BERITABUANA.CO, JAKARTA – Insiden longsoran material basah di Grasberg Block Caving (GBC) September tahun lalu belum sepenuhnya pulih. Tapi PT Freeport Indonesia (PTFI) membuktikan tambang raksasa di Papua itu masih jadi lumbung ekonomi nasional yang sangat kuat.
Di depan Komisi XII DPR RI, Rabu (16/9/2026), Direktur Utama PTFI Tony Wenas memaparkan kondisi operasi tahun ini baru berjalan di 65% kapasitas normal. Dari kapasitas ideal 200.000 ton bijih per hari, tahun ini hanya 124.000 ton per hari.
Namun dengan kapasitas yang masih terpangkas itu, proyeksi cuannya tetap fantastis. Harta Karun yang kan Ditarik di 2026, adalah, 21 Ton Emas dan 363 Ribu Ton Tembaga.
Dari bijih tersebut, PTFI menargetkan produksi 700.000 ons emas atau setara 21 ton, dan 800 juta pon tembaga. Jika dikalkulasi dengan harga emas dunia saat ini yang di atas USD 3.400 per ons dan tembaga di kisaran USD 10.000 per ton, nilai kotor dari dua komoditas ini saja bisa menembus USD 6 miliar atau setara Rp 98-100 triliun.
Efek Hilirisasi yang makin tebal
yang menarik — ekonomi Freeport sekarang tidak lagi berhenti di konsentrat.
Dengan beroperasinya Precious Metal Refinery (PMR), nilai tambah tinggal di dalam negeri. Selain emas dan tembaga, tahun ini PTFI juga akan menghasilkan 103 ton perak batangan, 1,4 juta ton asam sulfat untuk kebutuhan industri pupuk dan smelter, serta 900.000 ton terak tembaga (copper slag) yang bisa dipakai untuk industri semen dan konstruksi.
Kemudian, adanya sinyal pemulihan mdnuju puncak di 2028. Da hal ini baru pemanasan. Tony Wenas menegaskan grafik produksi akan menanjak seiring pemulihan GBC.
• 2027: Kapasitas naik ke 170.000 ton bijih per hari, produksi emas naik jadi 31 ton.
• 2028: Kembali ke kapasitas penuh dengan produksi emas 39-40 ton per tahun.
Artinya, kontribusi bagi negara dari royalti, pajak, dividen BUMN (MIND ID pemegang 51% saham), hingga bagi hasil untuk Papua akan kembali melesat dalam dua tahun ke depan.
“Kenaikan tingkat produksi ini sejalan dengan pemulihan Grasberg Block Caving yang terkena longsor di tahun yang lalu,” kata Tony.
Dengan skenario ini, meski tahun 2026 disebut tahun pemulihan, Freeport tetap menjadi salah satu penopang utama penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan devisa ekspor Indonesia. (Kds)






