Jangan Hanya Jadi Penonton! Evita Desak Marketplace MBG Jadi Panggung Utama UMKM dan Petani Lokal

by
Badan Gizi Nasional. (Foto: Kds)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Triliunan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) jangan sampai hanya mampir ke gudang pemasok raksasa. Rencana Badan Gizi Nasional (BGN) meluncurkan marketplace khusus pengadaan bahan baku MBG harus menjadi titik balik untuk menggerakkan ekonomi desa.

Peringatan keras itu disampaikan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty. Ia menilai digitalisasi pengadaan MBG adalah peluang emas, tapi bisa jadi bumerang jika tidak berpihak pada rakyat kecil.

“Marketplace MBG jangan sampai hanya menjadi tempat bertemunya pembeli besar dengan pemasok besar. UMKM, koperasi, petani, dan peternak lokal harus menjadi pemain utama, bukan sekadar penonton dalam rantai pasok MBG,” tegas Evita, Kamis (17/9/2026).

Evita sepakat dengan wacana sistem verified seller untuk menjaga kualitas dan transparansi. Namun ia memberi catatan tebal: jangan sampai verifikasi itu justru menjadi tembok tinggi yang menghalangi UMKM.

“Banyak petani dan peternak kita kualitasnya bagus, kapasitasnya ada, tapi belum melek digital. Tugas BGN itu mendampingi, bukan mempersulit dengan syarat administratif yang berbelit-belit,” ujarnya.

Menurut legislator PDI Perjuangan itu, kunci keberhasilan marketplace bukan pada canggihnya aplikasi, melainkan pada keberpihakan. Selama bahan pangan tersedia di daerah, maka produk lokal harus jadi prioritas.

Ia mencontohkan, kebutuhan harian MBG yang masif seperti beras, telur, ayam, daging, minyak goreng, dan susu adalah amunisi untuk menciptakan efek domino ekonomi.

“Kalau berasnya dibeli dari petani lokal, telurnya dari peternak kampung sebelah, distribusinya digarap koperasi daerah, maka anggaran MBG tidak cuma jadi piring bergizi. Tapi jadi lapangan kerja baru, usaha rakyat naik kelas, dan ekonomi daerah berputar kencang,” jelas Evita.

Satu hal krusial lain yang disorot Evita adalah kepastian pembayaran. Ini menjadi momok yang paling ditakuti pelaku UMKM.

“Jangan sampai UMKM sudah banting tulang memasok barang, tapi uangnya nyangkut berminggu-minggu. Bagi UMKM, arus kas itu urat nadi. Sistem pembayarannya harus transparan, cepat, dan ada batas waktu yang jelas. Jangan dibikin UMKM jadi korban,” pungkasnya.

Bagi Evita, tolak ukur sukses marketplace MBG bukan soal teknologinya, melainkan seberapa banyak wong cilik yang naik kelas karena program ini.

“MBG harus jadi program gizi sekaligus penggerak ekonomi rakyat,” tutupnya. (Asim)