Stagnasi Perang: Menunggu Godot Eskalasi AS-Iran

by
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden AS, Donald Trump. (Foto: Istimewa)

KAPAN AS menyerang Iran? Kapan pertempuran keduanya dimulai?  Waktu sempit AS pada Iran, justru de-eskalasi? Apa yang terjadi? Menunggu Godot! Penantian sia-sia.

Kehebohan akhir Januari, anti-klimaks-kah? Seperti “bumi akan runtuh”, perlahan melunglai. Apakah AS takut? Atau telah terjadi negosiasi ‘senyap’ AS-Iran?

Analogi perang AS-Iran, seperti sebuah simulasi. Bila terjadi perang akan seperti apa? Bila tidak, akan bagaimana. Sebagai ‘protagonis’, AS-lah yang membuat pilihan, bukan Iran sebagai ‘antagonis’ (versi AS).

Karenanya, teori perang, membedakan dua tahap negosiasi: manuver, dan pertempuran. Pertempuran, merupakan uji daya kekuatan moral dan fisik. Sementara manuver, adalah ‘step’ menggertak, agar lawan mengikuti maunya salah satu pihak (AS).

Pertempuran AS versus Iran, baru akan terjadi, ketika kedua pihak (AS-Iran) memiliki pemahaman yang sama. Mengenai, apa yang mereka perjuangkan. Serta apa yang dipertaruhkan.

Sekalipun AS, melalui ‘proxy’nya (Israel), telah memperlemah hampir seluruh ‘proxy’ Iran (di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman), Iran masih memiliki modal spirit menyangkut, apa yang rezim Mullah pertaruhkan.

Perang dan manuver, sesungguhnya berada dalam satu rumpun, dimana pertempuran adalah ‘tahapan’ penciptaan negosiasi. Sementara manuver, satu gerakan militer menggiring dan memaksa lawan , untuk memulai negosiasi.

Pergerakan kapal USS Lincoln ke Timteng, merupakan alat tawar-menawar (manuver) AS untuk Iran. AS ingin, program nuklir Iran tidak dikembangkan, bahkan ditutup. Target lebih jauh, manuver AS bertujuan mengakhiri rezim Iran.

Larry Wilson (penulis  AS) dalam buku “The Kremlin School of Negotiation” ( ditulis Igor Ryzov: 2023, Co Publishing Eksmo). Menyebutkan, kepemimpinan adalah tentang seseorang yang mengikuti orang lain, karena mereka memang ingin mengikutinya (alamiah). Bukan karena tekanan, atau paksaan.

Ketika Anwar Sadat-Manahem Begin berdamai untuk Mesir-Israel (1978) di Camp David (AS), keduanya secara natural mendengarkan arahan Presiden AS (Jimmy Carter).

Saat Yitzhak Rabin-Yasser Arafat berdamai di Oslo 1993, lanjut penandatanganan naskah perdamaian Washington. Keduanya secara alamiah mendengarkan saran Presiden AS, Bill Clinton.

Dalam sesi perdamaian Israel-Mesir dan Israel-Palestina (PLO), tidak terdapat manuver, tidak ada peperangan. Pihak-pihak yang berdamai, murni karena adanya keinginan mengakhiri pertikaian.

Bertolak belakang dengan konflik Iran-Israel, di mana AS (Trump) ikut tercebur ke dalam kubangan perang. Sesuatu yang memang diinginkan Israel. Terbiasa mengancam, Trump tak bisa menjadi seperti Carter, atau Clinton.

AS di bawah Trump, telah terperangkap dalam “permainan” provokasi” Israel. Serangan Israel ke situs nuklir Iran, yang kemudian dibalas Iran ke Tel Aviv, merupakan satu provokasi memancing emosi Trump.

Komponen Negosiasi

Stagnasi perang AS-Iran, memang diharapkan banyak pihak. Akibat yang ditimbulkan,  sepertinya menjadi pertimbangan AS. Proses negosiasi telah berjalan?

Terdapat tiga komponen untuk bisa berlangsungnya negosiasi AS-Iran. Yaitu: kekuatan, sarana, dan sumber daya. AS, maupun Iran memiliki ketiganya, atau salah satunya.

Menjelang negosiasi. AS maupun Iran, tetap mengarahkan seluruh “senjata”  dalam keadaan menyala. Masing-masing (AS-Iran) memiliki posisi dan keuntungan di berbagai variabel. AS dengan senjata, Iran dengan Selat Hormuz.

Melalui senjata yang “menyala” , AS akan memberikan Iran pilihan kompromi paksa. Di bawah tekanan hebat dengan moncong senjata,  maukah Iran menerima kesepakatan yang membatasi program nuklirnya?

Iran juga akan dipaksa mengurangi peran regionalnya terhadap (Houthi, Hezbollah, Hamas) dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi akut yang “mematikan” (The Guardian, 3 Pebruari 2026).

Bila Iran setuju (tanpa perang), AS sangat mungkin memberi jaminan kelangsungan Rezim Mullah, yang dianggap ‘proxy’ AS (Qatar, Bahrain, UEA,Oman) dan Israel. Sebagai sebuah ongkos politik yang mahal.

Tak tertutup pula kemungkinan, perang AS-Iran jadi berlangsung, yang disebut perang terkendali. AS hanya akan menargetkan pemimpin Iran sebagai “target operasi” (TO).

Risikonya, akan terjadi eskalasi regional dan reaksi ideologis (muncul kekuatan ekstrem). Pangkalan AS di kawasan Teluk, akan menjadi sasaran Iran, atau sasaran fundamentalis baru.

Katakanlah Rezim Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian runtuh oleh AS. Akan terjadi fragmentasi antar-elite Iran, dan perebutan kekuasaan kepemimpinan Iran pasca-Mullah. Hasilnya instabilitas berkepanjangan.

Paling mengerikan adalah,  terjadinya kekosongan kekuasaan, yang berbuntut melahirkan faksi-faksi ekstrem yang bukan transisi liberal. AS pun, pada akhirnya tetap tidak akan memperoleh ‘proxy’ baru di Iran.

Bagi AS beserta proxy regionalnya, kondisi ini berbahaya. Kemunculan kelompok garis keras (dalam sel-sel kecil ala Taliban Afghanistan), makin menganggu stabilitas negara Dewan kerjasama Teluk (GCG).

AS pun akan kerepotan mempertahankan para sultan (Raja),  yang selama ini sangat mengandalkan perlindungan AS. Keberadaan pangkalan militer AS di negara-negara Teluk, merupakan indikatornya.

Pertimbangan besar inilah yang membuat AS, berpikir panjang meruntuhkan Rezim Mullah. Negosiasi ‘posisional’, akan menghasilkan “deadlock”. Lantas, negosiasi ‘win win’?

Mungkin saja AS dan Rezim Mullah Iran akan menempuh negosiasi ‘Win Win’. Apa yang tidak mungkin dalam kekuasaan? Semua bisa terjadi, demi menghitung ulang (untung-rugi AS) bila perang terjadi.

*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co