Direktur Sarana Transportasi Jalan: Hindari Enam Aspek Faktor Utama Terjadinya Kecelakaan

by
Amirulloh, Direktur Sarana Transportasi Jalan (kedua dari kanan) bersama Plt Direktur Angkutan Jalan M.Fahmi saat berdialog dengan para siswa dan stakeholder. (Foto: Ist)

BERITABUANA.CO, BANDUNG – Dalam rangka meningkatkan aspek keselamatan jalan dan mengurangi angka kecelakaan lalu lintas dan angkutan jalan, hindari enam aspek faktor utama terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan raya.

Direktur Sarana Transportasi Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Amirulloh menyebutkan, untuk menghindari faktor risiko utama kecelakaan, setidaknya ada enam faktor utama penyebab terjadinya kecelakaan, yakni tidak menggunakan helm, tidak menggunakan sabuk pengaman, menggunakan ponsel saat berkendara, mengemudi dalam keadaan mabuk, penggunaan truk untuk angkutan orang serta berkendara dengan melawan arah.

“Hal itu dijelaskan Amirulloh pada kegiatan Puncak Pekan Keselamatan Jalan Tahun 2024 di Terminal Tipe A Leuwipanjang, Bandung, Jawa Barat, kemarin, dihadapan100 siswa SMAN 1 dan SMAN 20 Bandung, serta stakeholder terkait dan turut dihadiri oleh Plt. Direktur Angkutan Jalan, Muhammad Fahmi, Kabid Angkutan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, Agus Didik, Pejabat Struktural di lingkungan Balai Pengelola Transportasi Darat,” ungkap Kabag Hukum dan Humas Ditjen Perhubungan Darat, Aznal,SH,MH kepada beritabuana.co, Minggu (29/9/2024)

Menurutnya, Puncak Pekan Keselamatan Jalan tidak hanya dilaksanakan di Provinsi Jawa Barat, melainkan dilaksanakan pula di provinsi Jambi dan Kalimantan Utara.

Amirullah menyebutkan angka kecelakaan secara nasional pada tahun 2023 masih tergolong cukup tinggi dengan jumlah kecelakaan lalu lintas mencapai 152.008 kejadian dengan jumlah meninggal dunia sebanyak 27.895 korban.

Dikatakan, adapun sepeda motor menjadi penyumbang kecelakaan tertinggi dengan persentase 76%, disusul oleh Angkutan Barang sebesar 10% dan Angkutan Orang 8%. Sementara, Mobil Penumpang 2%, Kendaraan Tidak Bermotor 2% dan lainnya 1,8%. Sehingga yang menjadi korban kecelakaan paling banyak adalah masyarakat yang berada pada usia produktif yaitu usia 15-49 tahun.

Menurutnya, masih banyak tantangan dan upaya-upaya yang harus dilakukan dalam mewujudkan budaya tertib berlalu lintas berkeselamatan. Untuk mewujudkannya semua pemangku kepentingan harus secara terus-menerus melakukan edukasi dan sosialisasi dengan harapan mengurangi angka kecelakaan yang cukup tinggi itu.

“Saya mengingatkan baik di pemerintah pusat, daerah, BUMN maupun swasta dapat memberikan edukasi keselamatan jalan agar menghindari faktor-faktor penyebab utama kecelakan,” tegas Amirulloh.

Ia berharap hal-hal tersebut dapat mendorong masyarakat untuk selalu memperbaharui pengetahuan dan literasi terkait sikap dan perilaku berkeselamatan dijalan, sehingga semua orang dapat menjadi pahlawan keselamatan jalan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. (Yus)