Jangan Gembira Dulu Gencatan Senjata dengan Iran, AS: Itu Hanya Jeda, Pasukan Tetap Siap Menyerang Kapan Saja

by
Pasukan Amerika Serikat. (Foto: Instagram Kompas)

BERITABUANA.CO, WASHINGTON – Penduduk dunia jangan gembira dahulu adanya gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dengan Orang. Gencatan senjata itu hanya sementara dan Presiden AS Donald Trump pemikirannya cepat berubah.

Indikasi nyata bahwa gencatan senjata belum aman adalah pernyataan dari Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine yang mengatakan pasukan AS tetap siap jika diperintahkan atau diminta untuk melanjutkan operasi tempur di tengah gencatan senjata dengan Iran yang mulai berlaku. Caine mengatakan gencatan senjata hanya jeda.

“Mari kita perjelas. Gencatan senjata adalah jeda, dan pasukan gabungan tetap siap jika diperintahkan atau diminta untuk melanjutkan operasi tempur dengan kecepatan dan ketepatan yang sama seperti yang telah kita tunjukkan selama 38 hari terakhir. Dan kami berharap itu tidak terjadi,” katanya pada konferensi pers di Pentagon dilansir CNN, Rabu (8/4/2026).

Caine juga menandai kehilangan anggota pasukan “sejauh ini” dalam konflik tersebut.

“Saya ingin memulai pagi ini dengan menghormati 13 anggota pasukan gabungan Amerika kita yang gugur dalam tugas sejauh ini selama operasi ini, pengorbanan mereka dan keluarga mereka sangat penting bagi kami, dan kami bersyukur,” katanya.

Kemudian Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang mengatakan, meskipun menyebut perang di Iran sebagai “kemenangan bersejarah dan luar biasa,” tapi pasukan AS untuk saat ini “tetap di tempat, tetap siap, tetap waspada.”

Hegseth pun memastikan Iran mematuhi gencatan senjata ini dan kemudian pada akhirnya datang ke meja perundingan dan membuat kesepakatan.

“Jadi kami akan tetap di tempat, tetap siap, tetap waspada; seperti yang disampaikan ketua, pasukan kami siap untuk bertahan, siap untuk menyerang, siap untuk memulai kembali kapan saja dengan paket target apa pun yang diperlukan untuk memastikan Iran mematuhinya,” katanya.

Hegseth juga menyampaikan bahwa AS telah merencanakan untuk menyerang beberapa target di Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, jika kesepakatan gencatan senjata tidak tercapai.

Ketika ditanya selama konferensi pers tentang ancaman Presiden Donald Trump bahwa “seluruh peradaban akan mati” jika kesepakatan tidak tercapai dan apakah Trump siap untuk melakukan itu, Hegseth mengatakan, bahwa pihaknya telah menetapkan, siap dan siaga, berupa target infrastruktur, jembatan, pembangkit listrik.

“Mereka tahu persis seberapa besar kemampuan kami,” kata Hegseth tentang Iran.

Hegseth menambahkan bahwa peringatan Trump-lah yang membawa Iran ke meja perundingan dan akhirnya berujung pada gencatan senjata selama dua minggu.

“Trump mengataka, kami dapat mengambil semuanya dari Anda. Kemampuan Anda untuk mengekspor energi akan diambil dan militer Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk menyerang hal-hal tersebut tanpa hukuman. Ancaman semacam itu yang membawa mereka ke titik di mana mereka secara efektif berkata, ‘Oke, kami ingin membuat kesepakatan ini,'” kata Hegseth kepada wartawan. (Kds)