BERITABUANA.CO, JAKARTA – Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa penyelenggaraan Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) berjalan dengan baik, lancar, dan relatif tanpa gangguan signifikan.
“Alhamdulillah, pelaksanaan transportasi Nataru 2025–2026 berjalan dengan baik dan lancar. Tidak ada hal-hal yang terlalu ekstrem ataupun yang mengganggu kelancaran. Secara umum penyelenggaraannya cukup baik,” ujar Menhub Dudy kepada awak media usai penutupan Posko Pusat Angkutan Nataru 2025–2026 di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Jakarta, Senin (5/1/2026).
Ia menilai Posko Pusat Angkutan Nataru menjadi cerminan kuatnya sinergi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, BUMN, operator transportasi, serta seluruh pemangku kepentingan sektor transportasi. “Kolaborasi tersebut dinilai efektif dalam menghadirkan kehadiran negara dan memastikan pelayanan publik tetap optimal selama periode libur akhir tahun,” ucap Menhub Dudy.
Menurutnya, Posko ini adalah gambaran sinergi yang sangat baik. “Kita harapkan pola kerja sama ini terus terjaga, terlebih dalam waktu dekat kita akan menghadapi penyelenggaraan angkutan Lebaran, yang jaraknya hanya tinggal beberapa minggu,” terang Menhub Dudy.
Pengalaman pengelolaan Nataru 2025–2026, tuturnya, akan menjadi referensi penting dalam menyiapkan angkutan Lebaran, mulai dari perencanaan dini, konsolidasi lintas sektor, hingga kesiapan operasional di lapangan.
Ia juga mengapresiasi peran media yang dinilai konsisten menyampaikan informasi secara luas dan berimbang kepada masyarakat. “Informasi yang jelas membantu masyarakat merencanakan perjalanan dengan lebih baik serta meningkatkan kepatuhan terhadap arahan petugas di lapangan,” ujarnya.
“Saya berterima kasih kepada rekan-rekan media dan juga masyarakat yang mematuhi arahan petugas serta memonitor informasi cuaca. Ini sangat membantu kelancaran perjalanan selama Nataru,” papar Menhub Dudy.
Terkait evaluasi teknis, Menhub menjelaskan bahwa kendala yang muncul di lapangan bersifat minor dan tidak memengaruhi jalannya operasi Nataru secara keseluruhan. Evaluasi tetap dilakukan, khususnya pada aspek pengaturan transportasi logistik.
Menhub Dudy mengungkapkan bahwa kebijakan window time bagi angkutan logistik sempat diterapkan untuk mengakomodasi kebutuhan distribusi barang. Namun, hasil evaluasi menunjukkan kebijakan tersebut kurang efektif karena volume kendaraan logistik tetap tinggi dan berpotensi mengganggu kelancaran serta keselamatan lalu lintas.
“Karena itu, kami putuskan melakukan pembatasan kendaraan logistik, khususnya kendaraan sumbu tiga ke atas, dengan tujuan memberikan rasa aman dan keselamatan bagi pengguna jalan,” jelas Menhub Dudy.
Ke depan, tambahnya, Kemenhub akan melakukan evaluasi lanjutan dan menargetkan pada Januari sudah ada keputusan mengenai mekanisme pengaturan transportasi logistik, baik untuk periode normal maupun saat puncak pergerakan seperti Lebaran.
Menhub juga membuka kemungkinan penerapan kembali kebijakan work from anywhere (WFA) untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas pada angkutan Lebaran. Kebijakan tersebut akan diputuskan berdasarkan hasil survei pergerakan masyarakat dan analisis puncak arus perjalanan.
“Kami sangat terbuka terhadap penerapan work from anywhere jika memang diperlukan. Prinsip utama kami adalah keselamatan. Nyawa manusia tidak bisa dikompromikan,” tegasnya, seraya menyebutkan volume pergerakan masyarakat pada Nataru 2025–2026 tercatat meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Dengan berakhirnya Posko Pusat Angkutan Nataru 2025–2026, pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat keselamatan, kelancaran, dan keterpaduan layanan transportasi nasional, sekaligus mempersiapkan penyelenggaraan angkutan Lebaran secara lebih matang dan terkoordinasi,” pungkas Menhub Dudy. (Yus)







