Duh! Jelang Tahun Baru 2026, Minyakita hingga Cabai Rawit Melonjak di Atas HET

by
Minyakita. (Ilustrasi/Foto: Ist)

BERITABUANA.CO, JAKARTA — Menjelang perayaan Tahun Baru 2026, tekanan harga bahan pangan kembali dirasakan masyarakat. Sejumlah komoditas strategis, mulai dari Minyakita, minyak goreng curah, cabai rawit merah, hingga bawang merah, tercatat mengalami kenaikan signifikan di tingkat konsumen, memicu kekhawatiran terhadap daya beli dan potensi inflasi pangan di awal tahun depan.

Berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), Jumat (26/12/2025), harga rata-rata nasional Minyakita mencapai Rp17.535 per liter atau melonjak 11,69 persen di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter. Kenaikan ini menandai kembalinya tekanan pada komoditas minyak goreng rakyat yang sebelumnya sempat stabil.

Lonjakan juga terjadi pada minyak goreng curah yang diperdagangkan di kisaran Rp17.620 per liter atau naik 12,23 persen. Sementara itu, minyak goreng kemasan tercatat dijual rata-rata Rp20.844 per liter di tingkat konsumen.

Tekanan harga tidak hanya terjadi pada komoditas lemak nabati, tetapi juga menjalar ke sektor protein hewani. Harga telur ayam ras secara nasional tercatat Rp31.509 per kilogram, naik 5,03 persen dibandingkan harga acuan pembelian (HAP) nasional sebesar Rp30.000 per kilogram. Daging ayam ras turut mengalami kenaikan tipis 0,08 persen menjadi Rp40.032 per kilogram, sedikit melampaui HAP nasional Rp40.000 per kilogram.

Sebaliknya, harga daging sapi murni justru menunjukkan tren penurunan. Secara nasional, daging sapi berada di level Rp135.484 per kilogram, turun 3,23 persen dari HAP nasional sebesar Rp140.000 per kilogram.
Untuk komoditas beras, tren penurunan harga masih bertahan. Harga beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) secara nasional tercatat Rp12.438 per kilogram, berada di bawah rentang HET nasional Rp12.500–Rp13.500 per kilogram. Di zona 1, harga beras SPHP tercatat Rp12.149 per kilogram, zona 2 Rp12.730 per kilogram, dan zona 3 Rp13.202 per kilogram.

Harga beras medium juga melemah di hampir seluruh wilayah. Secara nasional, beras medium diperdagangkan di level Rp13.489 per kilogram atau turun 12,97 persen dari HET nasional. Zona 1 mencatat harga Rp13.092 per kilogram, zona 2 Rp13.696 per kilogram, sementara zona 3 menjadi satu-satunya wilayah yang mengalami kenaikan tipis menjadi Rp15.627 per kilogram.

Sementara itu, harga beras premium turun 2,2 persen secara nasional menjadi Rp15.453 per kilogram. Namun, kenaikan justru terjadi di sejumlah wilayah. Di zona 1, harga beras premium tercatat Rp14.832 per kilogram, zona 2 naik 3,53 persen menjadi Rp15.943 per kilogram, dan zona 3 melonjak tajam hingga Rp18.029 per kilogram atau 14,11 persen di atas HET.

Di sisi lain, harga gula konsumsi terpantau menurun. Rata-rata nasional berada di level Rp17.990 per kilogram, turun 2,76 persen dan masih berada dalam kisaran HAP nasional. Harga tepung terigu curah tercatat Rp9.672 per kilogram, sedangkan tepung terigu kemasan berada di angka Rp12.869 per kilogram.

Namun, komoditas hortikultura kembali menjadi pemicu utama inflasi pangan. Harga cabai rawit merah melonjak tajam 15,44 persen menjadi Rp65.802 per kilogram, jauh melampaui HAP nasional. Cabai merah keriting justru turun 9,33 persen menjadi Rp49.866 per kilogram, sementara cabai merah besar tercatat Rp45.815 per kilogram.

Kenaikan signifikan juga terjadi pada bawang merah yang melonjak 13,14 persen menjadi Rp46.954 per kilogram. Sebaliknya, harga bawang putih bonggol turun 5,79 persen menjadi Rp37.683 per kilogram.

Kondisi ini mencerminkan tantangan stabilisasi pangan menjelang akhir tahun, seiring meningkatnya permintaan musiman dan dinamika distribusi nasional. Pemerintah diharapkan memperkuat pengawasan rantai pasok serta mempercepat intervensi pasar guna meredam lonjakan harga yang berpotensi menekan inflasi pada awal 2026. (Red)