Ada Penampakan Harimau Putih Di Area Kabuyutan Blok 17 Arca Cidaweung

by -
Benda yang diduga dari peradaban nenek moyang berupa Kapak batu, Tarupah (terompet perang) yang terbuat dari Cula banteng bermotif gambar buaya, belahan batu cobek, patung mini dan batu dupa. Benda-benda tersebut ditemukan di area Blok 17 Arca Cidaweung Desa Batulawang-Cipanas
Lokasi terdapatnya penampakan harimau puti

KOMPLEK pemakaman kuno yang berada di blok 17 Kedusunan Cidaweung, Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas — Dikenal sangar angker. Angkernya, karena ditempat itu diduga  ada peradaban nenek moyang.

Di situ kita bisa menemukan benda-benda klasik seperti mirip batu dakon, arca mini setinggi 10 sentimeter, kapak batu, pecahan batu cobek, tarupah, atau sejenis terompet genderang perang yang terbuat dari tanduk (Cula) banteng.

Benda-benda itu ditemukan di area komplek pemakaman kuno, dalam keadaan — ada yang tertimbun, dan tertutup semak belukar.

Dikabarkan bahwa benda-benda tersebut, masing-masing ditemukan dalam kurun waktu yang berbeda, dan massa berbeda pula.

Ali, salah seorang pegiat pecinta alam dan budaya dari tim Green Circle Cipanas, belum lama ini dikediamannya, mengungkapkan, dikawasan itu terdapat  bebatuan pipih berdiri menancap yang diduga pemakaman kuno, mirip kubur batu atau patilasan leluhur.

Ali pun kemudian menceritakan pengalaman mistisnya dilokasi tersebut. Jadi jika menyimak, sangat tidak heran bahwa dikawasan itu, mengandung energi metafisika yang sangat kuat. Ditandai dengan setiap kali bertandang selalu terciumnya semilir wewangian, dan diikuti kejadian yang tak masuk akal.

Diantara kejadian aneh disaat akan memulai pekerjaan menghalau semak belukar di blok 17, selalu didatangi sepasang burung gagak hitam mengitari lokasi yang akan digarap.

“Ketika  burung itu berlalu, terbang entah kemana. Tiba-tiba muncul suara-suara aneh terdengar tak karuan,” kata Ali.

Di sisi lain, masih cerita Ali, pada waktu bersamaan, di sebuah batu yang menancap mirip nisan, terlihat penampakan sketsa wajah manusia.

Kejadian ganjil yang paling seram,  dan membuat bulu kuduk ‘memuncak’, di saat siang bolong, secara tiba-tiba kabut  mengepung hingga menyelimuti. Penglihatan kabur, pekerjaan pun dihentikan, beberapa saat.

Namun, di saat gumpalan kabut berlalu, pada sudut pandang sejauh sekitar 20 meter dari area pekerjaan,  tampak bayangan putih mirip  wujud harimau putih tengah ngadepong (Jongkok).

“Kami pasrahkan diri kepada Tuhan dan merapatkan diri dengan kesigapan. Beruntung wujud harimau putih itu sepertinya hewan keramat maka kami abaikan tapi tetap waspada,” pungkas Ali.

Terkait penampakan gaib di blok 17 keangkerannya, juga diakui sejumlah warga di sana. Mereka percaya kawasan itu tempat bersemayamnya makhluk gaib.

Menurut salah seorang warga Kp.Arca Desa Sukawangi, Kecamatan Sukamakmur, Kab. Bogor, kawasan Blok 17 menurut orangtua terdahulu disebut hutan larangan yang dijaga makhluk halus.

“Penampakan makhluk halus seringkali berwujud harimau atau makhluk menyeramkan,” imbuh Udin (58), sembari mengarit rumput di tepi Jalan Arca.

Demikian juga di pasir (bukit) Cidaweung, penampakan makhluk gaib tak sedikit orang melihatnya. Seringkali muncul bayangan hitam mirip wanita tengah di batu “ngadaweung” (duduk santai seraya melamun), kadangkala berpindah-pindah.

Muncul, biasanya menjelang atau setelah maghrib,” imbuh Udin menafsirkan.

Disisi lain, Udin menyampaikan juga sekelumit cerita turun temurun dari kakeknya, tentang legenda kawasan Arca.

“Di sekitar tahun 80-an di daerah itu masih terdapat sebuah arca kecil, namun keberadaannya kini sudah tidak ada. Entah kemana,” jelas Udin.

Konon, keberadaan Arca itu menunjukan bersemayamnya kabuyutan zaman Galuh-Pakuan. Disaat zaman Pajajaran diambang keruntuhan, sebagian keluarga keraton, prajurit dan rakyatnya hijrah dari Pakuan menuju Gunung Gede.

Dikisahkan, rombongan itu di
bawah pimpinan Patih Ambang Waringin, rombongan berangsur hijrah secara estapet dan ditempatkan di daerah blok 17. Di situlah  dijadikan Pasanggrahan, tempat menunggu rombongan lain yang menyusul.

“Pakaian maupun perlengkapan perang, dikubur di area blok 17.Tapi ada keluarga keraton yang tidak mau hilang tanpa krana,” pungkas Udin. (Yan Sulivantara)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *