Tinjau Situs Gua Jepang, Gubernur Melki Dorong Pelestarian dan Pengembangan Wisata Sejarah

by
Gubernur Melki Laka Lena saat meninjau Gua Jepang di Baumata. (iir)

BERITABUANA.CO, KUPANG – Pemerintah Provinsi NTT terus mendorong pelestarian dan pengembangan wisata sejarah, yang ada di NTT.

Hal ini disampaikan Gubernur NTT, Melki Laka Lena saat meninjau Situs Gua Jepang yang terletak di Bukit Fatusuba, Dusun Bonen, Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Kamis (22/1/2026).

Melki Laka Lena menegaskan bahwa sebagai Gubernur NTT sekaligus wakil Pemerintah Pusat di daerah, terus berkomitmen menindaklanjuti arahan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, terkait penataan dan pelestarian situs bersejarah tersebut.

“Setelah mendengar arahan Menteri (Fadli Zon), saya bersama Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan dan seluruh pihak terkait, akan membantu secara bertahap untuk merapikan dan menata situs Ini,” ujar Melki Laka Lena.

Menurut Melki Laka Lena, Situs Gua Jepang ini menunjukkan bahwa NTT, baik di masa lalu, masa kini, maupun masa depan, memiliki posisi yang strategis dalam peta dunia.

“Keberadaan Situs Gua Jepang, harus dimaknai sebagai bagian penting dari sejarah global, khususnya pada masa Perang Dunia II,” kata Melki Laka Lena.

Melalui pembelajaran sejarah masa lalu, tambah dia, masyarakat diharapkan dapat memahami posisi strategis NTT, dan memaknainya secara tepat untuk pembangunan ke depan.

“Dengan belajar sejarah, kita bisa memahami mengapa situs ini dibangun dan apa peran strategis NTT pada masa itu. Harapannya, pemahaman ini bisa menjadi bekal bagi kita dalam memaknai posisi strategis NTT ke depan,” tambahnya.

Melki Laka Lena juga menyampaikan, bahwa Pemerintah Provinsi NTT bersama para pemangku kepentingan, telah sepakat untuk mengembangkan Situs Gua Jepang sebagai destinasi wisata sejarah. Upaya penataan akan mencakup perbaikan akses jalan menuju lokasi, serta penataan kawasan situs.

“Kita ingin ketika orang datang ke Kupang dan bertanya, mau wisata ke mana, maka salah satu jawabannya adalah wisata sejarah di Gua Jepang ini,” katanya.

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT, Haris Budiharto menjelaskan bahwa Situs Gua Jepang di Bukit Fatusuba merupakan jejak sejarah berupa sisa-sisa peninggalan Perang Dunia II.

Dijelaskan Haris bahwa berdasarkan amanat Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, yang sebelumnya telah berkunjung ke lokasi tersebut, BPK Wilayah XVI NTT mendapat tugas untuk melakukan upaya pelestarian sekaligus pemanfaatan Situs Gua Jepang di Bukit Fatusuba.

“Kami berharap dukungan dan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan di Nusa Tenggara Timur untuk bersama-sama mengembangkan situs Fatusuba ini,” ujarnya.

Menurut Haris, hasil kajian Balai Pelestarian Cagar Budaya di Bali bersama para arkeolog, teridentifikasi sekitar 15 gua dengan kurang lebih 123 titik yang ada di wilayah Dusun Bonen. Keseluruhan titik tersebut merupakan bagian dari sistem pertahanan pada masa pendudukan Jepang.

“Pada masa Perang Dunia II, wilayah NTT memiliki peran yang sangat strategis dalam konstelasi global. Situs ini menjadi bukti sejarah penting dari peran tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BPS Provinsi NTT, Mira Kale menyampaikan bahwa pengembangan situs-situs sejarah seperti Gua Jepang berpotensi mendorong peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.

“Dengan dukungan infrastruktur yang lebih baik, situs ini akan menarik lebih banyak pengunjung. Jika dikembangkan sebagai objek wisata sejarah, tentu akan menggerakkan ekonomi, khususnya bagi masyarakat di sekitar lokasi,” ujarnya. (iir)