BERITABUANA.CO, JOMBANG — Gagasan dan agenda strategis Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad kedua terus didorong melalui berbagai ruang diskusi dan pemikiran.
Salah satunya melalui peluncuran sekaligus bedah buku karya Dr. KH. Muhammad Nur Hayid atau Gus Hayid bersama Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) di Indonesia Research Consulting (IRC) Foundation, Jombang, Jumat (28/8/2026)
Buku tersebut mengangkat sejumlah gagasan strategis mengenai arah perjalanan NU di abad kedua dengan tetap berpegang pada Khittah An-Nahdliyyah sebagai organisasi sosial keagamaan dan kemasyarakatan.
Bedah buku bersama ISNU menjadi ruang untuk mendiskusikan berbagai pemikiran yang ditawarkan Gus Hayid, sekaligus mengajak kalangan sarjana dan intelektual NU memberikan kontribusi pemikiran bagi penguatan khidmah organisasi di masa mendatang.
Gus Hayid mengatakan, penerbitan buku tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk memberikan sumbangsih pemikiran bagi NU, khususnya dalam menyambut perjalanan organisasi memasuki abad kedua. Peluncuran buku juga dimaksudkan untuk menyemarakkan Muktamar NU ke-35.
“Alhamdulillah, dalam rangka khidmat untuk NU abad ke-2 melalui gagasan dan pemikiran, juga dalam rangka menyemarakkan Muktamar NU ke-35, kami bisa melaunching dan menerbitkan buku tentang gagasan agenda strategis abad ke-2 NU,” kata Gus Hayid dalam acara bedah buku.
Menurutnya, gagasan yang dituangkan dalam buku tersebut tetap menempatkan Khittah An-Nahdliyyah sebagai pijakan utama. Namun, NU juga dituntut mampu menjawab tantangan zaman serta memperkuat peran dalam mengawal khidmah kebangsaan dan kemanusiaan.
“Dengan tetap menjaga Khittah An-Nahdliyyah sebagai organisasi sosial keagamaan dan kemasyarakatan, tapi bisa berfungsi mengawal khidmah kebangsaan dan kemanusiaan baik pada level nasional maupun internasional,” ujarnya.
Ia berharap buku tersebut tidak berhenti sebagai karya pemikiran, tetapi dapat menjadi bahan diskusi dan referensi bagi para pengurus NU dalam menjalankan amanah organisasi di berbagai tingkatan.
Gus Hayid juga berharap gagasan yang ditawarkan dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memperkuat peran NU di tengah perubahan sosial, kebangsaan, dan perkembangan global.
“Semoga ikhtiar ini diridloi dan diberkahi oleh Allah serta bisa bermanfaat untuk bahan bacaan dan referensi para pengurus NU di semua tingkatan, mulai dari ranting hingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Amin,” tutup Gus Hayid.
Peran Sarjana dan Intelektual NU
Sementara itu, keterlibatan ISNU dalam bedah buku tersebut menunjukkan pentingnya peran kalangan sarjana dan intelektual NU dalam membangun tradisi berpikir yang konstruktif. Abad kedua NU membutuhkan tidak hanya kekuatan organisasi, tetapi juga gagasan yang mampu menerjemahkan nilai-nilai ke-NU-an ke dalam tantangan kebangsaan dan kem diharapkan dapat terus diperkaya melalui dialog, kritik, dan pertukaran pemikiran.
Dengan demikian, perjalanan NU di abad kedua tidak hanya menjadi momentum pergantian usia organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kontribusi NU bagi bangsa, umat, dan masyarakat dunia. (FDL87)






