Alissa Wahid Sebut Petugas Haji Tak Cukup Hanya Berikan Pelayanan Fisik Tapi Juga Pengabdian

by

BERITABUANA.CO, JAKARTA– Psikolog Indonesia, Alissa Qotrunnada (Alissa Wahid) mengingatkan bahwa tugas petugas haji tidak cukup hanya memberikan pelayanan fisik semata, tetapi juga harus dilandasi jiwa pengabdian serta pelayanan terhadap jemaah. Menurut Alissa, petugas haji Indonesia adalah pilar bagi jemaah haji.

“Petugas haji melayani manusia dengan berbagai latar belakang dan kondisi. Karena itu, pelayanannya harus melampaui urusan teknis dan fisik,”kata Alissa Wahid saat memberikan materi pembekalan Haji Ramah Lansia dan Perempuan di Gedung 2 Serbaguna, Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (20/1/2026).

Ia pun mengungkapkan bahwa petugas haji Indonesia selama ini dikenal paling menonjol setiap tahunnya dan sering mendapat apresiasi dari jamaah negara lain. Bahkan, dedikasi petugas haji Indonesia sering berbuah penghargaan sederhana, seperti pemberian makanan dari jamaah asing yang merasa terbantu.

“Petugas haji Indonesia salah satu yang dipuji oleh jemaah haji negara lain, ” ungkapnya.

Meski begitu, Ia mengingatkan agar petugas haji Indonesia terus meningkatkan pelayanannya kepada jemaah haji. “(Pelayanan) bapak dan ibu tidak boleh dibawah standar yang di bangun saat ini, ” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Alissa mengatakan bahwa tantangan terbesar petugas haji terletak pada pendampingan jamaah perempuan dan lanjut usia (lansia). Sebab, kedua kelompok ini rentan mengalami kebingungan akibat perbedaan lingkungan, cuaca, bahasa, dan budaya, meskipun telah mendapatkan pembekalan sebelum keberangkatan.

“Lansia memiliki tantangan yang spesifik, terutama fisik juga tantangan yang berada di negara Saudi Arabia. Jemaah haji perempuan juga memiliki tantangan tersendiri, ” kata ketua jaringan Gusdurian ini.

Jemaah perempuan, lanjutnya memiliki kebutuhan khusus yang berbeda dengan jamaah laki-laki, baik terkait siklus reproduksi, perlengkapan ibadah, maupun kebutuhan pendampingan fisik dan spiritual. Karenanya, pelayanan terhadap jamaah perempuan memerlukan perhatian dan sensitivitas khusus.

“Sistem di Arab Saudi pada dasarnya masih menggunakan perspektif laki-laki, ” tutupnya. (Fadloli)