Karhutla Ancam Satwa Endemik Indonesia, Rajiv Dorong Pencegahan Berbasis Risiko

by
Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv Singh. (Foto: Jim)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menghanguskan tutupan hutan, tetapi juga mengancam keberlangsungan satwa dan tumbuhan endemik yang menjadi bagian penting dari kekayaan genetik Indonesia. Karena itu, penanganan karhutla dinilai perlu bergeser dari sekadar memadamkan api menjadi upaya permanen untuk mencegah kerusakan ekosistem.

Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv Singh mengatakan dampak karhutla terhadap keanekaragaman hayati perlu mendapat perhatian serius, terutama di Kalimantan yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.

Menurut dia, kebakaran dapat mengancam berbagai spesies endemik dan langka, mulai dari burung rangkong, bekantan, orangutan, pohon ulin hingga beragam jenis anggrek.

”Ketika hutan terbakar, maka yang hilang bukan hanya pepohonan, melainkan juga sumber makanan, air dan akhirnya habitat hilang sehingga satwa endemik dan kekayaan genetik kita berpotensi musnah,” kata Rajiv kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Rajiv menjelaskan dampak kebakaran terhadap satwa tidak berhenti ketika api padam. Satwa yang berhasil menyelamatkan diri dari kobaran api tetap menghadapi persoalan karena kehilangan habitat, sumber makanan dan air.

Kondisi tersebut juga berpotensi mendorong satwa liar keluar dari habitat alaminya menuju kawasan perkebunan, hutan sekunder hingga permukiman. Pergerakan satwa ke wilayah yang dihuni manusia pada akhirnya dapat meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa liar.

Karena itu, Rajiv menilai penanganan karhutla harus mencakup langkah mitigasi bagi satwa yang berhasil bertahan hidup. Pemerintah perlu memastikan keberadaan dan pergerakan satwa terdampak dapat dipantau sehingga proses penyelamatan maupun evakuasi dapat dilakukan secara tepat.

Dia juga mengingatkan bahwa pemulihan hutan pascakebakaran tidak dapat diselesaikan hanya melalui penanaman kembali pohon. Kerusakan ekosistem menyangkut rantai makanan dan berbagai fungsi ekologis yang membutuhkan waktu panjang untuk kembali terbentuk.

”Pemulihan ekosistem juga tidak cukup hanya dengan menanam kembali pepohonan, karena rantai makanan dan fungsi ekologis hutan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk terbentuk kembali,” ujarnya.

Atas kondisi tersebut, Rajiv mendorong pemerintah mengubah pola penanganan karhutla yang selama ini cenderung reaktif menjadi sistem pencegahan permanen dan berbasis risiko. Upaya tersebut, kata dia, harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kementerian terkait, aparat penegak hukum, pemegang konsesi, masyarakat adat hingga masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Menurut dia, karhutla harus dipandang sebagai krisis ekologis, bukan semata-mata persoalan pemadaman api. Pemerintah dinilai perlu membangun sistem komando terpadu agar informasi dan tindakan penanganan di lapangan dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.

“Setiap titik panas harus segera diverifikasi di lapangan, ditelusuri sumbernya, dan ditangani sebelum berubah menjadi kebakaran besar,” kata Rajiv.

Selain pencegahan kebakaran, dia meminta aspek perlindungan satwa dimasukkan dalam setiap rencana penanganan karhutla. Kawasan yang menjadi habitat penting satwa, termasuk yang berada di luar kawasan konservasi, menurut dia, tetap membutuhkan perlindungan.

Perlindungan tersebut dapat dilakukan melalui pembangunan koridor ekologis, penetapan areal preservasi serta kerja sama antara pemerintah, pemegang konsesi dan masyarakat sekitar hutan.

Rajiv juga meminta Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup memiliki protokol tanggap darurat khusus untuk satwa terdampak karhutla.

”Kemenhut dan Kementerian Lingkungan Hidup perlu memiliki protokol tanggap darurat satwa yang mencakup pemetaan kawasan perlindungan dan koridor satwa, tim penyelamatan dan pelayanan kesehatan satwa, penyediaan habitat sementara, pemantauan pascakebakaran,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, penanganan karhutla diharapkan tidak berhenti pada keberhasilan memadamkan api, tetapi juga memastikan ekosistem yang menjadi rumah bagi flora dan fauna Indonesia dapat dipertahankan dan dipulihkan, demikian politikus dari Partai NasDem tersebut. (Asim)