Rantai Energi: Bab al-Mandab, Hormuz, dan Strategi Iran

by
Sabpri Piliang. (Foto: Dok)

SATU lelucon! Anda menggaruk punggung saya, maka saya akan menggaruk punggung Anda! Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab, dua punggung mematikan, sangat mematikan!

Sekitar 2.000 tahun lalu, penyair besar Romawi (Virgil) menulis dalam “The Aeneid”: “Waspadalah terhadap bangsa Yunani yang membawa hadiah”. Euphemisme, “hadiah” adalah serangan atau kesemena-menaan.

Dan, “Singa akan terlihat paling tampan, ketika sedang mencari mangsa”. Penyair Persia (Iran), Jalaludin Rumi (1207-1273) pun seperti halnya Virgil (Romawi: Italia sekarang).

Narasi keduanya, tak ada rasa takut menghadapi marabahaya dan ancaman. Terlebih, sebagai dua bangsa besar dan berwibawa (Romawi dan Persia), selalu  mencari cara, mencari jalan untuk berlaku “timbal balik”.

Bahkan Niccolo Machiavelly (ahli teori dan filsuf Italia), membuat satu tamsil (teori ‘berhutang’). Ketika seseorang (satu negara) berbuat baik pada orang lain (negara), maka balasannya adalah kebaikan.

Kematian Khamenei, implisit sebagai hutang AS-Israel. Iran berasumsi, layaknya teori “timbal balik” Machiavelly. AS-Israel “berhutang”, atas kematian Ayatollah Ali Khamenei.

Kebesaran Romawi, dan Persia, tak tertandingi di kekinian (baca: AS dan Israel). Survival Iran dari ribuan bom random ‘sampling’ AS-Israel, tak luput dari kebesaran bangsa Persia (Iran) di  masa lalu.

Secara teori, kematian Ayatollah Ali Khamenei, politisi Ali Larijani, dan puluhan jenderal pimpinan militer Iran (IRGC), semestinya rezim ini telah berakhir dengan “bendera putih”. Runtuh!

Alih-alih menyerah, Iran makin membuat dunia kalang kabut. Baru dengan blokade Selat Hormuz, dan baru 30 hari peperangan, infrastruktur ekonomi yang ditopang  “crude oil”, kebutuhan helium, gas sebagai bahan baku pupuk, sudah dirasakan pahit oleh dunia.

Serangan bom tanpa henti Israel (merasa unggul) terhadap Teheran, seperti tidak terjadi apa-apa. Kematian elite militer Iran, dianggap biasa. Rudal, drone Iran, terus mengalir deras ke Israel, dan negara Teluk kaya, dengan diksi serangan itu untuk AS.

Menarasikan militer, dan rudal Iran telah dihancurkan. Sejumlah pakar menyebut, persenjataan Iran jauh hari telah terdesentralisasi, dipersiapkan untuk membuat AS-Israel ‘letih’. Sejauh ini, baru sepertiga senjata Iran yang dilumpuhkan. Iran sanggup berperang hingga enam bulan ke depan.

Kekerasan hati Iran menunjukkan tekad mereka, untuk membuktikan kerusakan dunia. Bila tak ada yang menghentikan secara resiprokal, semua sektor akan hancur.

Bagian tersulit dari “the day after”, yaitu mempercayai perkataan Donald Trump. Mengapa? Trump bukanlah pemimpin dan pemain politik rasional. Trump berlaku seenak, sesukanya sendiri.

Sisi tersulit lain, Iran sudah “mati rasa” untuk meyakini diksi Trump soal gencatan senjata, perdamaian, dan negosiasi. Kedua kutub telah menjadi ‘bipolar’ yang saling berbeda arah: satu ke Timur dan satu ke Barat. Iran dan AS, tak lagi dalam satu ‘Kongruen’, dengan sudut yang berkesesuaian.

Tidak ‘Kongruen’-nya Iran-AS, tercermin dari frasa Iran yang menyebut, Donald Trump selalu menyebut Iran, Iran, dan Iran yang ingin bernegosiasi. Sesungguhnya, itu sangat sulit bila melihat karakter Trump.

Saat Trump men-diksi-kan jeda serangan terhadap Teheran, justru Israel semakin “menggila” membombardir Iran. Terakhir, pabrik baja Iran yang menjadi sasaran. Apa ini? Konklusi Iran. “Trump hanya bernegosiasi dengan dirinya sendiri” (The Guardian, 29 Maret 2026).

Peningkatan jumlah pasukan AS di kawasan Timur Tengah, dan kini tengah mempertimbangkan 10.000 militer tambahan (di samping 7.000 pasukan darat otw). Memperlihatkan, AS mencoba menipu Orang dengan argumen negosiasi di “depan pintu”.

Sikap AS yang ‘ambivalen’ (ambiguitas) ini, memberi langkah Iran (menghidupkan) proxi-nya, lewat langkah catur  Houthi di Yaman. Baru sekarang? Menjadi sempurna, dengan  mematikan ekonomi dunia, via  Selat Bab al-Mandab (ujung selatan Laut Merah).

Iran sengaja tidak “membangunkan” Houthi, di awal perang hingga hari ke-30. Iran hanya menggunakan kekuatan geografi Selat Hormuz-nya, sebagai tes “the water” (uji ombak), untuk melihat sejauh mana pengaruh ‘market’ ekonomi dari satu Hormuz saja.

Ternyata efektif, dan kalang kabut! Harga “crude oil” ber-fluktuatif, dengan ‘peak’nya US$ 119.  Terjungkalnya obligasi di sejumlah negara Eropa, akibat Selat Hormuz, menjadi “collateral damage” (kerusakan sekunder) sebagai akibatnya. Berikutnya? Iran akan memainkan Selat Bab al-Mandab lewat tangan proxi, Houthi.

Titik Rawan Houthi

Kini Iran tengah bersiap memberi pelajaran ke-2 pada AS! Jalur maritim Bab al-Mandab yang dilewati sekitar 12 juta barel per hari ‘crude oil’, akan melengkapi ‘sepupunya’, Selat Hormuz sebagai kartu truf.

Sebagai rantai pasokan energi penting ke Eropa lewat Terusan Suez (menuju Laut Mediterania). Laut Merah (Selat Bab al-Mandab) yang terletak antara Yaman dan Tanduk Afrika (Afrika), menjadi empuk untuk mencegah aliran minyak.

Menutup Selat Hormuz (jalur minyak ke Samudra Hindia/Asia), lalu menutup Selat Bab al-Mandab (jalur minyak ke Laut Mediterania/Eropa), akan menyetop total 32 juta barel hari (bpd), dan itu adalah “kiamat ekonomi” global. Bukan lagi krisis global, tapi kiamat global.

Peperangan pun, tidak lagi antara AS-Israel terhadap Iran, tapi Arab Saudi yang”tercekik” distribusi “crude oil”nya, suka atau tidak, akan ikut berperang. Aliansinya, pun berubah, men jadi AS-Arab Saudi-Israel versus Iran.

Arab Saudi yang selama ini berproduksi antara 10 juta-12 juta barel per hari (bpd), sebelum blokade Selat Hormuz. Masih mampu mengalirkan “crude oil” ke ‘storage’nya di Yanbu (Tepi Laut Merah) ‘ sebanyak 7 juta bpd. Kemudian dari Yanbu via Terusan Suez (Mesir) dibawa ke Eropa lewat Laut Mediterania.

Trump tidak boleh meremehkan ini! Infrastruktur ekonomi, bahkan militer AS di Teluk akan semakin berbahaya, bila Arab Saudi ikut berperang karena terpaksa.

Daya rusak blokade Laut Merah (Selat Bab al-Mandab), akan melebihi apa pun, bila AS jadi menerjunkan pasukannya untuk mengajak Iran perang darat (Pulau Kharg). Iran sudah sangat siap. Merusak segala lini.

Blokade sempurna  jalur minyak ke Eropa-Asia (Selat Hirmuz-Selat Bab al-Mandab), menjadikan ekonomi dunia ke “zaman kegelapan”. Analogi, untuk mengatakan, semua negara akan “jatuh miskin”, terlebih Iran sudah “niothing to lose”.

Trump! Berhati-hatilah membawa  “hadiah”, seperti kata Virgil (2000 tahun lalu).

*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co