JIKA ada jenderal yang hafal betul denyut kejahatan Jakarta luar kepala, maka namanya adalah Suyudi Ario Seto.
Pada 1 Oktober 2026 lalu, di Istana Negara, pemandangan itu menjadi resmi. Presiden Prabowo Subianto mengambil sumpah seorang perwira kelahiran Pandeglang, 14 Juli 1973 itu sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ke-26.
Di pundaknya yang semula menyandang tiga bintang, Presiden menyematkan empat bintang Jenderal Polisi. Pelantikan berdasarkan Keppres Nomor 96 dan 97 Tahun 2026 itu juga menjadi momen pergantian tongkat estafet, karena Kapolri sebelumnya, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, resmi dipercaya mengemban tugas baru sebagai Kepala Staf Presiden (KSP).
Tak sendiri, Suyudi didampingi Wakapolri barunya, Komjen Pol Wahyu Hadiningrat. Langkahnya ke kursi nomor satu di Korps Bhayangkara pun terbilang mulus.
Sehari sebelumnya, Komisi III DPR RI memberikan persetujuan secara aklamasi dalam uji kelayakan dan kepatutan, yang kemudian disahkan dalam Rapat Paripurna yang dipimpin Ketua DPR Puan Maharani.
Bukan Jenderal Karbitan
Kisah Suyudi Ario Seto bukan kisah jenderal yang dibesarkan di balik meja dan ruangan ber-AC.
Lulusan Akademi Kepolisian 1994 ini adalah reserse tulen. Angkatannya memang terkenal kuat di bidang penyidikan, dan Suyudi memilih menjalaninya dengan cara paling keras dari bawah.
Catatan awal kariernya adalah sebagai Kanit II Resmob Polda Metro Jaya. Dari sana ia mencicipi kerasnya wilayah Ibu Kota sebagai Kapolsek Pasar Minggu, Tanah Abang, Penjaringan – semua pernah ia pimpin.
Ia kemudian dipercaya menjadi Kasat Reskrim di tiga Polres Metro yang berbeda. Jakarta Selatan, Tangerang Kota, hingga Jakarta Barat.
Tahun 2011 menjadi titik balik saat ia ditarik sebagai Kasubdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Setelah itu, tangga kepemimpinan kewilayahan ia naiki satu per satu. Kapolres Majalengka (2014), Kapolres Bogor (2015), Kapolresta Bogor Kota (2016), dan Kapolres Metro Jakarta Pusat (2017).
Puncaknya di Jakarta, ia kembali sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya pada 2019. Nama besarnya ikut tercatat dalam pengungkapan kasus-kasus yang menyita perhatian nasional, mulai dari misteri penyerangan penyidik KPK hingga kasus perampokan sadis di Pulomas, Jakarta Timur.
Di Mabes Polri, ia sempat menjadi Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus dan Wakil Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim pada 2020.
Tangga Bintang yang Terukur
Kenaikan pangkat Suyudi terbilang cepat, tapi tidak instan. Bintang satu ia raih saat dipercaya sebagai Wakapolda Metro Jaya pada 27 Maret 2023. Setahun kemudian, ia naik menjadi bintang dua saat memimpin Polda Banten sejak 26 Juni 2024.
Kepercayaan besar datang pada 25 Agustus 2025. Presiden Prabowo menunjuknya sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) menggantikan Marthinus Hukom. Jabatan strategis itu mengantarkannya pada pangkat Komisaris Jenderal Polisi, yang dikukuhkan dalam korps raport di Mabes Polri pada 12 September 2025.
Di BNN, ia tidak sekadar melanjutkan program. Gebrakannya langsung terasa. Pada Desember 2025, di bawah komandonya, BNN membongkar jaringan internasional yang dikendalikan Dewi Astutik alias PA dengan barang bukti sekitar dua ton sabu. Nilainya ditaksir mencapai Rp5 triliun – sebuah pesan keras bahwa perang melawan narkoba tidak akan setengah hati.
Di Balik Tegasnya Reserse, Ada Akademisi
Yang membuat sosoknya menarik, ketegasannya di lapangan diimbangi dengan dahaga belajar yang tak pernah padam.
Setelah Akpol, ia menuntaskan pendidikan di PTIK pada 2003, meraih gelar Magister Sains Kajian Ilmu Kepolisian dari Universitas Indonesia pada 2010, dan menyelesaikan Sespimti Polri pada 2018. Bahkan pada Januari 2026, Universitas Tarumanagara menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa bidang Ilmu Hukum.
Kehidupan pribadinya justru jauh dari hiruk pikuk. Ia menikah dengan Dewi Yuali yang akrab disapa Uwi, dikaruniai dua orang anak, dan tetap aktif menyapa masyarakat lewat akun Instagram pribadinya.
Atas pengabdian lebih dari tiga dekade sejak 1994, deretan penghargaan telah ia terima, dari Bintang Bhayangkara Pratama dan Nararya hingga Satyalancana Pengabdian 24, 16, dan 8 Tahun.
Visi: Polri Bersama Masyarakat
Kini beban terberat ada di pundaknya. Dalam uji kelayakan di DPR, Suyudi mengusung visi sederhana namun menantang: Polri Bersama Masyarakat.
Ia berjanji melakukan konsolidasi internal terlebih dahulu, melanjutkan program baik pendahulunya yang masih relevan, dan fokus pada pekerjaan rumah yang paling meresahkan publik, yakni, narkotika, penyelundupan, judi online, hingga kejahatan jalanan.
Ada satu kalimatnya yang paling diingat dari ruang Komisi III DPR dan mungkin akan menjadi tolok ukur kepemimpinannya ke depan.
“Bagi saya, jabatan Kapolri bukanlah puncak karier, melainkan puncak tanggung jawab.”
Kalimat itu kini tidak lagi sekadar ucapan di ruang sidang. Ia akan diuji oleh waktu, oleh ekspektasi 280 juta rakyat, dan oleh jalanan Ibu Kota yang dulu membesarkannya.
*Dadang Sugandi* – (Redaksi www.beritabuana.co)







