AS-Iran Kembali ke Islamabad

by
Sabpri Piliang. (Foto: Dok)

BERBOHONG, bukan karena dia pembohong! Semata, memang tak ada kebenaran yang dapat diucapkannya” (Ernest Hemingway, penulis-Nobel Sastra 1954).

“Zanzak” (bahasa Belanda), merupakan karung berisi pasir. Dia dirancang untuk dipukul, didorong, ditendang berulangkali, dalam latihan beladiri. Kita menyebut ‘samsak.

Samsak itu bernama Lebanon! Kebohongan demi kebohongan narasi dari konflik yang berkelindan: Israel, Suriah (dulu), Iran, tanpa “polisi” netral (AS). Membawa negara berjuluk ‘Swiss-nya Timur Tengah ini, pada ‘apokaliptik’.

Sehingga negosiasi Washington, antara Israel-Lebanon yang dimediasi AS (13 April kemarin). Lebih sekadar “joking” (bercanda), antara AS-Israel, sekadar memberi “gula-gula”pada manusia beradab (dunia) yang mengelus dada.

Tak ada hal penting, tak ada jalan mengakhiri pembunuhan terhadap rakyat Lebanon. Tak ada “dayapaksa” AS mencegah Israel  membom “acak”, sekalipun beralasan memburu Hezbollah.

Lebanon telah menjadi “samsak”, menjadi “buffer” kegagalan Israel meruntuhkan rezim teokrasi (Mullah) Iran. Lebanon menjadi sandera memancing kemarahan Iran, agar berperang lagi dengan AS.  ‘Margin’-nya bagi Israel, pelemahan gradual Iran.

“Berbohong”, bukan karena AS, Israel, Iran adalah pembohong”! Namun, siapa diantara ketiganya sungguh telah berbohong, ber-moral hazard? Sambil “tersenyum”, menjadikan Lebanon sebagai tanah apokaliptik, tanah tanpa peradaban.

Pakistan sebagai mediator negosiasi gencatan senjata dua minggu, antara AS-Iran,  mengkonfirmasi tegas. Lebanon adalah bagian ‘intrinsik’ (elemen dasar) kesepakatan gencatan senjata Islamabad. Iran, pun tegas mengakui.

Israel yang tidak ikut dalam negosiasi “trade-Off gambit” (bertukar konsesi-tawar menawar), justru membantah bahwa Lebanon bukan ‘intrinsik’ negosiasi.

Menjadi “argument clinic” (varian statemen). AS-Iran yang berunding, mengapa justru Israel yang menjawab? Sayangnya, Wapres JD Vance juga Trump kemudian menduplikasi argumen Israel, dengan diksi yang sama.

Hal ini mengingatkan Presiden Barrack Obama, yang mengoreksi statemen-nya sendiri. Menyangkut kedaulatan wilayah Palestina sebelum perang 4 Juni 1967. Pemerintah AS selalu  dikendalikan Israel?

Wajar, bila Israel selalu suka, setiap negosiasi dengan negara Timteng mana pun, AS menjadi pilihan sebagai mediator. Indikatornya apa?

Secara tersirat, jururunding Israel, Yechiel Leiter sempat menolak tawaran Presiden Perancis (Emmanuel Macron) untuk ikut memediasi Israel-Lebanon. Tak  bisa mengendalikan Perancis dalam rekayasa. Sejatinya, itulah asumsi terselubung Israel.

Negosiasi Israel-Lebanon, terasa hambar dan seperti “gurauan” Israel, yang merasa lebih kuat.  Kata-kata Ernst Hemingway, tak ada kebenaran yang bisa diucapkan, bisa diuji.

Kantor Presiden Lebanon (Joseph Aoun) mengatakan, Lebanon-Israel akan membahas gencatan senjata, ditampik Israel. Tak ada gencatan senjata, Israel hanya berfokus pada pelucutan senjata Hezbollah, dan bukan gencatan senjata.

Israel dan Lebanon memasuki meja negosiasi dalam posisi yang sangat berbeda. Negosiasi, bukan berarti normalisasi yang luas. Israel tidak akan menghentikan perangnya terhadap Lebanon, hingga pemerintah Lebanon mampu melucuti Hezbollah. Hal yang mustahil.

Penderitaan rakyat Lebanon, dan negosiasi Washington tidak tidak linear sebagai “roadmap” mengakhiri perang. Israel mungkin hanya menganggapnya sekadar proses, sementara Lebanon menginginkan satu  peristiwa menggembirakan.

Negosiasi Washington antara Israel-Lebanon yang dimediasi AS, sebenarnya menjadi kesempatan AS untuk menunjukkan dirinya sebagai ‘regulator’, bukan ‘player’. AS seharusnya bisa bertindak sebagai ‘arbitrator’, untuk memaksa Israel mengakhiri gempuran mematikan terhadap rakyat sipil.

Israel, terkait Lebanon bertujuan mengasah dua mata pisau sekaligus. Menyingkirkan proxi Iran (Hezbollah), untuk kelak hanya fokus pada satu front tempur secara langsung dengan Teheran. Sementara terhadap Houti, Israel tak terlalu risau. Geografis Yaman, tak langsung berbatasan dengan Israel.

Lebanon, porak poranda. Keseimbangan faksi pemerintahan Lebanon: Druze, Meronit, Hezbollah, Amal Syiah, menjadikan negara ini terkungkung dalam posisi “maju kena-mundur kena”. Melucuti Hezbollah, ekuivalen dengan kekacauan.

Sering mengalami perang saudara, karena pertimbangan ideologi yang merata, terlalu naif bagi Israel memaksa pemerintahan Joseph Aoun melucuti Hezbollah, sekaligus menghapus pengaruh Iran di Lebanon. “Sharing power” di dalam pemerintahan Lebanon (termasuk Hezbollah), sangat ketat.

AS sendiri, hingga kini, masih terikat perang dengan Iran, dan gencatan senjata tenggatnya akan berakhir 21 April mendatang. Apakah gencatan senjata berlanjut, atau membeli berperang?

AS-Iran Berunding Lagi

Presiden AS Donald Trump, di tengah blokade-nya terhadap sisi Timur Selat Hormuz, mengindikasikan. Negosiasi lanjutan dengan Iran, dua hari mendatang akan diteruskan.

Peran Kepala Staf AD Pakistan Jenderal Asim Munir yang dikenal dekat dengan Trump,  nampak berperan “memaksa” melanjutkan mentahnya negosiasi sesi I Islamabad.

Pakistan memainkan “kriket” dan “hoki”(dua cabang olahraga yang Pakistan juara dunia), dengan cantik, atau seperti ‘arbitrator’ yang dapat memaksa (merayu) AS dan Iran untuk memasuki fase kedua negosiasi.

Trump, kepada “New York Post”, seperti dikutip “The Guardian” (15 April 2026), mengakui bahwa sesuatu akan terjadi di Islamabad dalam satu atau dua hari mendatang.

AS sepertinya tidak terlalu yakin dengan keputusan blokade Selat Hormuz sebagai jalan terbaik. Sisi lain, melanjutkan membom Iran, juga tidak efektif, tidak meruntuhkan rezim sebagai target strategis.

Blokade AL (AS) terhadap kapal yang menggunakan pelabuhan Iran, sebagai balasan penutupan total Selat Hormuz oleh Iran. Memunculkan dilema inklusif dan kecaman negara Eropa, sebagai tidak efektif untuk menekan Iran.

Solusinya hanya satu. AS tidak boleh lagi bersikap seperti pialang saham (broker) dalam menyelesaikan setiap pertikaian di Timur Tengah. “Toxic” adalah “Toxic” (racun), “honey” (madu)  adalah “honey”!

“Hingar-bingar” (memekakkan telinga), dan selalu berulang,  semata karena  kegagalan AS mengendalikan Israel yang dihantui ‘paranoia’  historis. Berlanjut ke perang demi perang sebagai jalan mempertahankan rampasan.

Kelahiran negara Israel yang “cacat sejarah” (rekayasa Inggris), membuat negara zionis ini terus merasa terancam. Paranoia-lah yang memunculkan ego dan arogansi berbahaya, dan kemudian berwujud genosida (Gaza-Lebanon).

Lebanon hanyalah ‘gurauan’, dan bila AS mau, perdamaian AS-Iran-Israel (termasuk Lebanon), bisa selesai dalam hitungan jam. Bahkan saat Donald Trump tidur, lalu terbangun JD Vance-Mohammad Bagher Ghalibaf telah bersalaman.

Teringat Joseph Patrick Kennedy Sr/Joe Kennedy (1888-1969), saat mengajarkan anaknya Presiden AS John F. Kennedy (JFK) dalam satu semboyan: “Tak perlu marah, langsung saja balas dendam” (Stillness Is The Key: Ryan Holiday: Penguin Publishing Group: 2019).

Terus menjadi pertanyaan. Apakah Trump akan terus garang, meniru seperti saran Joe Kennedy Sr ke JFK? Apakah narasi “zaman batu”, “pergilah ke neraka”, kembali bergulir?

Harapan kita, Trump akan lebih realistis dalam  melihat Iran. Negeri teokrasi ini,  bukan “anak bawang” yang mudah digertak atau diancam!

Dua hari ke depan, apakah Pakistan berhasil membawa mereka kembali ke Islamabad? Fluktuatif sikap Trump, selalu menarik diperhatikan.

*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co