BERITABUANA.CO, JAKARTA – Sinergi PT Pertamina dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menghasilkan pembangunan pabrik bioetanol berkapasitas produksi 30 ribu kiloliter (KL) per tahun. Pabrik bahan bakar itu dibangun di kawasan Pabrik Gula Glenmore Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dimulai Juni mendatang, dengan perkiraan masa pengerjaan selama 24 bulan.
Dalam keterangannya seperti dikutip Ahad (8/2/2026), Direktur Transformasi dan Kelanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono mengatakan pabrik bioetanol tersebut diproyeksikan menghasilkan 30 ribu kiloliter bioetanol per tahun dengan bahan baku berbasis tebu.
“Ini transformasi produk sampingan gula menjadi energi bersih, dengan pabrik bioetanol terintegrasi di Banyuwangi, yang akan mendorong swasembada energi melalui perekonomian rakyat,” ujar Agung Wicaksono, di Banyuwangi, Sabtu.
Dengan kapasitas produksi tersebut, pabrik ini diproyeksi mampu mengurangi impor BBM hingga USD13,9 juta atau setara Rp233,52 miliar. Bagusnya lagi karena sekaligus dapat mengurangi emisi tahunan mencapai 66.000 ton CO2 ekuivalen.
“Ini akan menekan impor BBM dan menekan emisi karbon, melalui substitusi impor BBM senilai USD13,9 juta akan dicapai ketahanan energi, dan melalui pengurangan emisi karbon senilai 66 juta ton CO2 ekuivalen akan dicapai keberlanjutan lingkungan,” kata Agung.
Hasil produksi pabrik bioetanol ini nantinya akan dikirimkan ke Terminal BBM Pertamina, kemudian disalurkan ke pasar sebagai BBM melalui SPBU Pertamina.
Sebelum memasuki tahapan itu, Pertamina melalui 177 SPBU miliknya di Pulau Jawa telah menyalurkan produk BBM Pertamax Green 95, yang memiliki kandungan etanol 5 persen.
Melalui pabrik bioetanol di Banyuwangi ini akan diperluas wilayah implementasinya dan ditingkatkan kandungan etanolnya, sehingga akan seiring dengan negara-negara besar di dunia yang menggunakan etanol sebagai bahan bakar bersih.
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi memastikan ketersediaan bahan baku sangat mencukupi. Dari sisi feed-stock aman, kurang lebih untuk 100 KLP kan butuh sekitar 120 ribu ton dalam setahunnya.
“Kebetulan produksi molase dari PT SGN secara total hampir 700 ribu ton, saya kira cukup, nanti juga didukung dari 5 pabrik gula yang ada di sekitar,” katanya.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menambahkan pabrik bietanol di lahan seluas 10 hektare itu, bagian dari fase pertama program hPPpPPPPPpppppppppppppppppperilirisasi yang dijalankan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia.
“Bioetanol merupakan energi bersih yang lebih ramah lingkungan, dan pabrik ini akan berkontribusi pada pasokan energi bersih nasional,” katanya.
Selain itu, kata Ipuk, keberadaan pabrik ini akan memaksimalkan serapan tebu petani khususnya di kabupaten ujung timur Pulau Jawa itu.
“Tebu petani Banyuwangi dan daerah sekitar juga akan kian terserap maksimal, karena selain untuk kebutuhan produksi gula, juga untuk bahan baku bioetanol,” ujarnya. (Osc).







