BERITABUANA.CO, SEMARANG- Bulan suci Ramadhan dapat disebut sebagai bulan Al-Qur’an, karena Al-Qur’an diturunkan bertepatan pada bulan Ramadhan. Sebab itu, tiap bulan Ramadhan selalu ada peringatan Nuzulul Qur’an.
“Al-Qur’an itu suci, dan kemuliaan Al-Qur’an serta kesucian Al-Qur’an tidak mungkin diturunkan sembarangan, disembarang tempat, disembarang orang dan disembarang waktu,” tegas Pengasuh Pesantren Skill Jakarta, KH. Muhammad Nur Hayid.
Hal itu disampaikan KH. Muhammad Nur Hayid dalam Peringatan Nuzulul Qur’an yang dihelat Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, Kota Semarang sersama masyarakat Perumahan Bank Niaga (PBN), di Masjid Raudlatul Jannah, Rabu (11/4/2023).
Gus Hayid, begitu biasa disapa lalu mengatakan kenapa kita harus memperingati Nuzulul Qur’an?
“Karena dengan memperingati Nuzulul Qur’an itu artinya kita membuktikan kepada Allah SWT sekaligus kepada Rasulullah SAW, serta kepada Al-Qur’an bahwa kita adalah orang-orang yang cinta pada Al-Qur’an,” ucap Gus Hayid.
Selanjutnya, agar cinta kita terhadap Al-Qur’an tidak bertepuk sebelah tangan, Gus Hayid memberikan penjelasannya. Menurut Gus Hayid kecintaan terhadap Alquran jangan hanya memperingati dan hadir saja pada acara Nuzulul Qur’an.
Karena, pada hakikatnya memperingati Nuzulul Qur’an hanyalah seremonial, seperti halnya Handphone yang hanya discharge, tetapi tidak dimanfaatkan isinya.
“Jangan sampai dalam seumur hidup kita tidak pernah membaca Al-Qur’an beserta maknanya. Karena, bagaimana kita mengambil manfaat dari Al-Qur’an jika kita tidak pernah membaca dan memahami arti dari Al-qur’an,” ujar Gus Hayid yang juga Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta ini.
Menurutnya, membaca satu huruf dalam Al-Qur’an dihitung satu kebaikan. Terlebih ini dalam bulan suci Ramadhan. Jadi, dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan.
“Dalam riwayat lain satu huruf dibalas 25 sampai 50 kebaikan, jika kita dalam keadaan punya wudhu dan akan mendapat 100 kebaikan jika membacanya ketika dalam keadaan shalat. Jadi apakah dengan begitu masih membuat kita malas untuk membaca Al-Qur’an?” ungkapnya.
Ditambahkan, orang yang membaca atau mendengar Al-Qur’an dan menangis, baik mengerti artinya atau tidak, sejatinya hatinya sedang disentuh oleh Allah SWT. Sebagaimana orang yang bershalawat sampai menangis sejatinya ia sedang dipeluk oleh Rasulullah SAW.
Dalam kesempatan itu, Gus Hayid menjelaskan, Al-Qur’an adalah obat dari segala obat termasuk obat dari penyakit hati. Karena pada hakikatnya ketika kita sakit dan meminum obat itu hanya menghilangkan rasa sakitnya saja, tetapi dengan Al-Qur’an itu bukan hanya sebagai obat biasa, tetapi obat yang menyembuhkan lahir dan batin, serta sebagai rahmat bagi kita yakni sebagai pertolongan dari Allah SWT.
“Yang paling pokok tentang betapa keistimewaannya Al-Qur’an adalah selain menjadi petunjuk bagi kita yang telah bertaqwa serta membacanya, tetapi juga akan menjadi solusi bagi problematika dalam hidup kita,” pungkasnya. (Fdl/FSZ)







