Misteri Wisata Ziarah “Situs Batu Keraton” Di Puncak-Cisarua

Batu Keraton dan Dolmen
Sopiyan Jupel Situs Batu Keraton dan Makam Pangeran Eyang Dita Ciptarasa Manggun Negara

BERITABUANA.CO, BOGOR – Puncak Bogor merupakan destinasi wisata yang difavoritkan tua muda dari Jabodetabek. Mereka berbondong berkunjung untuk menghirup udara segar, menikmati pemandangan alam dan tujuan lainnya. Ada juga pengunjung ke Puncak untuk berwisata ziarah, salah satunya ke Situs Batu Keraton yang terletak di Kp.Ciburial, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor-Jawa Barat.

Wisata ziarah dimaksud, arahnya dari jalan raya Puncak ke lokasi sekitar 2Km. Warga setempat, umumnya pada tahu dan bakal mengarahkan ke rumah Sopiyan seorang Juru Pelihara (Jupel) ke-5 Situs Batu Kraton.

Saat ditemui www.beritabuana.co, Jupel Sopiyan menyampaikan,  bahwa obyek wisata ini ditemukan oleh Buyutnya samasa area komplek situs masih dalam kawasan perkebunan Teh Cibulan, yang diselimuti kabut tebal.

Diceritakannya, menurut cerita orang tua, waktu itu, bongkahan batu besar berdiameter 50 meter dan tinggi 5 meter terlihat jelas diantara kabut tebal. Sesekali disaat angin menghembuskan kabut, batu itu seperti melayang di angkasa. Dan, di atas batu besar terdapat batu seperti menhir. Warga setempat menyebutnya Batutumpang.

“Semenjak Batutumpang ditemukan Buyut, sampai saat sekarang posisinya tidak berubah.” imbuh Sopiyan sembari menyampaikan dongeng dari orang tuanya.

Konon, katanya, setelah peninjauan Batutumpang, Buyut yang selalu istikhoroh, ketika tidur bermimpi bertandang kembali ke batu besar.

Dalam mimpinya, dia melihat seorang kakek berjubah putih tengah solat di atas Batutumpang. Penglihatan Buyut, batu besar itu seperti sebuah bangunan bergaya keraton.

“Mungking itu asal usul disebut Batu Keraton,” tandas Sopiyan sembari melanjutkan dongengnya.

Kakek berjubah putih mengaku Pangeran Dita Ciptarasa Mangunnegara bin Sultan Abdul Wali Akhmad, saudara Sultan Ageng Tirtayasa dari kesultanan Banten.

“Eyang Dita Ciptarasa Mangunnegara, adik Sultan Ageng Tirtayasa, di Banten dikenal dengan Nama Eyang Ditakusumah atau Ditanegara”. Katanya.

Kata Sopiyan, di komplek itu terdapat batu menhir yang berada di atas Batu Keraton dan batu dolmen dibawah batu besar sebelah barat, juga ada patilasan Rd. Gunawijaya, namun kesemuanya tidak tahu asal usulnya.

“Adanya Menhir dan dolmen dekat Batu Keraton diperkirakan sudah ada sebelum kedatangan Eyang Dita Ciptarasa. Menhir dengan ukuran yang relatif sama terdapat juga di Curug Cisuren dan di Kp.Parigi Kareo.”ujar Sopiyan menduga.

Dan, sebelah utara di bawah Batu Keraton, kata orangtua, terdapat Gua yang menerobos ke dalam batu namun saat sekarang keberadaan Gua sudah tiada, tertimbun tanah dengan sendirinya. Di mulut Gua itu patilasan Eyang Rd. Gunawijaya berada.

Saat ditanya soal adanya kabar situs Batu Keraton tempo dulu sempat dikunjungi presiden RI ke -1. Jupel Sopiyan serasa berat menjawabnya, karena takut dianggap fitnah.

Namun menurut orangtua terdahulu sempat mendongengkan, setiap ada makam/patilasan para solihin di suatu daerah termasuk Situs Batu Keraton, Bung Karno selalu menyempatkan untuk berkunjung sebagai tanda hormat kepada leluhur.

“Konon katanya, Bung Karno pernah bertapa di dalam gua patilasan Eyang Gunawijaya dan mendapatkan tiga buah barang pusaka, antara lain; Nagasastra, Karembong Cindewulung dan Sabuk Inteun”kenang Sopiyan menyampaikan dongeng orangtua dulu.

Singkat cerita, komplek situs ini sudah tercatat di Dinas Cagarbudaya Kabupaten Bogor. Demikian juga wacana pihak desa Tugu Utara yang berencana untuk dijadikan obyek Wisata Ziarah.

“Kedepannya tempat parkir dan fasilitas umum yang dikeluhkan pengunjung, rencananya akan diwujudkan pembangunannya” pungkas Sopiyan.

Sementara, dari sumber-sumber mitos lain yang dihimpun, menyampaikan, konon katanya ketika menjelang keruntuhan Pajajaran, sebagian prajurit yang mengabdi ke Prabu Siliwangi ikut melaksanakan sidamokta menuju alam setelah kehidupan di dunia.

Seperangkat pakaian dan perlengkapan perang dikubur di sebuah lobang dan ditutupi batu besar dari Ciliwung, yang dilemparkan oleh seorang patih berilmu tinggi. Dan Rd. Gunawijaya salah seorang kepercayaan patih ditugaskan untuk menjaganya. (Yan Sulivantara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here