Penyeberangan Merak – Bakauheni Saat Nataru, Kemenhub Terapkan Dua Strategi Utama

by
Dirjen Perhubungan Darat Aan Suhanan (tengah) bersama Kakorlantas Polri, Dirut ASDP dalam kegiatan survei kesiapan operasi nataru 2025/2026 di pelabuhan penyeberangan Merak. (ist)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan memastikan kesiapan pengelolaan arus penyeberangan Merak-Bakauheni pada periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026 berjalan lancar. Namun demikian, dibutuhkan pengelolaan yang terstruktur dan kolaboratif.

“Pelabuhan Merak jadi salah satu titik krusial dalam pengelolaan angkutan Nataru dan menjadi pantauan masyarakat. Artinya perlu pengelolaan yang baik dan penuh sinergi antar stakeholder sehingga pelayanan yang kita berikan sesuai harapan masyarakat,” ucap Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Aan Suhanan saat menghadiri kegiatan Survei Kesiapan Operasi Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di Pelabuhan Eksekutif Merak, kemarin.

Dalam kegiatan ini, ungkap Mogot Bukara, Kabag Hukum, Humas dan Umum Ditjen Hubdat kepada beritabuana di Jakarta, Rabu (10/12/2025) menyebutkan Dirjen Aan menyoroti dua strategi utama untuk menjaga kelancaran dan keselamatan arus penyeberangan, yaitu pembagian pelabuhan di sisi Jawa dan Sumatera berdasarkan golongan kendaraan yang akan menyeberang serta penerapan delaying system.

“Untuk mengurangi potensi terjadinya bottleneck telah disiapkan empat pelabuhan di sisi Jawa (Merak, Ciwandan, BBJ Bojonegara, Krakatau Bandar Samudera) serta di sisi Sumatera (Bakauheni, Panjang, Wika Beton, BBJ Muara Pilu),” tutur Dirjen Aan.

Dikatakan, pembagian pelabuhan di sisi Jawa dan sisi Sumatera sudah ditetapkan melalui SKB yang harus dipatuhi oleh petugas dan operator saat operasi Nataru. “Kita lihat pairing antar pelabuhan ini sudah tepat sehingga tidak akan terjadi bottleneck, mudah-mudahan dengan pembagian dermaga ini bisa mengurai arus lalu lintas yang ada di darat,” jelas Dirjen Aan.

Selain pembagian dermaga penyeberangan, lanjutnya, pemerintah juga telah menyiapkan delaying system sebagai strategi mengatur ritme kendaraan menuju pelabuhan. Menurutnya, strategi ini dapat diterapkan terutama saat terjadi cuaca buruk seperti gelombang tinggi atau angin kencang yang menyebabkan penundaan kapal untuk berlayar.

“Delaying system sangat mungkin diterapkan apalagi prediksi BMKG bulan Desember hingga Januari puncak musim hujan dan ada bibit siklon yang mengakibatkan curah hujan dan gelombang tinggi serta angin kencang yang mempengaruhi penyeberangan. Safety atau keselamatan adalah yang utama karena itu kami menyiapkan strategi delay system dengan penerapan buffer zone,” papar Dirjen Aan.

Sementara itu, Kakorlantas Polri, Irjen Pol. Agus Suryonugroho, menyampaikan persiapan pelaksanaan operasi Natal dan Tahun Baru 2025/2026 merupakan komitmen negara untuk memastikan keamanan, ketertiban, dan kelancaran perjalanan masyarakat selama libur Nataru. Ia menilai, pada periode Natal dan Tahun Baru, negara harus hadir untuk menjaga harkamtibmas (Pemeliharaan Keamanan Ketertiban Masyarakat) dan mewujudkan Kamseltibcarlantas (Keamanan, Keselamatan, Ketertiban dan Kelancaran Lalu Lintas).

“Hari ini kami bersama seluruh stakeholder melaksanakan survei dari jalur tol hingga Pelabuhan Merak. Operasi Nataru sudah dipersiapkan secara optimal melalui kolaborasi untuk tetap menjaga keamanan masyarakat dan arus lalu lintas harus lancar serta ketika terjadi cuaca ekstrem skenario cara bertindaknya akan kita sesuaikan,” ujar Irjen Agus.

Sejalan dengan pernyataan Kakorlantas, Dirjen Aan menegaskan bahwa seluruh pengaturan lalu lintas darat hingga pengoperasian pelabuhan telah disinergikan dengan semua _stakeholder_ demi keamanan dan keselamatan masyarakat serta kesuksesan operasi angkutan Natal dan Tahun Baru 2025/2026.

“Semua strategi sudah kita siapkan, mulai dari SOP, pengaturan lalu lintas, hingga pembagian pelabuhan. Negara hadir di sini untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dengan sepenuh hati,” pungkas Dirjen Aan. (Yus)