RUBAH MERAH (Vulpes vulpes) adalah predator! Omnivora, dia adalah pemakan segala, dan hidup di savana, tundra, gurun, dan pegunungan. Kebiasaannya berburu!
Menginspirasi manusia, sebagai metaforis. Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani, dua tokoh utama Iran yang punya ruang negosiasi, diburu “sang Rubah” yang Omnivora.
Kematian Khamenei dan Larijani, tidak menghasilkan apa pun bagi perdamaian, dan bagi AS-Israel. Terlebih konsep Iran, di fase sebelum terjadi konflik bersenjata, jika AS memulai perang, maka akan terjadi perang regional. Terbukti, regional hancur.
Janji Iran! Fase baru konflik akan segera dimulai, kala AS-Israel menyerang fasilitas energi Iran. Dibuktikan dengan menghancurkan 37 fasilitas energi negara-negara Teluk dalam perang menuju minggu ke-4 .
Semua kerusakan mencakup: kilang minyak, ladang gas alam, serta fasilitas energi lain, yang terdapat di enam negara Teluk, juga Irak. Perusahaan minyak Kuwait (Kuwait Petroleum Corporation), di mana serangan Drone Iran menyebabkan kebakaran di kilang Mina al-Ahmadi (New York Times, 20 Maret 2026).
Jalan keluar menyelesaikan perang, kini penuh dengan keputusasaan. Tindakan tanpa konsultasi Netanyahu (ladang gas Iran South Pars), memunculkan persepsi kuat mempersalahkan Trump. “Anda bisa menghardik siapa pun! Mengapa Netanyahu begitu leluasa”?
Ekosistem energi negara Teluk yang megah kini semakin rapuh. Menempuh jarak 4.000 km, rudal Iran yang menjangkau Pangkalan Militer AS di Samudra Hindia (Diego Garcia). Membuktikan, rudal Iran tidak hanya sebatas 2.000 km, tidak hanya sebatas maksimal hingga kota Tel Aviv di Israel.
Israel atas dukungan AS telah menjadi Rubah Merah, menjadi Omnivora yang “memakan” apa pun fasilitas Iran: ladang minyak dan gas, fasilitas militer IRGC, Ayatollah Ali Khamenei, Ali Larijani, Esmail Khatib, kini mau apa? Semua telah rusak, perekonomian global rusak. Apakah Israel-AS menjadi hebat dan membuat dunia kagum?
Bagaimana perasaan Iran kini? Perasaan enam negara Teluk (GCC)? Berapa lama rasa sakit akan terasa? Apakah rasa sakit Iran akan berubah menjadi penderitaan atau kenekatan? Populer di Indonesia dengan tamsil “Yarji Yarbeh” (buyar siji, buyar Kabeh” (hancur satu hancur semua).
Melunakkan sikap, AS tidak lagi ‘utopis’ dengan target meruntuhkan rezim teokrasi dan “menghasut” rakyat Iran (memberontak), atau lewat serangan militer. Satu target yang telah ditetapkan Trump di awal serangan AS-Israel (28 Pebruari).
Pencabutan sanksi sementara (20 Maret-19 April) terhadap 140 juta barel ekspor minyak Iran oleh AS, telah mempermalukan ambisi yang tak terarah AS, atas desakan Israel. AS telah “menampar” wibawanya sebagai ‘unipolar tanpa lawan lewat keputusan ini.
Strategi ‘brinkmanship” (beresiko) AS mengajak Iran berperang tanpa menjerumuskan Negara Teluk: Kuwait, UEA, Oman, Qatar, Arab Saudi, Bahrain, ke tebing keruntuhan, justru membawa ke-6 sahabat AS ini pada kemirisan.
AS semestinya mau melakukan “prokrastinasi” (menunda sesuatu), dengan tidak menyebabkan kematian pemimpin tertinggi Iran yang dihormati (Ayatollah Ali Khamenei). Terlebih negosiasi Jenewa, tengah memperlihatkan kemajuan signifikan.
Permintaan pendanaan militer Pentagon (Departemen Pertahanan AS) hingga US$ 200 milyar kepada Kongres (DPR), harga “crude oil” US$ 125 per barel, dan rusaknya “mahkota” pabrik gas alam cair Qatar, Ras Laffan (terbesar di dunia), sesuatu yang pernah diingatkan Ali Larijani.
Iran terus merancang “kartu permainan”, yang tak terbaca oleh AS, maupun Israel. Pernyataan Trump akan mengakhiri perang, tak dipedulikan Iran. Malah, Sabtu (21/3), tepat di hari Idul Fitri, Iran meluluhlantakan fasilitas nuklir Dimona (Israel).
Pusat Penelitian Nuklir Shimon Peres Negev, yang dikenal sebagai reaktor nuklir Dimona, diserang rudal Iran, setelah sistem pertahanan udara Israel gagal mencegat dua proyektil. Melukai 100 orang, “The Guardian” (21/3) mengutip otoritas Israel, kejadian ini “peristiwa besar”. Menggambarkan dampak balistik Iran.
Memulai perang, dan sekarang menyatakan perang akan berakhir (AS), seperti tengah memandang “asap dan cermin”. Salah mengira, percaya diri demi menghargai diri sendiri (Trump), sebentuk kecemasan terlambat, bahwa perang ini, satu tindakan yang disesali.
Menghambat Peluang
“Nasi sudah jadi bubur”! Kematian Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani, memberi pelajaran pada Iran. Mereka akan terus diincar oleh “Rubah Merah”, Omnivora yang akan terus memakan Iran. Perang tak boleh berhenti!
Mohammad Khatami, reformis dan mantan Presiden ke-4 Iran (1997-2005), berpendapat. Pembunuhan Larijani telah menghambat peluang perdamaian. Tokoh yang tersisa, merupakan garis keras yang membatu, dan akan sulit dibawa ke meja negosiasi.
Mencengangkan, mereka yang menjadi sasaran Israel adalah sosok yang sesungguhnya beritikad dan bersemangat mewujudkan perdamaian. Kecerobohan Israel, makin memunculkan probabilitas perang habis-habisan Iran. Apakah AS dan Israel mau meladeni?
Suksesi internal rezim teokrasi Iran, pasca Khamenei dan Larijani, akan berdampak lebih buruk menuju peperangan yang lebih keras, lebih nasionalis yang beroperasi dalam struktur komando yang terdesentralisasi.
Trio Mojtaba Khamenei, Mohsen Rezaee, dan Saeed Jalili, akan mengajak AS-Israel untuk tidak mengumumkan dulu “kemenangan”, tidak mengumumkan perang telah berakhir. Ancaman demi ancaman Trump, merupakan “angin lalu”, Iran membiarkannya untuk terus diumbar.
Siapa yang akan mundur atau menyerah? Iran akan terus mengorbankan perekonomian negara Teluk, demi memberi pelajaran berharga pada Donald Trump. “Anda yang memulai (Trump), kami (Iran) yang , akan menentukan akhir ‘permainan”.
“Rubah Merah” yang bersepupu biologis dengan “Serigala” (Canis Lupus) dalam familia ‘Canidae’, lebih bersipat “opportunistic”. Dia akan mengajak Serigala untuk terus berburu. Apa pun risiko dan akibatnya.
Perang Iran dengan AS-Israel tak akan sudah, meskipun AS menyatakan selesai, dan men-‘declared’ telah menang.
*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co)







