Pemilihan Anggota Lembaga Sensor Film Tidak Transparan

by -

PEMILIHAN anggota Lembaga Sensor Film ( LSF) untuk masa jabatan 2019-2023 dipertanyakan oleh sebagian peserta karena tidak transparansi. Hal itu dikatakan oleh dua peserta Adisurya Abdi dan Rully Sofyan.

“Apa yang jadi bahan pertimbangan seseorang tidak lolos seleksi. Dan, tidak ada kabar berita kenapa tidak lolos,” ujar Adisurya Abdi, sutradara dan produser film kepada wartawan di Jakarta.

Adisurya Abdi memaparkan
Panitia Seleksi (Pansel) telah merekomendasi 34 anggota LSF diserahkan kepada Kemendikbud, yang kemudian akan diajukan ke Komisi I DPR RI, untuk dilakukan semacam fit and propertest. Dari 34 nama itu kemudian dipilih 17 nama diajukan kepada presiden untuk ditetapkan sebagai anggota LSF.

“Tapi, dasarnya apa lolos dan tidak lolos seleksi, kan gak jelas,” kata Adisurya Abdi. Kami tidak tahu. Karena setelah kami mendaftar menjadi peserta tidak ada pemberitahuan lolos tidak lolosnya. Hanya dengar dengar saja dari teman teman. Apalagi alasan kenapa kami tidak lolos, enggak ada peserta yang diberitahu,” ujar Adisurya Abdi, yang menjelaskan dirinya sudah berkecimpung di dunia film lebih kurang 40 tahun di bidang perfilman.

“Apa kurangnya pengetahuan saya di perfilman nasional. Posisi di perfilman Indonesia sudah saya alami, kecuali di lembaga sensor,” imbuh Adi.

Rully Sofyan, dari Asosiasi Rekaman Video Indonesia (Asirevi), yang juga aktif dalam berbagai bidang perfilman. Terheran heran dengan tidak transparannya pemilihan anggota LSF.

“Saya ini juga kan pengacara beberapa teman peserta lainnya mengadu ke saya hal yang sama. Ada apa ini? Maka, jangan disalahkan bila ada yang mengira bahwa pemilihan anggota LSF yang akan diajukan ke Komisi I DPR RI itu diduga ada praktek kongkalikong atau siapa yang menitipkan siapa. Tidak salah dong, kalau ada yang menduga seperti itu,” kata Rully Sofyan.

Dalam hal mempertanyakan transparansi pemilihan anggota LSF ini, Rully Sofyan, tidak hanya diam. Dia dan kawan- kawan sudah mendatangi lembaga terkait.

“Saya sudah tanyakan kepada teman teman Pansel, ke Kemendikbud, dan Komisi I DPR RI. Tapi, jawabannya tidak ada yang memuaskan. Saya dan teman- teman sekarang ini berharap kepada Presiden Joko Widodo, sebelum menandatangani nama- nama anggota LSF mohon dikoreksi lagi,” kata Rully.

Adisurya Abdi dan Rully Sofyan mengkoreksi proses dan prosedur pemilihan ini adalah bagian dari demokrasi.

“Kami tidak terpilih bukan masalah besar, tapi harus dengan cara cara yang benar. Bukan gelap gelapan begini. Hak saya untuk tahu kenapa ada yang lolos seleksi ada yang tidak,” tegas Adi.

Hal itu diamini oleh Rully Sofyan, agar ditinjau lagi 34 orang yang akan diajukan ke Komisi I DPR RI. “Dari mana, apa latar belakang pendidikannya. Dan, terpenting sejauh mana dia itu tahu tentang perfilman Indonesia, khususnya pemahamannya tentang kerja sensor,” demikian Rully Sofyan dengan nada tegas. (KD)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *