BERITABUANA.CO, PALEMBANG – SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) mencatat kinerja produksi yang menggembirakan di tengah tantangan penurunan alamiah atau natural decline.
Pjs General Managef PHR Zona 4 Luthfi Ferdiansyah, mengatakan, laju penurunan produksi di wilayah Sumbagsel berhasil ditekan secara signifikan.
“Kalau untuk mengejar, mengurangi target natural decline tadi di Sumatera sampai ke 30 persen, kita udah jauh lebih baik. Mungkin kita bisa di kisaran 5 persen, 7 persen, jadi jauh lebih baik dibanding natural decline yang bisa kita tahan,” ujar Luthfi
Luthfi menjelaskan, keberhasilan tersebut ditopang oleh aktivitas pengeboran yang masif di sejumlah wilayah kerja. Pengeboran di Zona 4 menunjukkan hasil bagus, demikian juga di KKS Jabung dan proyek Cakrawala Belida.
“Di Belida kemarin juga bagus hasilnya. Gasnya dapat 5 MMSCFD, kemudian minyaknya dapat 2 ribuan barel dari SAS, 3 sidetrack,” jelasnya.
Salah satu Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan capaian tertinggi adalah PetroChina yang mencatatkan pencapaian produksi hingga 235 persen.
“PetroChina itu salah satu yang pencapaian produksinya 235 persen. Jadi lagi bagus ya, kuncinya itu ngebor. Zaman dulu dia ngebor terkendala karena mau transisi kontrak. Sekarang sudah mulai aktif ngebor, kemudian seismik juga dilakukan. Jadi terbukti, kalau orang ngebor, kalau orang seismik, hasilnya pasti ada,” kata Luthfi
Secara nasional, target produksi minyak nasional berada di angka 610 ribu barel per hari (BOPD). Kontribusi Sumbagsel sekitar 10-15 persen dengan target sekitar 67-69 ribu BOPD. Saat ini realisasi telah mencapai 68 ribu BOPD untuk minyak bumi dan kondensat.
“Itu baru minyak bumi dan kondensat, belum LPG. Kalau kita masukin LPG kita sudah lebih dari 70 ribu, karena kita produksi LPG-nya banyak. Dari Mentari, PHE Jambi Merang, Jantung, Medco, itu ada LPG semua,” ungkapnya.
Untuk kegiatan eksplorasi, SKK Migas Sumbagsel menargetkan pengeboran 16 sumur eksplorasi tahun ini. Namun Dwi mengakui masih ada sejumlah tantangan, terutama terkait pengadaan lahan.
Percepat Proyek Saka Kemang
Luthfi juga memaparkan perkembangan proyek besar di wilayah Sumbagsel, yakni Proyek Suban Baru, Suban dan Rebun Jaro di Medco Grissik dengan potensi sekitar 120 MMSCFD, serta Proyek Saka Kemang.
Untuk Saka Kemang, terjadi perubahan skema pengembangan pada Plan of Development (POD) 2 Revisi. Jika sebelumnya saat masih dioperator Repsol, target on stream direncanakan Q 1 2028, kini dipercepat menjadi Q3 2027
“Produksinya masih sama, plateau-nya rata-rata di 82 MMSCFD selama 8 tahun, kumulatif produksinya 474 Billion Standard Cubic Feet (BSCF). Dua sumur pengembangan, existing KBD-2X dan new KBD-4,” jelas Luthfi
Perubahan signifikan terjadi pada fasilitas. Dari yang semula akan membangun fasilitas mandiri dan CO2 pipeline 10 inci sepanjang 50 kilometer, kini skemanya berubah menjadi tie-in menggunakan fasilitas existing Medco Grissik.
“Jadi lebih cepat dan investasinya pasti lebih efisien. Pipeline-nya sekarang 16 inci langsung ke Grissik. Produced water langsung ke North Sumbagsel, sudah ada sumurnya, jadi tidak perlu ngebor lagi,” katanya.
Untuk teknologi Carbon Capture Storage (CCS), jadwal injeksi juga mengalami penyesuaian dari Q1 2028 menjadi Q3 2029 karena prioritas utama Medco saat ini adalah produksi gas terlebih dahulu.
Selain itu, skema penjualan gas juga berubah. Dari yang semula 75 persen ekspor dan 25 persen domestik, kini 100 persen untuk kebutuhan domestik. (Kds)







