5 jurnalis dari berbagai media, 2 awak kapal, dan 1 pemandu — berangkat dari Pantai Carita, Pandeglang, menuju Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026 siang untuk meliput aktivitas erupsi.
Komunikasi terputus tak lama setelah keberangkatan. Laporan resmi baru masuk ke Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten pada Selasa 8 September pukul 13.55 WIB. Hingga Rabu 9 September, pencarian diperluas dari Carita hingga pesisir Lampung karena arus mengarah ke barat daya.
Dari fakta itu, saya melihat ada 4 skenario kemungkinan keberadaan mereka yang harus dibaca secara jernih, bukan dengan kepanikan.
1. Skenario Paling Masuk Akal: Mati Mesin dan Hanyut di Zona Blank Spot
Ini kemungkinan terbesar.
Selat Sunda adalah salah satu selat dengan arus paling tidak terduga di Indonesia. Pertemuan arus Jawa dan Samudera Hindia menciptakan pusaran. Jika speedboat kecil mengalami mati mesin — sangat umum untuk speedboat carteran pariwisata — mereka akan hanyut dengan kecepatan 2-3 knot tanpa bisa melawan.
Kenapa ini relevan? Tim SAR sendiri menyebutkan fokus pencarian bergeser ke pesisir Lampung karena arus mengarah barat daya. Artinya, posisi mereka bukan lagi di jalur Carita-Krakatau, tapi sudah terseret jauh.
Ditambah, Kemkomdigi harus turun tangan memperkuat jaringan telekomunikasi untuk pencarian. Ini mengkonfirmasi bahwa area sekitar Anak Krakatau memang blank spot. HP tidak ada sinyal, HT marine mungkin tidak terjangkau, apalagi jika baterai basah. Mereka mungkin masih bertahan di atas kapal yang mengapung, tapi tidak bisa memanggil.
2. Skenario Terjebak di Pulau-Pulau Kecil Sekitar Krakatau
Gugusan Krakatau bukan hanya Anak Krakatau. Ada Pulau Sertung, Pulau Panjang, Rakata Kecil. Banyak speedboat yang mogok memilih menepi ke pulau terdekat daripada melawan ombak.
Jika mereka berhasil menepi, peluang hidup cukup tinggi untuk 3-4 hari pertama: ada air hujan, mereka membawa perbekalan peliputan. Masalahnya, pulau-pulau itu tidak berpenghuni dan tidak termonitor. Drone thermal dan RIB sudah dikerahkan, tapi medan dengan abu vulkanik dan kontur curam membuat pencarian visual sangat sulit. Asap erupsi Anak Krakatau sendiri bisa menutup jarak pandang drone.
3. Skenario yang Tidak Ingin Kita Sebut: Insiden Akibat Aktivitas Vulkanik
Kita harus jujur: meliput erupsi Gunung Anak Krakatau dari jarak dekat dengan speedboat kecil adalah tindakan berisiko tinggi. Erupsi bisa memicu gelombang tinggi mendadak, lontaran batu pijar, bahkan tsunami kecil vulkanik seperti 2018.
Jika kapal berada terlalu dekat saat erupsi freatik terjadi, gelombang kejut bisa membalikkan kapal fiberglass. Ini yang membuat operasi SAR gabungan besar-besaran digelar sejak awal. Jika ini yang terjadi, pencarian korban akan jauh lebih sulit karena puing tidak mengapung lama.
Namun, sampai hari kedua belum ada temuan serpihan kapal, life jacket, atau tumpahan oli. Ini sedikit memberi harapan bahwa kapal masih utuh dan mengapung. Tapi nyatanya pupus. Sudah disebutkan bahwa life jacket bukan milik Jurnalis.
4. Skenario Sistemik: Kegagalan Prosedur Keselamatan Jurnalis
Ini bagian yang paling penting untuk opini saya.
Lima jurnalis berangkat bersamaan tanpa pengawalan kapal Basarnas, tanpa EPIRB (Emergency Position Indicating Radio Beacon), tanpa pelampung satelit? Mengapa speedboat pariwisata yang notabene untuk jarak dekat dipakai untuk menyeberang ke kawasan gunung api aktif yang berjarak 40 km dari Carita?
Ini menunjukkan pola lama: peliputan bencana di Indonesia masih mengandalkan keberanian, bukan standar keselamatan. Tidak ada manifest resmi, tidak ada check-in wajib per jam, tidak ada kewajiban membawa personal locator beacon. Padahal liputan di Selat Sunda seharusnya diperlakukan seperti liputan di zona perang: high-risk.
DPR sudah angkat bicara meminta pemerintah mencari keberadaan mereka. Tapi yang kita butuhkan setelah pencarian ini selesai, apapun hasilnya, adalah regulasi: setiap peliputan di wilayah vulkanik aktif dan laut lepas wajib didampingi kapal SAR dan alat pelacak satelit.
Kesimpulan: Harapan Masih Ada, Tapi Waktu Menipis
Dalam ilmu SAR, golden period adalah 72 jam. Kita sekarang sudah masuk hari ke-3. Dengan kondisi laut Selat Sunda yang relatif hangat (28-29 derajat), tanpa luka serius, manusia masih bisa bertahan di atas kapal terbalik atau di pulau kecil selama 4-5 hari.
Saya cenderung percaya mereka masih ada, hanyut ke arah barat daya menuju pesisir Lampung, dengan kapal dalam kondisi mati mesin dan semua alat komunikasi mati. Pencarian yang diperluas ke Lampung oleh Polda dan Basarnas Lampung dengan 2 RIB tambahan adalah langkah paling tepat.
Tapi negara tidak boleh hanya mencari. Kasus ini harus menjadi momentum untuk membuat SOP peliputan bencana yang melindungi nyawa jurnalis. Karena berita tentang erupsi tidak boleh dibayar dengan nyawa orang yang memberitakan erupsi itu.
Kita tunggu kabar baik dari Tim SAR. Semoga rekan jurnalis selamat!
*Dadang Sugandi* – (Pemimpin Redaksi www.beritabuana.co)







