Tak Bisa Melindungi Anak-Anak eks ISIS, Ini Alasan LPSK

by -
Kantor LPSK.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu menyatakan secara hukum anak dan istri pengikut Islamic State of Iraq and Suriah/ISIS eks warga negara Indonesia (WNI), bukanlah korban.

“Anak dan istri eks ISIS pun tak dapat disebut korban meski diajak oleh ayah dan suami mereka bergabung dengan ISIS. Ya secara hukum positifnya, kategori korban buat mereka tidak ada,” katanya.

Penyataan ini disampaikan Edwin menanggapi keputusan pemerintah Indonesia yang masih mempertimbangkan kemungkinan memulangkan anak-anak berusia di bawah 10 tahun, eks WNI.

Melanjutkan pernyataannya, Edwin menegaskan bahwa korban hanya dapat diperoleh apabila menjadi korban tindak pidana. Sementara dalam konteks persoalan ISIS tidak diketahui pelaku tindak pidananya.

“Ya kalau dalam konteks pendekatan hukum pidana, kategori korban itu hanya bisa diperoleh apabila mereka jadi korban tindak pidana. Sedangkan dalam sosiologis, segala macam mungkin saja ada tafsiran berbeda,” katanya.

Tapi, dalam konteks pidana, korban dan pelaku itu adalah dua hal yang berbeda. Kalau dia jadi korban, harus ada pelakunya.

“Kalau mereka yang bergabung dengan ISIS ini disebut dengan korban, terus pelakunya siapa?” kata dia.

Oleh karena itu, Edwin mengatakan, LPSK tidak dapat melindungi para anak dan istri eks ISIS. Dikatakan bahwa LPSK hanya dapat melindungi korban tindak pidana dan harus melalui proses hukum.

“Persoalan eks ISIS harus dilihat secara kasus per kasus. Perlu dikaji alasan seseorang bergabung dengan ISIS, apakah karena secara sukarela ingin bergabung menjadi warga ISIS, tergiur ekonomi atau hanya sekadar ikut-ikutan. Demikian pula penanganan terhadap mereka, perlu dilihat secara kasus per kasus,” ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD sebelumnya mengatakan pemerintah telah memutuskan WNI yang diduga teroris lintas negara sudah bukan lagi berkewarganegaraan Indonesia.

Mahfud mengatakan, eks ISIS itu telah menyatakan penolakan menjadi warga negara Indonesia dengan sejumlah langkah. Mulai dari membakar paspor, tak mengakui kewarganegaraan, hingga mengancam dan menantang negara asalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *