Erupsi Anak Krakatau: Menguji Kesiapan Kita Memantau Dampak, Bukan Hanya Gunungnya

by
Ida Pramuwardani, Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG. (Foto: KWP)

IZINKAN saya mengawali tulisan ini dengan duka. Atas nama BMKG, kami menyampaikan belasungkawa mendalam atas masih hilangnya lima rekan wartawan dalam peliputan di sekitar Selat Sunda. Doa kita bersama, semoga mereka segera ditemukan dalam keadaan sehat.

Peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau yang meningkat sejak 4 September dan mencapai puncaknya pada 5-6 September lalu kembali mengingatkan kita pada satu hal fundamental: dalam kebencanaan vulkanik, yang kita pantau tidak boleh hanya gunungnya, tetapi dampaknya.

BMKG memang tidak memiliki tugas memonitor aktivitas magmatik gunung. Tugas kami adalah memantau apa yang terjadi setelah erupsi itu keluar dari kawah: ke mana debu vulkanik menyebar, seberapa tinggi ia membubung, dan apakah ia memicu ancaman turunan seperti tsunami.

Dari peristiwa kali ini, ada empat pelajaran penting yang patut dicatat.

1. Kecepatan Informasi Adalah Bentuk Mitigasi

Erupsi Anak Krakatau kali ini tidak bersifat lokal. Sebaran abunya tidak hanya ke Samudra Hindia, tetapi meluas ke timur hingga Jakarta dan Jawa Barat. Ini adalah pola sebaran yang luas dan berbahaya.

Maka pada tanggal 6 September, di hari yang sama saat peningkatan signifikan terjadi, BMKG langsung merilis press release resmi terkait sebaran abu vulkanik dan potensi kenaikan gelombang. Siaran pers ini disampaikan kepada rekan-rekan media, dan dilanjutkan dengan konferensi pers bersama Kepala BMKG, Kepala BNPB, dan Menteri Kesehatan.

Di era disrupsi informasi, kecepatan adalah kunci. Ketika informasi resmi lambat satu jam saja, ruang itu akan segera diisi oleh spekulasi.

Respon publik membuktikan betapa hausnya masyarakat akan informasi valid. Satu unggahan infografis di Instagram InfoBMKG pada 6 September mendapat lebih dari 17.000 likes, 124 komentar, 871 repost dan 199 kali dibagikan ulang. Itu menunjukkan bahwa publik menunggu, dan mereka percaya pada kanal resmi.

2. Abu Vulkanik: Ancaman Tak Kasat Mata di Langit dan di Darat

Pada citra sebaran abu vulkanik tanggal 6 September pukul 07.00 WIB, konsentrasinya terlihat sangat besar. Pada peta, warnanya bahkan mencapai merah dan ungu, dengan sebaran yang ditandai titik-titik kuning meluas ke Lampung, Banten, hingga Jawa Barat.

Kami memetakan abu dalam dua klaster ketinggian: klaster rendah hingga 15.000 kaki atau sekitar 5 kilometer, dan klaster tinggi dari 15.000 hingga 50.000 kaki atau sekitar 16 kilometer. Pergerakannya pun berbeda tergantung arah angin di tiap lapisan. Ada yang bergerak ke timur, ada yang ke barat.

Mengapa ini penting? Bagi dunia penerbangan, abu vulkanik di lapisan rendah sangat mematikan. Jika terhisap mesin pesawat, ia dapat menurunkan kinerja mesin, bahkan menyebabkan gagal mesin total di udara. Inilah alasan di balik keputusan penutupan beberapa bandara. Ini bukan keputusan berlebihan, ini soal keselamatan.

Namun dampaknya tidak hanya di langit. Debu yang turun ke darat mengganggu transportasi darat dan yang paling utama adalah kesehatan pernapasan. Menghirup partikel vulkanik dalam jangka waktu tertentu jelas berisiko.

3. Trauma 2018 Tidak Boleh Terulang: Waspada Tsunami Erupsi

Kita tidak boleh lupa. Pada tahun 2018, erupsi Anak Krakatau memicu longsoran dan menimbulkan tsunami di Selat Sunda tanpa gempa besar sebelumnya.

Karena itu, BMKG mengaktivasi penuh seluruh alat utama pemantauan potensi tsunami. Tidak hanya mengandalkan citra satelit, kami mengaktifkan sekitar 20 sensor di sekitar Selat Sunda. Data tersebut kami proses secara real-time melalui sistem InaTEWS dan jaringan seismik BMKG.

Kami juga memantau sensor muka air laut di sekitar gunung dan mengaktivasi radar maritim High Frequency Radar (HF Radar) yang terpasang di Carita dan Tanjung Lesung. Radar ini tidak hanya memantau ketinggian gelombang, tetapi juga arus laut.

Hingga pemantauan terakhir saat erupsi berlangsung, kami tidak mendeteksi adanya peningkatan signifikan pada ketinggian gelombang maupun arus laut. Informasi ini penting untuk meredam kepanikan, namun kewaspadaan tetap harus menjadi panglima.

4. Kolaborasi Adalah Kunci

Penanganan dampak erupsi tidak bisa dilakukan satu instansi. Paparan abu butuh penanganan kesehatan, penutupan bandara butuh koordinasi perhubungan, dan potensi tsunami butuh kesiapan BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah.

Konferensi pers bersama yang kami lakukan adalah simbol bahwa dalam kebencanaan, negara harus hadir dalam satu suara.

Erupsi Anak Krakatau kali ini adalah alarm. Ia menunjukkan bahwa gunung yang sama dapat memberikan dampak yang berbeda tergantung angin, musim, dan aktivitasnya.

Tugas kita ke depan adalah memastikan masyarakat tidak hanya tahu bahwa gunung erupsi, tetapi paham apa yang harus dilakukan: menggunakan masker saat kualitas udara memburuk, menunda penerbangan jika ada NOTAM abu vulkanik, dan menjauhi pantai ketika ada peringatan potensi gelombang tinggi.

Gunungnya boleh di Selat Sunda, tetapi dampaknya bisa sampai ke ruang tamu kita di Jakarta dan Jawa Barat. Dan untuk itulah BMKG akan terus berada di sana, memantau dampaknya.

*Ida Pramuwardani* – (Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG) 

Tulisan ini dari paparan diskusi dialektika yang diadakan Forum Wartawan Parlemen