Ramah Lingkungan, Linus Lusi Minta Masyarakat Alihkan Minyak Tanah ke Bright Gas

by
Pj. Walikota Kupang, Linus Lusi

BERITABUANA.CO, KUPANG – Demi menjaga keberlangsungan ramah lingkungan, masyarakat khususnya para Aparat Sipil Negara (ASN) dan guru diminta mulai menggunakan Bright Gas pengganti minyak tanah.

Disamping ramah lingkungan, minyak tanah yang selama ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dalam memasak, juga sulit didapat. Karena semakin lama fosil sebagai produksinya terus berkurang.

“Minyak tanah sudah sulit diperoleh, dan tidak ramah lingkungan,” jelas Pj. Walikota Kupang, Linus Lusi di Kantor Walikota Kupang, Senin (2/12/2024)

Penggunaan kompor gas di Kota Kupang masih dianggap sebagai budaya baru, sehingga harus terus disosialisasikan di rumah-rumah tangga yang ada.

Pemerintah terus melakukan optimalisasi pengelolaan dan pemanfaata gas bumi, sebagai sumber energi alternatif utama dalam proses transisi energi, dari energi fosil ke energi terbarukan.

Menurut Center for Liquefied Natural Gas, gas alam akan menghasilkan lebih sedikit polusi dan gas rumah kaca, daripada gas alam lainnya. Misalnya ketika gas alam dibakar, ia menghasilak45 persen lebih sedikit karbon dioksida daripada batu bara, 30 persen lebih sedikit daripada minyak dan 16 ersen lebih sedikit dari kayu.

Dari sisi jenis penggunaan energi, kompor dengan bahan bakar gas justru lebih ramah lingkungan, ketimbang kompor listrik maupun minyak tanah. Mengingat sumber listrik yang dipakai sekarang sebagian berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara.

“Kalau LPG ini energi bersih, jauh lebih bersih dari kompor elektrik karena kita masih banyak pakai bahan bakar batubara untuk listrik,” tutur Ekonom Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan.

Penggunaan gas selain lebih bersih, penggunaannya lebih aman bagi lingkungan. Sebab kebocoran gas hanya akan menguap begitu saja, tidak seperti batubara yang ketika dibakar menghasilkan emisi karbon.

Jadi kalau soal energi bersih, ini lebih aman. Begitu pula selama kebocoran gas terjadi di ruang terbuka tanpa ada pemicunya, tetap lebih aman bagi lingkungan. Berbeda dengan penggunaan minyak tanah yang juga bisa merusak alam saat tumpah ke tanah.

Sebagai informasi, mengutip dari laman migas.esdm.go.id, LPG (liquefied petroleum gas) atau gas bumi berasal dari penyulingan minyak mentah atau dari kondensasi gas bumi dalam kilang pengolahan gas bumi.

Pencairan gas bumi menjadi gas dimaksudkan untuk memecahkan masalah pengangkutan ke konsumen karena volume gas jauh lebih kecil dari volume gasnya.

Para ASN, khususnya para guru di Kota Kupang dapat mengadopsi penggunaan Bright Gas sebagai pilihan utama, dalam kegiatan sehari-hari mereka, serta turut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan.

Sebagai tenaga pendidik, guru tidak hanya berperan dalam membentuk karakter dan pengetahuan siswa, tetapi juga menjadi contoh dalam kebiasaan hidup yang lebih baik, termasuk dalam hal pemanfaatan energi yang lebiih efisien. (iir)