Oleh: Fahri Hamzah (Mantan Wakil Ketua DPR RI, Koordinator Kesejahteraan Rakyat 2014–2019)
DALAM paham ekonomi liberal, memberi makan rakyat bukan urusan negara. Itu urusan pasar. Itu urusan individu. Namun kita, yang lahir dan besar di Timur, mewarisi keyakinan yang berbeda. Keyakinan itu telah ada jauh sebelum istilah “kebijakan publik” dikenal: bahwa sebuah bangsa sejatinya diukur bukan dari indeks yang dikutip di forum internasional, melainkan dari meja makan; dari apakah setiap anak, di setiap sudut kepulauan ini, dapat duduk dengan perut yang tidak kosong dan masa depan yang tidak lapar.
Menariknya, tradisi ekonomi liberal yang selama ini sering dikontraskan dengan keberpihakan negara pun telah lama membuktikan bahwa investasi gizi anak adalah investasi ekonomi paling rasional yang bisa dilakukan sebuah negara. Namun kita tidak perlu menunggu pembuktian ilmiah untuk mengetahui hal itu. Keyakinan tersebut sudah ada jauh sebelumnya, bahkan menjadi syarat dasar legitimasi kepemimpinan. Dari Konfusius hingga Kautilya di India kuno, dari tradisi Islam hingga kearifan Nusantara, semuanya mengajarkan hal yang sama: pemimpin yang membiarkan rakyatnya lapar telah kehilangan hak moralnya untuk berkuasa.
Mimpi Besar di Balik Program MBG
Inilah, saya percaya, yang ada dalam benak Prabowo Subianto ketika ia memimpikan Makan Bergizi Gratis (MBG). Belakangan, kita membaca begitu banyak teori yang membenarkan keputusan ini: teori modal manusia (human capital), eksternalitas positif, poverty trap theory, teori keadilan distributif, dan seterusnya. Namun jauh sebelum teori-teori itu dikutip para akademisi, keyakinan tersebut sudah hidup dalam diri seorang prajurit yang tidak bisa tidur nyenyak membayangkan anak-anak bangsanya yang lapar.
Membaca Prabowo dari Gagasan dan Kegelisahannya
Saya mengenal cara berpikir Prabowo bukan dari kejauhan. Selain mendengarnya secara langsung, saya juga membacanya dalam Paradoks Indonesia dan Strategi Transformasi Bangsa, dua buku yang ditulisnya jauh sebelum ia menjadi presiden. Saat itu, banyak orang masih meragukan apakah ia sungguh-sungguh memikirkan masa depan generasi bangsa atau sekadar mengejar kekuasaan. Di halaman-halaman buku tersebut, saya menemukan seorang pemikir yang resah, yang tidak bisa berdamai dengan satu kenyataan: Indonesia adalah negeri yang kaya raya, tetapi jutaan warganya masih hidup dalam kemiskinan yang sesungguhnya tidak perlu terjadi.
Paradoks itulah yang menggerakkannya. Dan paradoks itu pula yang mendorong saya, yang sejak lama mengikuti perjalanan pemikiran Prabowo, untuk berdiri bersamanya. Bukan karena kalkulasi politik semata, melainkan karena saya percaya bahwa cita-citanya adalah cita-cita yang benar.
Ketika Visi Menuntut Koreksi
Keputusan Presiden mengganti pimpinan Badan Gizi Nasional pada 2 Juni 2026 perlu dibaca dengan hati yang jernih. Bukan sebagai drama politik, bukan pula sebagai penghinaan atas kerja keras yang telah dilakukan, melainkan sebagai sesuatu yang jauh lebih bermakna: seorang pemimpin yang menolak membiarkan jarak antara cita-cita dan kenyataan terus melebar tanpa koreksi. Itu adalah tanda bahwa visi masih hidup, bahwa mimpi belum menyerah pada rutinitas birokrasi.
Prabowonomics dan Janji Pasal 33
Prabowo adalah figur yang kompleks, seorang prajurit yang membaca sejarah ekonomi bangsanya dengan rasa sakit yang personal. Ia tumbuh di lingkungan intelektual dan bangsawan yang memikirkan bagaimana Indonesia dapat berdiri di atas kakinya sendiri. Dalam banyak kesempatan, baik formal maupun informal, kita sering mendengar apa yang paling ia sesali dari perjalanan panjang Indonesia sebagai bangsa merdeka. Jawabannya selalu singkat, tetapi berat:
“Kita sudah merdeka delapan puluh tahun lebih, tapi masih ada anak-anak kita yang tidur dengan lapar.”
Dari rasa sakit itulah lahir apa yang kita kenal sebagai Prabowonomics: sebuah keyakinan bahwa Pasal 33 UUD 1945 bukan sekadar teks konstitusi, melainkan janji moral bangsa kepada dirinya sendiri. Bahwa kekayaan bumi ini harus mengalir kepada seluruh rakyat, bukan menggenang di tangan segelintir orang. ***







