BERITABUANA.CO– KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf dikenal sebagai sosok muda yang progresif dan berintegritas. Pengalaman panjang selama 28 tahun di dunia politik, puluhan tahun menjadi pengasuh pesantren hingga sekarang, khidmah dalam dunia pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Di dunia politik, Gus Yusuf belajar dunia pelayanan dan khidmah di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mulai dari tingkat PAC, cabang hingga DPW PKB Jawa Tengah selama tiga periode. Meski memiliki pengalaman panjang, beliau tidak pernah mengambil jatah jabatan politik, meskipun pernah mendapat tawaran menjadi anggota DPR, menteri, gubernur, wakil gubernur hingga bupati.
Pilihan tersebut mengokohkan sosoknya yang konsisten dalam berkhidmat sekaligus menunjukkan bahwa politik bagi Gus Yusuf bukan sekadar jalan menuju kekuasaan, melainkan ruang untuk belajar dan berkhidmah. Prinsip ini sejalan dengan pesan guru beliau, Gus Dur saat masih sugeng, agar warga NU terus diperjuangkan kesejahteraan dan kemaslahatannya.
Pengalaman Gus Yusuf yang sangat beragam menjadi kekuatan sekaligus kelebihan tersendiri bagi sosok alumni Lirboyo ini, karena bisa menjadi bekal memimpin PBNU di abad kedua yang lebih progresif, tapi tetap menjaga persatuan, ukhwah dan kekeluargaan yang kuat.
Pengalaman itu diharapkan bisa diterjemahkan dalam kerja-kerja pemberdayaan dan pelayanan kepada jamaah warga nahdliyin dan struktur NU di semua tingkatan.
Di Jawa Tengah misalnya, Gus Yusuf ikut mendorong pembangunan bagi sejumlah kantor NU baik cabang hingga MWC dan Ranting. Selain itu, pembangunan fasilitas kesehatan dan program pemberdayaan masyarakat melalui LAZISNU dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah.
Di pesantren, beliau berhasil mendorong transformasi dari model pesantren salaf menuju pesantren modern dan super modern. Salah satunya melalui pengembangan Subbanul Wathon Integrated International School (SWISS) di Magelang. Di bidang kesehatan, beliau membangun Subbanul Wathon Hospital sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan bagi masyarakat dan warga NU
Penguatan ekonomi juga menjadi perhatian. Pengembangan BPRS dan usaha bersama dilakukan sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian masyarakat. PCNU Magelang, misalnya, berkembang hingga memiliki hampir 20 bus melalui proses pendampingan dan pengembangan usaha secara bertahap.
Gus Yusuf juga melihat pentingnya perubahan pola dakwah NU di abad kedua. Dakwah perlu menjangkau generasi milenial dan Gen Z melalui media sosial, radio, hingga televisi berbasis YouTube. Pada saat yang sama, dialog lintas agama dan pendampingan terhadap berbagai kelompok rentan dan kelompok masyarakat terpinggirkan juga terus dilakukan.
Pemberdayaan pesantren juga diarahkan pada penguatan keterampilan dan skill yang dibutuhkan setelah para santri lulus dari pesantren. Salah satunya melalui pengelolaan sampah atau waste management. Sampah dapat diolah menjadi kompos, maggot, dan produk bernilai ekonomi lainnya. Hal ini tentu tidak hanya menunjukkan kejelian beliau dalam membaca peluang, tetapi juga kecerdasan beliau dalam menginisiasi dunia pesantren untuk ikut mengawal sustainable living atau aksi nyata dunia pesantren menjaga lingkungan hidup.
Dalam banyak sambutan saat pertemuan dengan PCNU maupun PWNU di seluruh Indonesia, beliau mengatan, jika mendapat amanah di PBNU, kebersamaan dalam berkhidmat dan Ukhuwah Nahdliyah akan menjadi pekerjaan pertama. Beliau ingin merangkul semua kekuatan yang selama ini terpecah akibat konflik yang berkepanjangan. Gus Yusuf ingin mengajak semua kekuatan di NU kembali bersatu, solid dan penuh guyub rukun berkhidmat di NU untuk mewujudkan warga NU yang sejahtera,sehat dan bahagia dengan semangat ukhuwah an-nahdliyyah.
Setelah harmoni terbentuk, agenda pemberdayaan masyarakat, transformasi pesantren, kesehatan, dakwah, pendidikan dan pembangunan SDM insyaallah akan dapat dijalankan dengan lebih mudah dan yang lebih jelas arahnya.
Konsentrasi beliau dalam penguatan sekolah Ma’arif, LPTNU dan UNU juga menjadi bagian dari agenda tersebut strategis Gus Yusuf jika diberi amanah memimpin PBNU. Sebab beliau berfikir dengan lembaga pendidikan yang baik dan berkualitas akan melahirkan SDM yang baik dan berkualitas sehingga bisa bersaing di kancah global atau internasional.
PCNU yang belum memiliki kantor, insyaAllah akan dibantu untuk bisa memiliki kantor. Sementara PCNU yang sudah memiliki kantor, diharapkan dapat dikembangkan menjadi pusat pelayanan masyarakat, termasuk melalui pendirian klinik kesehatan di setiap PCNU. Itulah harapan dan mimpi beliau saat diberikan amanah menjadi ketua umum PBNU.
Pada akhirnya, seluruh pengalaman Gus Yusuf baik di dunia politik, pesantren, pendidikan, ekonomi dan sosial, budaya, pemberdayaan insyaallah akan memberikan bekal untuk menghadapi tantangan NU di abad kedua. Pengalaman lobi politik dan resolusi konflik yang dimilikinya juga dapat menjadi modal dalam membangun komunikasi politik dalam menyatukan perbedaan, dan memperkuat persatuan dan keutuhan organisasi.
Bagi Gus Yusuf, khidmah kepada NU bukan sekadar soal jabatan, tetapi tentang bagaimana pengalaman dan kemampuan yang dimiliki setiap kader NU bisa diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi warga NU dan masyarakat luas serta bangsa dan negara.
*Penulis Adalah Muhammad Nur Hayid, Pengasuh Pesantren Skill Nurul Hayat







