Kemenhaj: Petugas Haji Perempuan Tahun 2026 Sebanyak 33,2 Persen

by
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak mengapresiasi pelaksanaan pendidikan dan latihan (Diklat) PPIH Arab Saudi 2026. FOTO: Muhammad Umar Fadloli

BERITABUANA.CO, JAKARTA- Kementrian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj RI) menegaskan komitmennya menghadirkan layanan haji yang ramah perempuan melalui penguatan kualitas petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Kemenhaj mencatat ada 33,2 persen petugas haji perempuan di tahun 2026.

“Petugas perempuan di tahun ini itu sampai 33,2 persen. Jadi, target kami itu tadinya 30 persen petugas perempuan, tapi ternyata lebih. Ini memang kebijakan Pak Menteri. Kita ingin melakukan afirmasi terhadap perempuan karena jamaah haji Indonesia sebagian besar adalah perempuan,” kata Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak usai memberikan arahan Apel Gabungan Pagi di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu (17/1/2026).

Dahnil menuturkan, berdasarkan pengalaman penyelenggaraan haji pada tahun-tahun sebelumnya, banyak jemaah perempuan merasa kurang nyaman ketika harus berkonsultasi mengenai persoalan ibadah atau kesehatan yang bersifat privat kepada petugas laki-laki.

“Banyak keluhan juga dari para ibu-ibu terkait dengan pembimbing perempuan. Karena mereka akan lebih nyaman ketika berkomunikasi dengan perempuan (petugas perempuan). Misalnya konsultasi ibadah,” ucapnya.

Karenanya, lanjut dia, keberadaan petugas perempuan memungkinkan pendekatan pelayanan yang lebih humanis, personal, dan sesuai dengan kebutuhan jemaah perempuan, baik dari sisi komunikasi maupun pendampingan ibadah.

“Mereka akan lebih nyaman berkomunikasi dengan sesama perempuan. Misalnya dalam konsultasi ibadah atau hal-hal yang bersifat personal, idealnya ditangani oleh petugas perempuan agar pendekatannya lebih emosional dan empatik,” tuturnya.

Selain aspek kenyamanan, Dahnil juga menekankan pentingnya nilai empati dalam pelayanan haji. Hal itu dilakukan agar jemaah haji perempuan dan para lanjut usia (lansia) menganggap petugas sebagai orang tua sendiri.

“Kan idealnya mereka bicara dengan petugas perempuan. Sehingga pendekatannya bisa lebih personal. Makanya, kami ingin membangun hubungan emosional antara petugas dengan jamaah supaya keluarga yang ditinggalkan itu merasa nyaman dan aman,” ujarnya.

“Kenapa? Karena keluarga mereka, apalagi yang lansia, itu di tangan para petugas-petugas yang punya watak empati dan simpati. Jadi, seperti orang tua kita sendiri,” tutupnya. (Fadloli)