BERITABUANA.CO, JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani meminta pemerintah memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di Kalimantan. Penanganan karhutla, menurutnya, tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga harus memastikan keselamatan warga dari ancaman kabut asap dan memburuknya kualitas udara.
Netty menegaskan, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan harus menjadi prioritas dalam penanganan dampak karhutla. Pemerintah daerah bersama dinas kesehatan, puskesmas, dan rumah sakit perlu meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi lonjakan gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Ketika kabut asap semakin pekat dan kualitas udara memburuk, hal terpenting adalah memastikan masyarakat terlindungi. Kelompok rentan harus mendapat perhatian khusus, termasuk akses terhadap layanan kesehatan yang memadai,” ujar Netty dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).
Politisi tersebut juga mendorong pemerintah menyampaikan informasi kualitas udara secara berkala, disertai panduan yang mudah dipahami masyarakat. Informasi itu perlu menjelaskan langkah perlindungan yang harus dilakukan, mulai dari membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai, hingga mengenali gejala gangguan pernapasan dan segera mencari pertolongan medis.
“Jangan sampai masyarakat hanya mengetahui kualitas udara sedang buruk, tetapi tidak mendapat panduan tentang langkah yang harus dilakukan untuk melindungi diri dan keluarganya,” tegasnya.
Menurut Netty, pemerintah perlu memastikan fasilitas kesehatan memiliki kesiapan tenaga medis, obat-obatan, dan layanan yang memadai untuk menangani warga terdampak. Upaya pencegahan dan edukasi juga harus diperkuat agar masyarakat tidak terlambat mendapatkan penanganan ketika mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Ia menekankan, respons darurat karhutla harus berjalan secara terpadu, mencakup pemadaman api, perlindungan kesehatan warga, kesinambungan pelayanan publik, serta pemulihan lingkungan. Dengan demikian, dampak kebakaran tidak semakin meluas dan membebani masyarakat dalam jangka panjang.
“Keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya diukur dari berkurangnya titik api, tetapi juga dari terjaganya kesehatan dan keselamatan masyarakat,” pungkasnya. (jim)







