Kenakan Pakaian Adat, Penggiat UMKM Nasional: Serukan Cinta dan Kepedulian untuk Papua

by
Penggiat UMKM. (Foto: Jal)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Konvensi Multi Distrik Lions Clubs International ke-50 yang digelar di Bandung berlangsung meriah dan dihadiri sekitar 1.200 fellow lion dari berbagai daerah di Indonesia serta sejumlah negara sahabat.

Kegiatan tahunan tersebut dibuka langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dalam sambutannya, Dedi mengapresiasi Lions Clubs International atas kontribusi nyata dalam pelayanan kemanusiaan, khususnya di wilayah Jawa Barat.

Menurutnya, penyelenggaraan konvensi di Bandung turut memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat, terutama bagi pelaku UMKM.

“Pengusaha hotel happy, toko oleh-oleh happy, pemerintah setempat juga happy karena pajak ada tambahan pemasukan,” kata Dedi Mulyadi di hadapan peserta konvensi.

Salah satu tokoh yang turut hadir dalam pembukaan konvensi bertema Nusantara adalah Widhiyani Mokhamad, yang dikenal sebagai penggerak UMKM nasional. Widhiyani diketahui merupakan salah satu Charter President Lions Club Temanggung Sindoro.

Penampilan Widhiyani menarik perhatian peserta karena mengenakan pakaian adat khas Papua lengkap dengan rumbai tradisional, kalung kerang, serta mahkota adat. Kehadirannya dengan balutan budaya Papua menjadi simbol pesan persatuan dan kecintaan terhadap keberagaman Indonesia.

Kepada media, Widhiyani menyampaikan, pilihannya mengenakan pakaian Papua merupakan bentuk ajakan untuk lebih mencintai Papua sebagai bagian utuh dari NKRI.

“Papua bukan tanah kosong. Ada keberagaman suku dan budaya di sana, termasuk kekayaan alam yang luar biasa. Jangan gantikan kekayaan itu dengan tanaman industri seperti sawit atau lainnya,” kata Widhiyani dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/5/2026).

“Papua tidak membutuhkan pendekatan kekuatan militer untuk ditata. Papua membutuhkan hati kita semua untuk dipeluk dan dicintai tanpa tapi,” tambahnya.

Sebagai seorang anggota lion, Widhiyani menegaskan, nilai kemanusiaan harus terus dijunjung tinggi sebagaimana tertuang dalam tujuan dan kode etik organisasi lion.

Menurutnya, tanggung jawab sosial seorang lion mencakup perhatian aktif terhadap kesejahteraan masyarakat, baik dalam bidang sosial, budaya, pendidikan, maupun kesehatan.

Bahkan, ia juga menegaskan bahwa kritik sosial tetap diperlukan selama dilakukan dengan niat membangun.

“Jika diperlukan, kritik harus disampaikan dengan bermurah hati, dengan tujuan membangun, bukan menghancurkan,” sebut direktur Sinergi UMKM Indonesia ini.

Untuk itu, Widhiyani berharap Konvensi ke-50 Multi Distrik Lions Clubs International di Bandung tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan penguatan organisasi.

“Tetapi juga momentum memperkuat nilai kemanusiaan, keberagaman budaya, serta kepedulian sosial bagi masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (Jal)