Digerebek, Klinik Aborsi Malapraktik, Sudah Tangani 903 Pasien

by -
Kabid Humas PMJ Kombes Yusri Yunus

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Subdit III Sumdaling Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menangkap 3 tersangka pelaku aborsi. Pasien yang telah mendaftar konsultasi aborsi, di Paseban, Jakarta Pusat sebanyak 1.613 orang dan pasien yang melakukan aborsi sebanyak 903 orang.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan, 3 tersangka yang ditangkap dengan peran masing-masing. Tersangka MM alias dokter A (46) pelaku aborsi terhadap pasiennya di klinik Paseban. Dua orang lain, Bidan berinisial RM, S alias I bagian adimin.

“Klinik aborsi tersebut tidak memiliki izin dari instansi terkait untuk melakukan kegiatan aborsi, tidak memiliki izin melakukan kegiatan praktek kedokteran, dan tidak memiliki izin untuk melakukan kegiatan kesehatan lainnya (apalagi aborsi),” terang Yusri di lokasi klinik Paseban Jakarta Pusat, Jumat (14/2/2020).

MM alias dokter A pernah dipecat sebagai PNS karena tidak masuk kerja secara terus-menerus dan terlibat perkara tindak pidana perdagangan orang dan atau prosedur pengangkatan anak yang salah ditangani oleh Polres Bekasi, dan pernah ditahan selama 3 bulan (Tahun 2012).

Lalu pada tahun 2016, MM alias dokter A menjadi DPO pengungkapan perkara Aborsi oleh Subdit 3 Sumdaling dengan TKP Klinik Cimandiri, Jakarta Pusat.

“Sejak bulan Mei 2018 sampai sekarang membuka usaha praktek klinik aborsi (tanpa nama) beralamat di Jl. Paseban Raya Nomor 61 RT 002/007 Kel. Paseban Kec. Senen, Jakarta Pusat (sebagai penanggung jawab),” ucap Yusri.

Kemudian tersangka kedua RM (54) merupakan lulusan Sekolah Perawat Kesehatan di Sumatera Utara, yang merupakan mitra kerja tersangka MM alias dokter A, berperan sebagai salah satu bidan yang melakukan eksekusi aborsi di Klinik Aborsi Paseban.

“RM melakukan penawaran aborsi melalui di website. Dalam website milik RM tersebut dijelaskan bahwa Klinik Namora beralamat di Jl. Salemba Raya Senen Jakarta Pusat, merupakan klinik aborsi legal di Jakarta yang ditangani langsung oleh Dokter Spesialis Kandungan,” ujarnya.

Selanjutnya tersangka ketiga, S alias I (42) merupakan karyawan dokter A, Tahun 2013 s/d 2016 bekerja di Klinik Aborsi Cimandiri Raden Saleh Jakarta Pusat. Dan pada tahun 2016 pernah tertangkap dan ditahan oleh Subdit 3 Sumdaling Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya dengan vonis Hakim berupa hukuman penjara selama 2 tahun di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

“Pada bulan Januari 2019 sampai sekarang bekerja di Klinik Aborsi Paseban Senen Jakarta Pusat sebagai admistrasi dan menerima pendaftaran pasien yang dibawa para bidan dan calo, melakukan pencatatan bagi pasien yang USG dan aborsi, dengan gaji Rp 3,5 juta perbulan,” tuturnya.

Klinik Aborsi Paseban dalam 1 hari bisa melakukan aborsi sebanyak 5 -10 pasien. Biaya aborsi janin 1 bulan dikenakan biaya Rp 1 juta, janin 2 bulan tarif Rp 2 juta dan janin 3 bulan dikenakan tarif Rp 3 juta.

“Perhitungan keuntungan klinik aborsi selama 21 bulan (1 tahun 9 bulan) mulai bulan Mei 2018 sampai Februari 2020 sebesar Rp 5,4 miliar,” jelasnya.

Para tersangka dikenakan pasal berlapis, Pasal 83 Jo Pasal 64 UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dan/atau Pasal 75 ayat (1), Pasal 76, Pasal 77, Pasal 78 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan/atau Pasal 194 Jo Pasal 75 ayat (2) UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Jo Pasal 55, 56 KUHP. Pasal 194 Jo Pasal 75 ayat (2) UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. (Min/CS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *