Goa Putih Gunung Walat Miliki SDA Terestrial Dan Akuatik, Mistisnya: Penampakan Ratu Leunterputih

by -
Ketua Tim Sabaleuweung, Kang Ali tengah tirakat di Goa Putih Gunung Walat Cisaat

GOA Putih yang dulunya disebut Goa Peureuh, berada di kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Cisaat, Sukabumi. Menurut petugas HPGW Cisaat, Goa Putih mempunyai potensi sumberdaya alam (SDA) hayati berupa terestrial dan akuatik baik di dalam maupun di luar goa. Selain itu juga memilik sumberdaya non hayati berupa ornamen goa yang menarik.

Disisi lain, Goa Putih mempunyai zona terang yakni masih adanya cahaya yang masuk — zona peralihan merupakan zona perbatasan antara terang dan gelap.

“Dan terakhir zona gelap, merupakan zona sama sekali gelap dan berlorong yang sempit,” terang Asep petugas HPGW Cisaat.

Keunikan lainnya, juga mempunyai stalgmite dan stalactite yang memancarkan kristal-kristal dan mengeluarkan tetesan air.

“Ada yang unik pada stalagmite, benuknya ada yang mirip jambu air raksasa,” cetus Dedi petugas HPGW lainnya.

Dijelaskannya, di dalam Goa Putih ada beberapa ruangan, ruang pertama biasanya dipergunakan untuk kegiatan spiritual oleh orang-orang tertentu menaruh sesajen berupa dupa, bunga tujuh rupa dan telur ayam kampung.

Ruang kedua, kosong hanya ada sisa-sisa bekas sarang dan kotoran kelelawar. Ruang ke tiga yang merupakan ruang paling besar.

“Konon ruang ini digunakan rapat di zaman kerajaan tempo dulu,” katanya.

Goa ada beberapa sodong (celah ruangan) dan ada sendang (jenis kolam), aura mistisnya sangat kuat

PENAMPAKKAN SKETSA RATU

Pegiat budaya kabuyutan dan pecinta alam, Kang Ali menyampaikan bersama Tim Sabaleuweung yang dipimpinnya, sempat beberapa kali menelusuri Goa Putih di Gunung Walat Cisaat Sukabumi.

Menurut Kang Ali, trek menulusuri dinilai cukup berat pasalnya, harus melewati jalan sangat sempit, merangkak dan melenturkan badan untuk bisa masuk lorong batu cadas.

“Di dalam Goa ada beberapa sodong (celah ruangan) dan ada sendang (jenis kolam), aura mistisnya sangat kuat,” imbuh Kang Ali dikediamannya sembari mengisahkan perjalanan mistisnya.

Kang Ali bersama Tim Sabaleuweung berusaha komunikasi dengan makhluk penunggu Gua Putih di sodong ruangan ke tiga.

“Saat meditasi, tak lama terdengar desis suara ular, kemudian tercium wewangian dan diiringi auman harimau,” ujar Kang Ali.

Pada perjalanan di alam gaib, datang sosok wanita mirip seorang ratu, dan mengaku bernama ibu Ratu Leunter putih, salah seorang wakil dari ratu sagara (ibu Ratu Kidul), dia berpesan dengan bahasa sunda kuno.

“Nuhun anjeun ges nguruskeun dulur-dulur kaula di pagunungan, Jeung sakur rawayan nu dibawa kusia ka eta tempat jeung kadieu teumpat,eta rawayan kami. Arurus ku sia kabeh bejakeun samemeh leungit dipang deuleuan sia,” Kenang Kang Ali menyampaikan pesan gaibnya dari ibu Ratu Leunter Putih.

Menurut pengakuan Kang Ali, tiba-tiba seekor ular mendekati. Namun, setelah melek dari meditasi sebuah tongkat hitam bermotifkan ular naga melayang dan jatuh di sela-sela stalagmite yang berada di samping belakangnya.

Sementara rekan satu tim Sabaleuweung melihat penampakan seorang wanita memakai kostum kerajaan laksana ratu, berdiri seolah menyender pada stalagtite dengan posisi di belakang Kang Ali. Dan bayangan putih meliuk di samping Kang Ali.

“Adanya penampakan tak kasat mata,. momen itu langsung dijepret kamera HP. Hasilnya, di batu stalactite berupa sketsa wajah wanita memakai mahkota, dan asap putih meliuk mirip ular”pungkas rekan satu tim dari Sabaleuweung. (Yan Sulivantara)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *