PEMIKIRAN konvensional meng-asosiasikan otak, dengan ketel uap yang berisi air. Kalau dipanaskan, tutupnya akan terangkat oleh tekanan yang bertambah.
Iran adalah tutup “ketel uap”, yang dimunculkan AS-Israel. Agresi keduanya, hingga hari ke-26, telah membangunkan kekuatan “neuroplastisitas” (kekuatan super pikiran), akibat respon luka kematian sang pemimpin.
Donald Trump, Netanyahu, Mojtaba Khamenei, dan para Sultan negara Teluk (GCC), universal terlahir membawa dua ketakutan primitif. Setiap kita (manusia), punya rasa takut! Negara Teluk (GCC) takut dengan AS.
Takut jatuh, dan takut bunyi keras yang mengejutkan, merupakan dua ketakutan primitif. Sudah ada, sejak bangsa Persia muncul 3.000 tahun lalu, atau terbentuknya negara Israel (1948) atas dasar deklarasi Balfour. Di tanah Palestina.
Pemimpin negara-negara yang berperang, seperti AS-Israel-Iran, saat atau setelahnya dapat mengalami ketakutan primitif: sampai kapan perang ini berlangsung, apakah kita akan kalah, atau gagal mencapai target perang.
Penundaan serangan AS terhadap fasilitas listrik Iran (dari 48 jam ke 120 jam), tak luput dari munculnya ketakutan ‘primitif’ Trump, atas ancaman balasan Iran ke negara Teluk.
Narasi Trump, AS tengah berbicara dengan pihak tertentu Iran, yang dibantah Ketua Parlemen Iran (Mohammad Bagher Ghalibaf), sebagai “berita palsu”! Memunculkan analisa, AS tengah mengalami “ketakutan primitif.
Kegagalan menjatuhkan rezim Mullah, yang bermula dari “design” demo besar rakyat Iran, lalu menghasut suku Kurdi Iran, dan alternatif ke-3, lewat serangan gabungan AS-Israel membunuh para elite Iran. Semua tak memenuhi ambang.
Inisiatif perdamaian, sudah pasti tidak akan lahir dari “rahim” Iran. AS tak akan mau berdamai, seandainya Trump dalam posisi unggul atau hampir memenuhi target kemenangan, seperti yang sering diduplikasi, diumbar, di-propaganda.
Mengganti rezim teokrasi, seperti yang dikatakan Trump-Netanyahu di awal serangan (28/2), tak bisa ditarik ke belakang. Semua telah gagal, dan perang tidak tiga hari, tidak empat pekan, atau berapa pekan pun. AS-Israel telah gagal meruntuhkan para Mullah.
Ketakutan “primitif”-lah yang mendorong Trump mencari jalan terhormat mengakhiri perang. Tidak muncul serta merta. Ada kalkulasi masak yang dihitung Trump, meski Israel tetap memaksa terus berperang.
Model, atau modal historis AS di Vietnam dan Afghanistan, merupakan fitur cacat negeri adidaya ini, yang tak boleh terulang. Trump, memahami betapa lancungnya kehebatan AS, bercermin pada tragedi Vietnam dan Afghanistan.
George W. Bush yang memulai (2001), dilanjutkan Barrack Obama, dan Joe Biden yang mengakhiri (2021). Satu hal yang sangat tidak membanggakan bagi sang “penutup” kedigdayaan AS di Afghanistan (Joe Biden). Pergi “terbirit-birit”.
Vietnam, pun begitu. Presiden Dwight Eisenhower memulai keterlibatan AS di Vietnam (1955), berlanjut eskalasi militer besar-besaran pada era John Fitzgerald Kennedy (1961), dan puncak perang semasa Lyndon B. Johnson (1964). Gerald Ford yang menanggung, juga pergi terbirit-birit (1975).
Prinsip demokrasi adalah “ketimbalbalikan”. Tak sepatutnya AS-Israel menyerang sekaligus membunuh pemimpin negara lain (Iran), sebaliknya Iran juga tidak akan melakukan hal yang sama. Membayangkan, bila Iran bertekad berlaku sama, karena pemimpinnya dibunuh?
Demokrasi membutuhkan keseimbangan, dan betul AS menginginkan ada ruang perubahan di Pemerintahan Mullah. Namun, itu bukan AS atau Israel yang mesti mengupayakannya. Apalagi dengan dalih nuklir, kemudian menempuh jalan kekerasan.
Ketakutan primitif sepertinya kini melanda kawasan Teluk, mungkin juga Presiden AS Donald Trump mengalaminya. Israel yang kalap, dan Iran yang “terluka” makin lepas kendali menghancurkan infrastruktur hajat masyarakat dunia: ladang minyak & gas.
Di tengah kebuntuan, mengejutkan! Trump melakukan pembicaraan telepon dengan Kepala Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir. Nyaris, belum pernah persoalan Timteng menggunakan Pakistan sebagai mediator. Biasanya: Qatar, Mesir, Oman, UEA.
Iran Memilih
Iran telah belajar sekitar tujuh putaran negosiasi dengan AS. Masa Barrack Obama ada keberhasilan, di mana sanksi Iran dicabut AS (2015). Iran memberi imbalan kooperatif, menurunkan persentase pengayaan uranium (bahan nuklir) hingga 3,57 persen.
Pada dasarnya Iran tidak berniat, seperti ‘paranoia’nya Israel yang terus membisikkan hal negatif pada AS. “Iran menjadi ancaman ekstensial”, yang tak pernah digubris semasa Barrack Obama dan Joe Biden.
Donald Trump, masuk dalam “perangkap” target Israel untuk membuat arsitektur baru Timteng secara sempurna. Perang yang tidak didukung masyarakat AS, Uni Eropa, dan NATO ini, menjerumuskan Trump pada situasi sulit dan berbahaya.
Semboyan Trump “Make America Great Again (MAGA), dan “American First” yang mengutamakan kepentingan bangsa Amerika (AS) sebagai prioritas, kini mentah. Bisa saja MAGA berubah menjadi MIGA (Make Israel Great Again).
Trump sepertinya menyadari, perang ini sudah tak bisa diteruskan. Setelah percakapan telepon antara Trump dan Munir (KSAD Pakistan), PM Pakistan Shehbaz Sharif berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Keduanya sepakat de-eskalasi, dialog, dan diplomasi mendesak (The Guardian, 25 Maret 2026).
Iran yang sudah ‘zero’ (nol) percaya terhadap Washington, diduga akan membuka diri untuk berunding dengan catatan. Bukan lagi Steve Witkoff dan Jared Kushner yang notabene masih keturunan Yahudi AS. Iran boleh jadi menduga, keduanya terafiliasi kental dengan kepentingan Israel.
Duet Witkoff-Kushner sebagai negosiator AS, menjadikan pembicaraan tersebut sebagai upaya pemerintah Trump menyuruh Iran berpikir seolah AS menginginkan solusi diplomatik. Sesungguhnya untuk mengalihkan perhatian dan kemudian menyerang Iran di saat lengah.
Perundingan AS-Iran, diperkirakan berlangsung pekan ini. Tenggat lima hari AS kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz, untuk memberi peluang berlangsungnya negosiasi yang dipilih Iran di Islamabad (Pakistan).
Tanpa Witkoff dan Kushner (menantu Trump), tersiar Iran meminta Wapres JD Vance sebagai negosiator AS. Iran memandang, bersama Vance, negosiasi akan membuahkan hasil (The Guardian). Vance sendiri, tidak antusias ketika AS memutuskan menyerang Iran.
Terlahir dari keturunan Scots-Irish (Skotlandia-Irlandia) AS, Wapres JD Vance sangat kental dengan budaya dan kultur, sehingga membentuk identitasnya saat ini. Keinginan Iran memilih JD Vance, demi menghindari konflik kepentingan Israel dalam penyelesaian perang AS-Iran.
Media “mainstream” Israel Yedioth Ahronoth (25 Maret 2026) memberitakan secara skeptis rencana ini. Bila pembicaraan AS-Iran di Islamabad jadi terlaksana. ‘
Dalam Banner’-nya tertulis, “Trump mulai menyerah pada Iran, karena tujuan perang belum tercapai dan rezim tetap utuh”. Media ini menganggap, langkah AS sebagai kemenangan Iran.
Ketakutan ‘primitif’, adalah manusiawi. Trump juga berhitung, dan tak ingin berakhir seperti Gerald Ford dan Joe Biden. Kalah di Vietnam dan Afghanistan!
Iran adalah “ketel (boiler/bejana) uap”, makin dipanaskan, tekanan katupnya semakin kuat.
*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co)







