Idul Adha 1446 H, Majelis Taklim Annadyah Sembelih Tujuh Ekor Sapi

by
Ketua K2S Kota Kupang, dr. Muhamad Ikhsan saat sembelih hewan kurban. (Foto: iir)

BERITABUANA.CO, KUPANG – Pada Perayaan Idul Adha 1446 H, Majelis Taklim Annadyah Bonipoi Kota Kupang menyembelih tujuh ekor sapi.

Hal ini disampaikan Ketua Kontak Kerukunan Sosial (K2S) Keluarga Jawa Kota Kupang, Muhamad Ikhsan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Oeba, Jumat (6/6/2025).

“Kami menyembelihnya di RPH, lalu pemotongan dan pembagian dilakukan di sekertariat Majelis Taklim,” jelas Muhamad Ikhsan.

Dikatakan Muhamad Ikhsan, daging hewan kurban akan dibagikan kepada masyarakat di Kampung Solor, Bonipoi, Oeba dan Oesapa dengan total sekitar 450 orang.

“Bukan hanya untuk umat muslim saja, tapi yang non muslim juga kita berikan,” ungkap Muhamad Ikhsan.

Diakui Muhamad Ikhsan, setiap tahun Majelis Taklim dibawah K2S Kota Kupang selalu ada penyembelihan, dan jumlah hewan juga cukup banyak, sekitar 80 ekor sapi.

“Tahun-tahun sebelumnya, K2S yang menyembelih seluruh sapi, tapi tahun ini kita bagikan ke beberapa Majelis Taklim, untuk menyembelih sendiri. Sehingga waktunya lebih singkat,” papar dia.

Bagi Muhamad Ikhsan, pemangkasan anggaran dari pemerintah pusat sampai daerah, tidak mempengaruhi umat untuk berkurban kambing atau sapi.

“Setiap tahun bisa mencapai 80 ekor, seperti tahun ini juga. Pemangkasan anggaran tidak berpengaruh, karena masyarakat sudah mempersiapkan jauh-jauh hari dan menganggap berkurban itu suatu kewajiban,” kata Muhamad Ikhsan.

Pada kesempatan berbeda, Ketua Umum IKM Kupang, Mualim Chaniago menjelaskan, penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha sudah menjadi agenda tahunan Paguyuban Ikatan Keluarga Minang (IKM) Saio Sakato Kupang, dan tahun 2025 ini menyembelih 10 ekor sapi.

“Setiap tahun memang paguyuban IKM Kupang lakukan penyembelihan, kita ambil dihari pertama karena bertepatan dengan hari Jumat,” tegas Mualim Chaniago.

Menurut Mualim Chaniago, kegiatan ini tidak pernah absen, seberapapun hewan kurban yang masuk, akan dijalankan amanah tersebut, untuk berbagi dengan sesama.

“Untuk pembagian daging, meskipun hajatnya orang muslim tapi ada pepatah yang kami pegang, yakni Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung. Dima Aia Disauak, Di Sinan Ranting Dipatah,” ujar Mualim Chaniago.

Yang artinya, tambah Mualim Chaniago, keberadaan warga minang yang ada di kota kupang, sudah membaur dengan masyarakat, berbagai macam etnis, suku dan agama.

“Agama tidak dibatasi dengan Islam saja, tapi non muslim kita bagi yang berdekatan dengan kita. Lingkungan kita juga ada pendeta, yang ikut berpartisipasi,” jelasnya. (iir)