Diskusi Dwilogi Noli Me Tangere dan El Filibusterismo, Menggugat Kembali Warisan Pemikiran Jose Rizal

by
Diskusi Dwilogi novel Noli Me Tangere dan El Filibusterismo yang digelar pada Minggu, 15 Februari 2026, di Perpustakaan Baca di Tebet, Jakarta. (Foto: Istimewa)

BERITABUANA.CO, JAKARTA — Gagasan tentang nasionalisme, kolonialisme, dan kritik sosial kembali mengemuka dalam Diskusi Dwilogi novel Noli Me Tangere dan El Filibusterismo yang digelar pada Minggu, 15 Februari 2026, di Perpustakaan Baca di Tebet, Jakarta. Forum ini tidak sekadar membedah karya sastra klasik, tetapi juga mengaitkannya dengan konteks kekinian Asia Tenggara yang masih bergulat dengan isu kekuasaan, identitas, dan ketimpangan sosial.

Dua novel monumental karya José Rizal itu dikenal luas sebagai fondasi kesadaran nasional Filipina pada akhir abad ke-19. Diskusi menghadirkan akademisi, pegiat literasi, dan mahasiswa yang menyoroti relevansi pemikiran Rizal terhadap dinamika politik modern.

Novel Noli Me Tangere (1887) menggambarkan kerasnya kehidupan masyarakat Filipina di bawah kolonialisme Spanyol melalui tokoh Crisostomo Ibarra. Kritik terhadap dominasi gereja dan penyalahgunaan kekuasaan menjadi benang merah cerita. Sementara sekuelnya, El Filibusterismo (1891), menghadirkan nuansa lebih gelap dan radikal, dengan tokoh yang kembali dalam wujud Simoun—simbol perlawanan yang lebih keras terhadap sistem kolonial.

Dalam diskusi tersebut, para pembicara menekankan bahwa dwilogi ini bukan sekadar karya sastra, melainkan teks politik yang membentuk kesadaran kolektif. Rizal, yang kemudian dieksekusi pada 1896, justru menjelma menjadi simbol perlawanan intelektual dan martir kebangsaan Filipina.

Beberapa narasumber menyoroti bagaimana tema ketidakadilan struktural, manipulasi hukum, hingga kooptasi agama dalam politik yang diangkat Rizal masih dapat ditemukan dalam berbagai bentuk di negara-negara berkembang saat ini.

“Rizal berbicara tentang kolonialisme, tetapi pesan moralnya melampaui zamannya,” ujar salah satu pembicara dalam forum tersebut.

Diskusi juga membandingkan konteks kolonial Filipina dengan pengalaman sejarah Indonesia di bawah penjajahan Belanda. Sejumlah peserta melihat kesamaan pola dominasi dan lahirnya gerakan intelektual sebagai respons terhadap penindasan sistemik.

Selain aspek historis, forum ini turut membahas pendekatan sastra sebagai instrumen perubahan sosial. Novel, menurut para pembicara, menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan kritik tanpa harus mengangkat senjata—sebuah strategi yang relevan dalam masyarakat demokratis kontemporer.

Acara ini menjadi ruang refleksi lintas generasi. Bagi kalangan muda, dwilogi Rizal menawarkan pelajaran tentang pentingnya literasi kritis dan keberanian moral. Bagi akademisi, teks tersebut tetap menjadi referensi penting dalam studi poskolonial dan gerakan nasionalisme Asia Tenggara.

Diskusi Dwilogi ini sekaligus menegaskan bahwa karya klasik tidak pernah benar-benar usang. Ia terus menemukan makna baru di tengah perubahan zaman—dan dalam konteks Asia Tenggara yang terus bergerak, suara Rizal masih terdengar lantang. (Ery)