BI Catat Rupiah Melemah 7,9 Persen

by
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti. (Foto: DM)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Nilai tukar rupiah tercatat melemah sekitar 7,9 persen di tengah kondisi global yang memburuk. Hal tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dalam Rapimnas Kadin 2026 pada Kamis (29/10/2026)

Destry menjelaskan pelemahan rupiah tidak lepas dari ketidakpastian pasar global. Meski melemah, ia menilai gejolak rupiah masih lebih terkendali jika dibandingkan dengan mata uang negara lain. Tekanan ini juga dialami banyak mata uang negara berkembang akibat menguatnya dolar Amerika Serikat.

Menurutnya, kondisi global saat ini masih dibayangi suku bunga tinggi yang berlangsung lebih lama. Inflasi di AS masih di atas 3,5 persen, jauh dari target The Fed sebesar 2 persen, sehingga peluang kenaikan suku bunga di bulan Desember masih terbuka.

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang sempat menyentuh 5,3 persen dan kenaikan harga minyak karena konflik geopolitik turut menambah tekanan bagi ekonomi global.

Situasi tersebut membuat investor global cenderung mencari aset aman dan kembali memegang dolar AS, sehingga indeks dolar atau DXY terus menguat.

Destry menyebut kondisi ini menjadi ironi karena sumber masalah berasal dari Amerika, namun dolar tetap menjadi pilihan utama untuk transaksi internasional.

Di tengah tekanan eksternal itu, Destry menilai ekonomi dalam negeri masih cukup kuat. Pada semester I-2026 ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen, dengan inflasi 3,28 persen dan inflasi inti 2,8 persen.

Defisit fiskal juga masih terjaga dan rasio utang berada di kisaran 41 persen. Meski begitu, ia mengakui menjaga stabilitas rupiah masih menjadi pekerjaan rumah yang harus ditangani bersama. (Ram)