BERITABUANA.CO, KUPANG – Saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT tengah menyiapkan kebijakan jam belajar dan Ibadah keluarga, untuk mengembalikan peran keluarga sebagai tiang utama pendidikan dan pembinaan iman anak-anak.
Hal ini disampaikan Gubernur NTT, Melki Laka Lena saat menghadiri Ibadah Pentahbisan Gedung Kebaktian Jemaat GMIT Lahairoi Oebifai di Desa Oenoni, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, pada Minggu (26/10/2025).
“Jam belajar dan Jam Ibadah Keluarga sedang dirancang untuk setiap pukul 17.30 – 19.00 WITA, kecuali hari Sabtu,” tegas Melki Laka Lena.
Disamping itu, kata Melki Laka Lena, sedang disiapkan tiga tungku penguatan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat, melalui kolaborasi tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh pemangku kepentingan sampai tingkat RT/RW.
“Semua harus bergerak bersama untuk memperkuat pendidikan moral dan karakter anak. Kita dorong peran keluarga sebagai benteng pertama dan terakhir bagi anak,” jelasnya.
Kegiatan pentahbisan gedung gereja tersebut, menurut Melki Laka Lena, sebagai wujud iman, ketekunan, dan kerja sama umat Tuhan selama lebih dari dua dekade.
“Kita berdiri di rumah Tuhan yang indah ini bukan karena kekuatan manusia, tetapi karena kasih dan penyertaan Tuhan yang bekerja melalui jemaat-Nya,” ujar Melki Laka Lena.
Melki Laka Lena menambahkan, bahwa keindahan Gereja tidak hanya terletak pada bangunannya, tetapi pada iman dan kasih jemaat yang hidup di tengah masyarakat.
“Setelah membangun rumah ibadah yang megah, tantangan berikutnya adalah membangun Gereja yang hidup, yaitu keluarga dan pribadi kita masing-masing,” ujarnya.
Dikatakan Melki Laka Lena, gereja bukan hanya tempat beribadah, tetapi ruang untuk menumbuhkan kasih, iman, dan karakter.
Sebelumnya, peresmian gedung kebaktian ini ditandai dengan pengguntingan pita oleh Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Samuel Pandie.
Dalam Suara Gembalanya, Pdt. Samuel Pandie mengangkat kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian, di mana kata “baik” disebutkan sebanyak tujuh kali – menggambarkan kebaikan hakiki ciptaan Tuhan yang teratur dan saling melengkapi.
“Di momen Bulan Keluarga ini, umat diajak untuk saling melengkapi sebagai ciptaan Tuhan,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti meningkatnya keterlibatan anak muda dalam berbagai kasus sosial dan moral, serta pentingnya figur teladan dalam keluarga dan Gereja.
“Keluarga adalah pusat dan dasar dari segala hal, sementara Gereja harus menjadi rumah yang terbuka bagi semua orang. Kita bersyukur dalam kasih setia Tuhan yang terus memampukan Gereja untuk menjadi berkat,” ujar Ketua Sinode.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tantangan ke depan bagi Gereja adalah membangun generasi masa depan yang berkarakter, beriman, dan peduli terhadap sesama.
“Menyambut perayaan Bulan Lingkungan Hidup pada November mendatang, Ia mengajak seluruh jemaat GMIT untuk mendukung program penanaman 50 ribu anakan Asam dan Kopi di Pulau Semau dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Dia mengajak untuk terus menjaga bumi dan lingkungan kita sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan. Selamat ulang tahun, dan selamat merayakan makna bergereja yang sejati dalam kebersamaan. (*/iir)







