Lenong Betawi Butuh Lompatan dan Jangan Asyik Sendiri

by -

JAKARTA, BERITABUANA.CO– Banyak seniman dan tokoh saat ini prihatin khawatir terhadap perkembangan teater rakyat Betawi, seperti lenong. Beberapa puluh tahun lalu seni pertunjukan ini tidak hanya tampil pada “keriyaan” masyarakat, tapi juga muncul dalam layar televisi. Kini kondisinya memang banyak berubah. Karena itu sebagian kalangan berusaha menghidupkan kembali seni pertunjukan tradisi ini.

“Saat ini cerita hanya ramai soal begal dan rampok. Alhamdulillah dulu ada bang Yamin, menjadi catatan penting ini menjadi penulis cerita Betawi,” kata Nendra WD, seorang seniman Betawi, dalam diskusi mengenang Yamin Azhari dengan tema ‘Mengembalikan Teater Rakyat Betawi agar Tak Asyik Sendiri’ di Selasar Graha Bhakti Budaya di TIM, Jakarta, Jumat (10/1). Yamin Azhari sendiri wafat akhir November 2020  lalu.

Untuk itu upaya melestarikan kesenian Betawi terus digaungkan. Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Teater Pangkeng, Komunitas Baca Betawi dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) ini, Nendra mengungkapkan seni pertunjukan teater di Jakarta telah berkembang sejak awal abad ke-19. Seperti lenong yang telah berkembang sejak 1960-an. Sejarah mencatat, sejak 1969-1988 berkali-kali diadakan pertunjukan lenong di TIM oleh sutradara SM Ardan, Achmad MS, Sumantri Sastrosuwondo, Firman Muntaco dan lain-lain. “Bang Yamin itu juga di antaranya Ondel-Ondel Bengek dan Hantu Kerak Telor. Beliau itu yang menuliskan,” ujar Nendra.

Peneliti kebudayaan Betawi DR Syaiful Amri menambahkan, butuh peran serta seluruh elemen untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan. Di antaranya Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) dan para pemangku kepentingan terkait. Masyarakat juga tak melulu hanya menuntut kehadiran atau konsistensi seniman dalam menggelar pertunjukan. “Semuanya harus turun. Pemerintah harus bisa memfasilitasi, seniman juga ayo, dan masyarakat juga. Jangan teriak jaga tradisi tapi sudah ditampilkan nontonnya nggak mau,” imbuh Syaiful Amri.

Sementara itu budayawan sekaligus peneliti dan pemerhati kesenian terutama seni pertunjukan, Julianti Parani, mengatakan dalam berkesenian ada kalanya butuh lompatan-lompatan, namun tetap kuat dalam menarik esensinya. Kenyataannya, seringkali pelaku seni juga belum bisa menarik esensi dari seni itu sendiri. Seperti seni pertunjukan lenong.  “Jangan asyik sendiri itu falsafah tinggi. Tapi kemajuan tidak bisa dielak. Yang penting itu sebenarnya kan masing-masing bisa menarik esensi. Jadi sampai yang nonton bisa paham oh di sini ada lenongnya,” kata Julianti.  Lebih jauh Julianti menuturkan, Jakarta sendiri seperti kehilangan marwahnya dalam hal melahirkan atau melestarikan kesenian Betawi.

Ia memberi contoh berdirinya Institut Kesenian Jakarta (IKJ) malah seolah-olah tidak ikut ambil peran dalam pengembangan budaya Betawi. Buktinya, kata dia, tidak ada mata kuliah lenong. Padahal lenong lekat dan menjadi esensi dalam memahami Jakarta. “Kaya di IKJ tapi tuh esensinya enggak ada Jakartanya. Ada nggak latihan buat lenong, atau gambang kromongnya. Ada enggak latihan atau sekolahnya. Lenong ini warisan ini harus dijaga,”  tambahnya. (syd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *