Okeh: Jakobus Kamarlo Mayong Padang*)
SELAMA ini tanggal 1 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Padahal ada peristiwa yang jauh lebih penting dengan makna yang luar biasa di tanggal 1 oktober ini. Sayangnya tidak banyak yang tahu, atau mungkin tahu tetapi tidak perduli. Terlupakan dan untuk itu, kata Rhoma Irama ‘terlalu’.
99 tahun silam, tepatnya 1 Oktober 1923, dua insan yang berjarak status sosial amat jauh. Sekaligus mewakili dua komunitas yang menyatu untuk mewujudkan sebuah mimpi indah; Bung Karno dengan status sosial yang sangat tinggi mewakili kaum terpelajar/elit yang saat itu jumlahnya sangat kecil. Sementara Mang Aen yang namanya dimodifikasi jadi Marhaen adalah petani miskin yang mewakili mayoritas penduduk miskin di wilayah Nusantara.
Peristiwa itu di tengah sawah di Cigereleng, pinggiran Bandung Selatan, Jawa Barat. Saat itu seorang petani sedang mandi keringat terpanggang mentari pagi. Sementara Bung Karno paginya mengayuh sepedanya menuju kampus untuk kuliah. Didera rasa gelisah berhari-hari sebelumnya, di tengah jalan, ia tiba-tiba berbelok ke arah selatan, terus dan akhirnya tiba di daerah persawahan. Ia memarkir sepedanya dan dengan pakaian necis Bung Karno berjalan meniti pematang tanpa perduli pakaiannya akan kotor.
Pemimpin Pelayan
Kenapa harus di tengah sawah? Padahal Bung Karno bisa mengeplokkan (bertepuk) tangannya di pinggir sawah dan sang petani akan terbirit-birit meninggalkan cangkulnya tergeletak di tengah sawah. Tetapi Bung Karno tidak melakukannya, ia yang harus mendatangi sang petani. Pelajaran penting bagi mayoritas pejabat di negeri ini sekarang yang sok kuasa, bukan melayani.
Bung Karno lalu jongkok di pematang, sementara Mang Aen dengan nafas tersengal-sengal, sambil bertumpu pada batang cangkulnya, terjadilah dialog yang melegenda. Pada saat berdialog itulah Bung Karno tahu dan paham, betapa menderitanya hidup Mang Aen sekeluarga. Dan dari kondisi politik, sosial, kultur saat itu, tidak ada sedikitpun celah yang memungkinkan Mang Aen sekeluarga bisa terbebas dari jeratan derita. Menderita lahir hingga akhir hayat. Padahal tipe Mang Aen lah yang mayoritas dilihat Bung Karno di hampir setiap tempat yang didatangi, dilewatinya. Di benak Bung Karno, satu-satunya jalan untuk menolong Mang hanya jika Indonesia merdeka.
Atas perenungan di tengah sawah itulah, di depan Mang Aen, Bung Karno yang hari itu membatalkan kuliahnya di Technische Hoogeschool atau ITB saat ini
menjadi sangat emosional, emosional karena tidak tahan menyaksikan penderitaan yang dialami Mang Aen sekeluarga. Maka sambil tetap jongkok dan ikut berkeringat terbakar mentari pagi,Bung Karno memutuskan : Indonesia harus merdeka. Di benak Bung Karno kelak,bila Indonesia merdeka yang kekayaan alamnya luar biasa,dan dikelolah dengan baik, Marhaen bisa hidup sejahtera. Itulah sebabnya Bung Karno mengistilahkan kemerdekaan itu sebagai ‘Jembatan Emas’. Jembatan yang akan diseberangi untuk menemukan kondisi politik, sosial dan kultur baru yang memungkinkan kaum Marhaen hidup sejahtera.
Tentunya dengan syarat; negara dikelolah dengan baik dan benar. Yakni; para pemimpin memimpin dengan tulus dan serius, mendahulukan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi dan keluarga. Bisakah ? Sangat bisa. Para pendiri bangsa sudah membuktikannya. Saya tidak menyebutnya satu persatu karena terlalu banyak. Saat mereka berkuasa mereka tidak memperkaya diri bahkan tetap miskin. Itu sebabnya saat Bung Karno diusir dari Istana ketika Soeharto sudah mulai berkuasa, para pengawal kebingungan, akan dibawa kemana ? Sebab Bung Karno tidak punya rumah.
Bung Hatta saat pensiun terpaksa menulis surat ke pemerintah bermohon agar uang pensiunnya dinaikkan sedikit karena tidak cukup bayar listrik, telepon dan air minum. Leimena saat akan menghadiri sebuah konferensi terpaksa meninjam jas. Hoegeng saat berhenti sebagai Kapolri, sejumlah mantan bawahannya urunan membelikan mobil karena Hoegeng tidak punya mobil.
Baharuddin Lopa punya mobil baru dengan cara menyicil. Itu hanya contoh tentang negarawan yang betul-betul tulus dan serius mengelola negara. Dan masih banyak lagi. Mereka, saat berkuasa, tidak memaksakan istri, anak dan saudaranya menjadi anggota DPR RI, Bupati dan mengatur proyek. Sebab mereka tahu, paham, serta konsisten denhan misi memerdekakan negara ini; untuk memperbaiki kehidupan kaum Marhaen di negri ini. Sebab penderitaan Mang Aen lah yang disaksikan langsung Bung Karno di tengah sawah memecut batinnya dan emosional memutuskan INDONESIA harus MERDEKA.
Mari bangkit bersama Marhaen meraih kehidupan bersama yang lebih baik. ***
*Pendiri Institut Marhaen dan mantan Anggota DPR RI







