Kabareskrim Listyo Sigit Prabowo, Sarat Pengalaman Jadi Ajudan Presiden

Irjen Pol Listyo Sigit saat ini diangkat jadi Kabareskrim dengan pangkat Komjen atau menyandang bintang tiga

TEKA-TEKI siapa bakal menjabat Kabareskrim Polri menggantikan Kapolri Jenderal Idham Azis akhirnya terjawab sudah. Sidang Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi (Wanjakti) yang juga dihadiri Kapolri, kemarin (6/12/2019) telah menetapkan lrjen Pol Listyo Sigit Prabowo, menjabat Kabareskrim.

Pengangkatan Listyo Sigit, yang sebelumnya menjabat Kadiv Propam Polri sudah sesuai prediksi sebelumnya. Walaupun sempat ada polemik di masyarakat termasuk di internal Polri sendiri tentang pencalonannya, tapi buktinya Sigit, begitu dia dipanggil toh akhirnya dipilih Kapolri Jenderal Idham Azis memimpin Bareskrim.

Memang, diakui jabatan Kabareskrim sangat strategis dan mempunyai prestise yang tinggi di Polri. Sebab itu, siapa yang bakal menjabat Kabareskrim selalu menjadi perhatian publik. Tarik menarik kepentingan politik ikut mewarnai pencalonan Kabareskrim, sehingga membuat isu soal Kabareskrim menjadi pembicaraan publik dalam sebulan terakhir.

Siapa sebenarnya Listyo Sigit Prabowo? Perwira tinggi Polri yang lahir tahun 1969 ini lulusan Akpol 1991 yang dikenal dalam keluarga Batalyon Bhara Daksa. Ia meniti karier di kepolisian dan pernah bertugas di wilayah Polda Metro Jaya sebagai Kapolsek Tambora dan Kasat Intel Polres Jakarta Barat.

Usai mengikuti Sespimmen Sigit, kembali ke Polda Metro Jaya dan bertugas di Biro SDM. Beberapa tahun kemudian, Sigit memimpin Polresta Solo dengan pangkat kombes. Rupanya, disinilah Sigit mengenal Ir Joko Widodo yang saat itu menjadi Walikota Solo. Keakraban ini terus berlanjut sampai Joko Widodo terpilih sebagai Presiden RI tahun 2014.

Mungkin chemistri yang sudah terbangun sangat baik ini membuat Joko Widodo, meminta Polri untuk menunjuk Kombes Listyo Sigit, yang saat itu menjabat Direktur Kriminal Umum Polda Sulawesi Tenggara menjadi salah satu ajudan presiden, di samping dari TNI AD, AL dan AU.

Menjadi ajudan presiden memang bukan perkara muda, karena tugasnya sangat kompleks. Sebab itu, di kalangan Polri dan TNI sendiri, mereka yang menjadi ajudan mempunyai privilege saat mau dipromosi ke pangkat dan jabatan berikutnya. Tugas ajudan Presiden ini dijadikan “sekolah” non formal, sehingga mereka yang pernah menjadi ajudan Presiden pastilah sarat pengalaman dan pengetahuan, apalagi ketika Presiden harus berangkat ke luar negeri baik kunjungan kenegaraan atau sekedar mengikuti sidang atau KTT.

Listyo Sigit yang selama 2,5 tahun menjadi ajudan pasti banyak mendapatkan pengalaman yang berharga. Patut dicatat, mantan Kapolri Jenderal Sutanto dan Jenderal Sutarman, pernah menjadi ajudan presiden. Sutanto, ajudan terakhir Presiden Soeharto sedangkan, Sutarman, menjadi satu-satunya ajudan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Penunjukkan Listyo Sigit Prabowo, sebagai Kabareskrim, tentu tidak serta merta karena kedekatannya dengan Presiden Joko Widodo, tapi ini didasarkan pada kemampuan, kapasitas dan integritasnya selama ini sebagai Perwira Tinggi Polri. Terbukti, ketika Sigit baru memimpin Polda Banten, ia mendapat penolakan dari ulama di Banten, karena beragama nasrani.

Dihadapkan pada situasi seperti ini, Sigit tak mau menyerah begitu saja, ia segera melakukan pendekatan-pendekatan informal ke berbagai pihak terutama para pemangku kepentingan di Banten. Hasilnya, Sigit diterima para ulama untuk memimpin Polda Banten lebih setahun lamanya.

Di internal Polri sendiri, setelah penunjukkan Listyo Sigit sebagai Kabareskrim, pasti sudah tidak ada gejolak, karena jarak angkatan antara pergantian Kabareskrim Ari Dono (Akpol 1985) ke Idham Azis (1988) jaraknya tiga tahun. Jadi kalau dibandingkan dengan Kabareskrim Idham Azis ke Kabareskrim Listyo Sigit Prabowo (1991) juga terpaut tiga tahun. Jadi pendapat sejumlah pengamat Sigit terlalu yunior itu terbantahkan.

Kabareskrim Listyo Sigit Prabowo, jika sudah dilantik, telah menorehkan era baru estafet kepemimpinan Polri ke angkatan 90 ke atas. Sebelumnya Ketua KPK terpilih Komjen Firli Bahuri (1990) menjadi bintang tiga pertama. Sedangkan Sigit yang sebelumnya memecahkan rekor bintang dua pertama di angkatan 91, kini juga memecahkan rekor ke dua kalinya sebagai pati bintang tiga. Di Akpol 1991, prestasi kedua bintang 2 diraih Irjen Pol Mohammad lqbal, Kadiv Humas Polri kemudian disusul terakhir Irjen Fadil Imran, Sahli Jemen Kapolri.

Batalyon Bhara Daksa yang berjumlah 200 lebih anggota, kini sudah lebih dua puluh anggotanya meraih bintang satu. Bahka, ada dua di antaranya memimpin Polda, yaitu Kapolda Gorontalo, Brigjen Pol Wahyu Widada dan Kapolda Sultra Brigjen Pol Merdisyam. (nico)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here