Konsistensi dan Kesungguhan, Majunya Film

by -
H. Chand Parwez Servia

MENYUGUHKAN film Indonesia dari waktu ke waktu harus punya kesungguhan dan konsistensi untuk berbuat yang terbaik. Dan, itu harus dalam tindakan nyata.

“Cerita bagus dan kemasan digarap harus bagus juga. Konsekuensinya budget untuk produksi sekarang ini untuk memproduksi satu judul film sekitar enam miliar hingga lima belas miliar rupiah,” tutur Ir. H. Chand Parwez Servia, produser film dari Kharisma Star Vision Plus, kepada www.beritabuana.co.

Tapi, itu sesuatu yang harus dilakukan mengingat selera dan minat penonton terus berkembang. “Sekarang ini harus tema dan cerita film harus lebih dari ekpektasi penonton. Ada nilai lebih. Sehabis menonton ada kesan yang dibawa, dan membuka pandangan baru bagi penonton tentang suatu hal yang menjadi tema cerita film itu,” imbuh Parwez.

Beberapa dekade lalu, tema persahabatan yang diminati, seperti tergambar dalam film produksi Starvision : Jomblo dan Get Married. Tema persahabatan sudah old fashion. Sekarang film tema bernuansa interaksi antar keluarga yang diminati semisal Imperfect dan Dua Garis Biru masing-masing mencapai hampir tiga juta penonton.” Dinamika penonton itu harus dilihat dari berbagai aspek, sosiologi, misalnya. Kenapa film tema ini gagal dan yang itu berhasil. Nah, kemudian setelah berhasil dalam tema tertentu, film selanjutnya apa dan bagaimana? Kuncinya adalah meracik lokal konten dengan garapan universal. Kondisi ini membuat saya realitis jangan berharap bisa melawan apple to apple film Hollywood,” kata Parwez lagi.

Keberhasilan Yo Wis Ben dibuat dua judul film membuktikan bahwa konten lokal bisa diandalkan untuk menarik minat penonton. Untuk seri ketiga Yo Wis Ben, pengakuan Parwez akan mengambil lokasi dan cerita lokal kota Medan. Dua judul sebelumnya mengambil cerita lokal Malang, Jawa dan Bandung, Sunda.

Pada tahun 2020 ini, Starvision di bawah kendali Parwez, mempersiapkan produksi berbagai genre, namun tahun ini alpa untuk genre horor. “Ada drama keluarga, remaja, dan religi. Genre horor, belum ada rencana,” tegasnya.

Dalam perspektif Parwez, kesungguhan dan konsistensi dengan terus berupaya memproduksi film berkualitas, bukan untuk meraih keuntungan sesaat , tapi merupakan investasi.”Kalau deman dari penonton terpenuhi, dia pasti akan berminat menonton lagi. Apalagi sekarang ini dibarengi pertumbuhan layar bioskop hingga kabupaten dan kecamatan,ini kondisi yang baik, dan saya sebagai produser harus memberikan yang terbaik,” kata dia.

Seiring dengan pertumbuhan bioskop di berbagai kota, Parwez mengakui bioskop sekarang ini tidak semata mata tempat hiburan tetapi sudah menjadi civic centre. “Tempat berkumpul anggota masyarakat. Ada yang bicara soal kerjaan, keluarga sebelum menonton film. Dan, bioskop tersedia fasiltasnya berupa kafe,” jelasnya.

Karena bioskop sudah menjadi fasilitas umum, dia mengharapkan, pemerintah ikut urun rembug pembiayaan dalam pembangunan gedung bioskop. “Bentuknya apa,ya, dibicarakan dengan pengelola bioskop,” ungkap Parwez, yang berpengalaman sebagai pengusaha bioskop.

Dinamika masyarakat terus diikuti arusnya oleh produser film. Harus dibangun pemahaman juga di pemerintah, khsusunya di Lembaga Sensor Film (LSF). Kini, 17 nama sudah terpilih oleh Komisi I DPR RI dan kini sedang di bahas oleh Presiden. ” Saya berharap anggota LSF bisa memahami secara komprehensif dan utuh mengenai cerita film. Sehingga ada satu pemahaman bersama maksud dari cerita film itu. Pesan apa yang disampaikan,” kata Parwez. Meski menjadi salah satu anggota panitia seleksi calon anggota LSF, dia enggan mengomentari 17 nama calon anggota LSF itu. (KD)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *